Senin, 02 Februari 2026

SASTRA INTERNASIONAL :Peluncuran Buku Kumpulan 45 Puisi “Keagungan Kota Suci” Karya Halimah Munawir di Kairo , akan Makin Memperkuat Harmonisasi antara Pemerintah Indonesia dan Mesir

KAIRO,MESIR, Sebagai anak bangsa, launching (peluncuran) buku kumpulan 45 puisi berjudul ” Keagungan Kota Suci ” karya Penyair, Novelis, dan Sastrawan (dari Indonesia-red)  Halimah Munawir  di Kairo, Mesir,  juga akan  makin memperkuat harmonisasi antara pemerintah Indonesia dan Mesir yang sudah terjalin sejak presiden pertama  Ir.Soekarno.

“Karena menurut saya diplomasi bukan hanya dapat dilakukan melalui politik, melainkan juga melalui jalur budaya dan sastra,” kata Halimah Munawir kepada wartawan di Jakarta , Senin (2/2/2026) usai peluncuran (launching) buku puisinya berjudul “Keagungan Kota Suci” yang telah berlangsung pada Kamis lalu (29/1/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Wisma Nusantara Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) di Mesir.

Buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci” karya Penyair dan Sastrawan Perempuan Indonesia Halimah Munawir lahir bukan sekedar sebagai karya sastra, melainkan sebuah kado self-appreciation di usia ke-62 tahun.

"Ini adalah manifestasi syukur dan perayaan atas perjalanan hidup yang panjang.Sebuah pengakuan cinta pada diri sendiri, di tengah riuh rendah dunia saat ini,” katanya lagi.

Menurut Halimah Munawir buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci ” ini bukan sekedar judul.Ia lahir diantara rahim umat seluruh dunia.

Mungkin tanpa “keajaiban”-Nya, ia tidak terbang kesebuah negara “suhu para ilmu” , negara yang masih menjadi kiblat ilmu, negara yang masih menghargai sebuah buku sebagai barometer kecerdasan.

Hal mana terbukti ketika bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir Abdul Mutaiali, PHD berkunjung ke perpustakaan terbesar di Mesir, Alexandria yang terletak di dekat pelabuhan kuno Mesir.

Perpustakaan yang menampung hingga 8 juta buku, juga ada museum, planetarium dan pusat konferensi di atas bangunan 11 lantai ini dapat dikatakan menjadi salah satu pusat pengetahuan terbesar di dunia.

” Yang membuat saya terkagum kagum pada perpustakaan utama pusat budaya modern ini. Dan, sangat bersyukur, buku puisi ‘ Keagungan Kota Suci’ serta beberapa novel saya dapat di terima untuk menjadi bagian dari koleksi perpustakaan bergengsi ini,” ujarnya.

Dalam Empat Bahasa

Pada peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci ” -diterbitkan oleh penerbit Mesir Dar El Sholeh memuat 45 puisi- dalam 4 bahasa yakni Sunda, Indonesia, Inggris dan Arab ini, ikut memberikan kata sambutan yaitu Abdul Muta’ali MA,MIP,Phd, nara sumber DR.(HC) Halimah Munawir (sebagai penulis-red), serta nara sumber A.Satriawan Hariaadi Lc,MA.

Buku kumpulan puisi ini juga adalah pertemuan antara ayat-ayat suci dan debu jalanan kehidupan.Penulis tidak lari dari kenyataan namun merespon realitas manusia menggunakan Kompas Al-Qur’an.

Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial.

Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin), periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).

Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).
Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” sebagai kado apresiasi diri.

Bedah buku “Keagungan Kota Suci” juga menyelami puisi religi antara Al-Qur’an dan Empiris Sosial sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.

Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur’an menjadi sumber ‘bahasa langit’ dan pedoman arah yang tak terbantahkan,

2) Bumi (Empiris Sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar,

3) Insight, karya ini bersifat responsif menolak menjadi ‘air tenang’ yang menghanyutkan, puisi-puisi ini adalah nyata atas kegelisahan jiwa.

Sedangkan prinsip hidup yang menjadikan nafas puisi lima menjaga diri atas lima perkara, serta enam meyakinkan hati atas enam perkara.

Prinsip-prinsip ini tidak hanya dipegang teguh dalam hidup, tetapi ditenun ke dalam setiap baris puisi di dalam buku-bukunya.

Mekah dan Madinah lebih dari sekedar destinasi.Bagi penulis kota suci bukan hanya lokasi fisik dengan aura kebesaran yang diakui secara global.

Ini adalah cermin refleksi jiwa tempat terjadinya pengagungan yang personal, mendalam, dan transfornatif.

Transformatif sosial, bagaimana interaksi di tanah suci mengubah cara pandang penulis terhadap kehidupan sosial sehari-hari.

Setiap nafas adalah berharga,dimana filosofi waktu laksana angin, ia berlalu tanpa pernah berbalik arah.

Kesadaran inilah yang melahirkan urgensi untuk berkarya.

Sementara trilogi perjalanan batin terdiri atas pertama, titik nadir awal pencarian dan kedalaman rasa evolusi jiwa.

Kedua, bayang firdaus yang merupakan proyeksi kehidupan akan ketenangan, dan ketiga keagungan kota suci, puncak refleksi perjalanan spiritual.

” Buku kumpulan puisi ‘Keagungan Kota Suci” berdiri sebagai bukti bahwa waktu tidak berlalu sia-sia.Setiap nafas yang berharga telah dicatat, dirasa, dan diabadikan,” ujarnya.

Mengangkat Tema Spiritual

Sebelumnya Halimah munawir menjelaskan buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” diterbitkan oleh penerbit Dar El Sholeh karena tertarik menerbitkan buku ini lantaran konsistensinya mengangkat tema spiritualitas yang berpijak pada pengalaman personal dan kearifan lokal.

Naskah tersebut mendapat respon positif sejak pertamakali diajukan.

Dikatakannya lagi, buku kumpulan puisi tersebut lahir dari pengalaman spiritual-nya saat menunaikan ibadah umrah pada bln November 2025 lalu.

“Inspirasi datang begitu kuat seperti ada dorongan batin untuk menuliskan keagungan tanah suci.Jumlah 45 puisi tidak direncanakan sejak awal.Pada mulanya saya hanya menargetkan 30 puisi saja.Namun, proses kreatif yang terus mengalir membuat jumlah puisi bertambah,” ucapnya.

Menurut Halimah Munawir angka 45 meniliki makna simbolis yang dikaitkan dengan tafsir ulama kharismatik Mbah Moen.

“Angka 45 tersebut juga menghubungkan dengan Surat Al-Jatsiyah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta dan manusia, serta peringatan hari kebangkitan.Puisi-puisi ini merupakan refleksi hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia,” pungkasnya.(Lasman)

Minggu, 01 Februari 2026

Buku Kumpulan Puisi "Keagungan Kota Suci" dan Novel Karya Halimah Munawir Jadi Koleksi Perpustakaan Terbesar dan Bergengsi di Mesir

JAKARTA-  Buku kumpulan puisi berjudul "Keagungan Kota Suci" karya Penyair dan Sastrawan Perempuan Indonesia Halimah Munawir lahir bukan sekedar sebagai karya sastra, melainkan sebuah kado self-appreciation di usia ke-62 tahun.

"Ini adalah manifestasi syukur dan perayaan atas perjalanan hidup yang panjang.Sebuah pengakuan cinta pada diri sendiri, di tengah riuh rendah dunia saat ini," kata Halimah Munawir kepada wartawan di Jakarta , Senin pagi (2/2/2026) usai peluncuran (launching) buku puisinya berjudul "Keagungan Kota Suci" yang telah berlangsung pada Kamis lalu (29/1/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Wisma Nusantara  Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo  (PMIK) di Mesir.

"Sebagai anak bangsa, launching di Kairo juga merupakan turut memperkuat harmonisasi antara pemerintah  Indonesia - Mesir yang sudah terjalin sejak presiden pertama , Soekarno. Karena menurut saya diplomasi bukan hanya dapat dilakukan melalui politik, melainkan juga melalui jalur budaya dan sastra," katanya lagi.

Menurut Halimah Munawir- dikenal juga sebagai novelis- buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci " ini bukan sekedar judul.

Ia lahir diantara rahim umat seluruh dunia. Mungkin tanpa "keajaiban"-Nya, ia tidak terbang kesebuah  negara "suhu para ilmu" , negara yang masih menjadi kiblat ilmu, negara yang masih menghargai sebuah buku sebagai barometer kecerdasan. 

Hal mana terbukti ketika bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir Abdul Mutaiali, PHD berkunjung ke perpustakaan terbesar di Mesir, Alexandria yang terletak di dekat pelabuhan kuno Mesir. 

Perpustakaan yang menampung hingga 8 juta buku, juga ada museum, planetarium dan pusat konferensi di atas bangunan 11 lantai ini dapat dikatakan menjadi salah satu pusat pengetahuan terbesar di dunia.

" Yang membuat saya terkagum  kagum pada perpustakaan utama pusat budaya modern ini. Dan, sangat bersyukur, buku puisi ' Keagungan Kota Suci'  serta beberapa novel saya dapat di terima untuk menjadi bagian dari koleksi perpustakaan bergengsi ini," ujarnya.

Dalam Empat Bahasa

Pada peluncuran buku kumpulan puisi berjudul "Keagungan Kota Suci " -diterbitkan oleh penerbit Mesir Dar El Sholeh memuat 45 puisi- dalam 4 bahasa yakni Sunda, Indonesia, Inggris dan Arab ini, ikut memberikan kata sambutan yaitu Abdul Muta'ali MA,MIP,Phd, nara sumber DR.(HC) Halimah Munawir (sebagai penulis-red), serta nara sumber A.Satriawan Hariaadi  Lc,MA.

Buku kumpulan puisi ini juga adalah pertemuan antara ayat-ayat suci dan debu jalanan kehidupan.Penulis tidak lari dari kenyataan namun merespon realitas manusia menggunakan Kompas Al-Qur'an.

Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial. 

Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin), periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).

Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci" sebagai kado apresiasi diri.

Bedah buku "Keagungan Kota Suci" juga menyelami puisi religi antara Al-Qur'an dan empiris sosial  sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.

Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur'an menjadi sumber 'bahasa langit' dan pedoman arah yang tak terbantahkan, 2) Bumi (empiris sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar, 3) Insight, karya ini bersifat responsif menolak menjadi 'air tenang' yang menghanyutkan, puisi-puisi ini adalah nyata atas kegelisahan jiwa.

Sedangkan prinsip hidup yang menjadikan nafas puisi lima menjaga diri atas lima perkara, serta enam meyakinkan hati atas enam perkara.

Prinsip-prinsip ini tidak hanya dipegang teguh dalam hidup, tetapi ditenun ke dalam setiap baris puisi di dalam buku-bukunya.

Mekah dan Madinah lebih dari sekedar destinasi.Bagi penulis kota suci  bukan hanya lokasi fisik dengan aura kebesaran yang diakui secara global.Ini adalah cermin refleksi jiwa tempat terjadinya pengagungan yang personal, mendalam, dan transfornatif.

Transformatif sosial, bagaimana interaksi di tanah suci mengubah cara pandang penulis terhadap kehidupan sosial sehari-hari.

Setiap nafas adalah berharga,dimana filosofi waktu laksana angin, ia berlalu tanpa pernah berbalik arah.Kesadaran inilah yang melahirkan urgensi untuk berkarya. 

Sementara trilogi perjalanan batin terdiri atas pertama, titik nadir awal pencarian dan kedalaman rasa evolusi jiwa.

Kedua, bayang firdaus yang merupakan proyeksi kehidupan akan ketenangan, dan ketiga keagungan kota suci, puncak refleksi perjalanan spiritual.

" Buku kumpulan puisi 'Keagungan Kota Suci" berdiri sebagai bukti bahwa waktu tidak berlalu sia-sia.Setiap nafas yang berharga telah dicatat, dirasa, dan diabadikan," ujarnya.

Mengangkat Tema Spiritual

Sebelumnya Halimah munawir menjelaskan buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci"  diterbitkan oleh penerbit Dar El Sholeh karena tertarik menerbitkan buku ini lantaran konsistensinya mengangkat tema spiritualitas yang berpijak pada pengalaman personal  dan kearifan lokal.

Naskah tersebut mendapat respon positif sejak pertamakali diajukan.

Dikatakannya lagi, buku kumpulan puisi tersebut lahir dari pengalaman spiritualnya saat menunaikan ibadah umrah pada bln November 2025 lalu.

"Inspirasi datang begitu kuat seperti ada dorongan batin untuk menuliskan keagungan tanah suci.Jumlah 45 puisi tidak direncanakan sejak awal.Pada mulanya saya hanya menargetkan 30 puisi saja.Namun, proses kreatif yang terus mengalir membuat jumlah puisi bertambah," ucapnya.

Menurut Halimah Munawir angka 45 meniliki makna simbolis yang dikaitkan dengan tafsir ulama kharismatik Mbah Moen.

"Angka 45 tersebut juga menghubungkan dengan Surat Al-Jatsiyah dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta dan manusia, serta peringatan hari kebangkitan.Puisi-puisi ini merupakan refleksi hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia," pungkasnya.(Lasman Simanjuntak)


Senin, 29 Desember 2025

Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh : Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan PKJ TIM

JAKARTA- Tampilan Penyair Halimah Munawir sebagai pembaca puisi dalam acara "Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh" di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sangat memukau pengunjung.

Dalam acara yang digelar  Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo,  Dewan Kesenian Jakarta (DKJ),  serta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Jumat (26/12/2025), Halimah Munawir  yang membacakan puisi bertajuk "Diam Sangat Menyakitkan" itu, seakan menjadi sosok utama yang menghidupkan suasana acara.

Dari kalimat ke kalimat yang diungkap Halimah  begitu menyentuh perasaan pengunjung, sehingga orang-orang yang hadir dibuat diam dan merasa simpatik.

Di tengah krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, puisi yang dibacakan penyair Halimah Munawir begitu pas dan  tepat, sehingga momen amal yang digelar benar-benar menyentuh suasana.

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi kolektif atas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh 2025, sehingga menyisakan luka sosial, ekologi, dan kemanusiaan.

Sangat Tepat 

Ketika diwawancarai, sebagai penyair dan kririk sastra Indonesia, Dr Drs Tarech Rasyid MSi,  menyatakan bahwa  puisi merupakan kritik terbuka atas tarjadinya kejahatan ekologis. 

"Sebagai ruang sastra yang tajam dan langsung menyaksikan kejahatan dan kebusukan ekologis, puisi mampu berbicara banyak tentang kebusukan orang-orang yang terlibat dalam kejahatan ekologis tersebut," ujar Tarech.

Karena itu, lanjutTarech, Penyair Perempuan Indonesia Halimah Munawir sangat tepat memprediksi persoalan itu ketika ia membaca puisi dalam kegiatan tersebut.

Saat itu, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang, namun menghantam kesadaran.

Tak sekadar meratap, namun penyair mampu menggugat kejahatan ekologis tersebut. 

"Ini yang disebut sebagai kaidah ungkapan esensi sastra secara mendasar, sehingga ketika Halimah Munawir membacakan puisinya ia tak hanya sekedar meratap tapi dalam ratapan itu ia mengungkap kemarahan dan menggugat secara sosial," ungkap mantan rektor Universitas Palembang tersebut.

Dalam bacaannya Halimah mengungkap kegelisahannya tentang pembabatan hutan yang sewenang-wenang. 

Secara estetika, penyair wanita ini mampu mengungkap eksploitasi sumber daya alam dan keserakahan ekonomi yang menjadi penyebab struktural bencana di Aceh. 

"Dengan menggunakan konsep metafora Halimah berani mengeritik tajam terhadap sistem pemerintah yang seolah membiarkan alam dirusak pihak yertentu," tegas Tarech yang kebetulan menyaksikan acara tersebut. 

Sementara itu, penyair Halimah Munawir sendiri menyatakan puisi merupakan media edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih mendalam dibanding laporan teknokratis.

"Jadi, puisi yang saya baca bertajuk 'Diam Sangat Menyakitkan' ini tak hanya sekadar karya sastra, tetapi merupakan bentuk karya sastra yang merupakan dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis," ucapnya usai membacakan puisinya.

Penyair, Sastrawan Halimah Munawir lahir di Cirebon pada 18 Januari 1964. Ia gemar menulis sejak SMA hingga kini.

 "Saya aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional," ucapnya.

Halimah juga menulis beberapa novel penting antara lain, The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi. 

Sebagai Penyair dan Sastrawan, Halimah Munawir sangat dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritual, dan keadilan sosial. 

Demikian kutipan yang diperoleh dari laporan liputan oleh Penyair Anto Narasoma (Palembang), dan telah disampaikan di sebuah komunitas WA Group Sastra, Minggu, 28 Desember 2025.(**/Lasman )

Rabu, 24 Desember 2025

Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF) ke-4 akan Diselenggarakan 3-7 Juni 2026 di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat

PADANG- SatuPena Sumatera Barat dan Yayasan Sumbar Talenta Indonesia (YSTI) akan menyelenggarakan Festival Literasi Internasional Minangkabau  ke-4 (IMLF) pada  3-7 Juni 2026, di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat untuk merayakan 1 (satu,)  abad Jam Gadang.

Demikian dikatakan oleh Sastri Bakry, Presiden Komite IMLF di Kota Padang, Kamis (25/12/2025).

Menurutnya, membangun kesuksesan festival sebelumnya yang  diikuti peserta dari 12 negara pada tahun 2023, 17 negara pada tahun 2024, dan 24 negara di tahun 2025.

"Kami senang melanjutkan tradisi mempromosikan literasi dan pertukaran budaya," ucapnya.

Festival ini akan mempertemukan penulis, pemikir, sastrawan, peneliti, seniman, aktivis, artis dan mahasiswa dari seluruh dunia.

" Untuk bisa  berbagi dan membahas tren terbaru dan perkembangan literasi , ekonomi kreatif, sastra dan budaya," katanya lagi.

Tema festival ini adalah 100 tahun Jam Gadang  "Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kekayaan, Perdamaian, dan Pembelajaran Keberlanjutan".

Acara ini akan menampilkan pidato kunci, diskusi panel, dan kesempatan jaringan, serta berbagai kegiatan seperti seminar, pertunjukan seni, pembacaan puisi, diskusi ekonomi budaya, pameran, dan peluncuran buku.

" Kami mengharapkan lebih  200 peserta  dari 30 negara, menjadikannya kesempatan yang sangat baik bagi anda untuk bisa tampil dan terhubung dengan orang hebat dunia lain di bidang anda," pungkasnya 

Untuk mengkonfirmasi kehadiran, silakan RSVP sebelum akhir Januari 2026 melalui formulir Google. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat lampiran atau hubungi Soni Drestiana di +62 857 1783 7310.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 22 Desember 2025

Hari Ibu dan Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen Kepak Sayap "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" : Melalui Karya Sastra, Suara Anak Indonesia Dihadirkan Sebagai Subyek Layak yang Didengar, Dihormati dan Dilindungi

JAKARTA- Melalui karya sastra,  suara anak Indonesia dihadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang layak didengar, dihormati, dan dilindungi.

Demikian dikatakan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan ketika memberikan kata sambutan yang dibacakan oleh Dra.Eko Novi Aryanti Rahayu Damayanti, Msi, Asisten Deputy Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II.

Pada peluncuran dan diskusi antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda " Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) -dengan moderator Rissa Churria - di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Lantai IV, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025) sekaligus memperingati Hari Ibu 2025.

"Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada Selasa 22 Desember 2025 ini, kehadiran buku  
antologi puisi dan cerpen ini akan menjadi pengingat bahwa pengasuhan, kasih sayang, dan perlindungan adalah pondasi utama bagi tumbuh kembang anak," katanya.

Menurutnya, karya dalam buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah " setebal 542 halaman ini adalah sebuah karya yang lahir dari kepedulian, keberanian, dan cinta terhadap.dunia anak Indonesia. 

"Karya dalam buku ini memotret dunia anak dengan bahasa yang jujur, dan menyentuh tentang harapan, luka,  keberanian, dan tentang mimpi yang terus tumbuh meskipun dalam keterbatasan," ucapnya.

Dikatakannya lagi, keluarga tidak dapat menjalankan peran pengasuhan sendiri.Pengasuhan yang kuat di rumah perlu ditopang oleh komunitas yang peduli.Kerika anak melangkah keluar dari rumah, ia berhadapan dengan sekolah, teman sebaya, ruang publik dan dunia digital.

"Disinilah peran komunitas menjadi sangat penting sebagai perpanjangan tangan pengasuhan keluarga.Taman Insoirasi sastra Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana komunitas dapat menjadi ruang aman dan ruang tumbuh bagi anak, cerita-cerita yang diangkat dapat menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia," kilahnya.

Wakil Menteri Veronica Tan di ujung kata sambutannya sekali lagi mengatakan melalui sastra dan ruang ekspresi, anak-anak diberikan kesempatan untuk menyuarakan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup secara aman dan bermartabat.

"Sastra menjadi jembatan empati, memperkuat koneksi antar manusia, sekaligus menumbuhkan keberanian anak untuk mengenal dan menyampaikan dirinya," pungkasnya.

Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Octavianus Masheka-yang membuka acara sastra tersebut- menyatakan rasa terima kasihnya kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku ini.

"Ini adalah suatu bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra.Sesungguhnya saya juga ikut prihatin kondisi anak-anak di Indonesia yang masih mengalami kekerasan pada anak.Semoga buku antologi puisi dan cerpen ini dapat bermanfaat," katanya.

Denyut Nadi Kemanusiaan 

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispusip) Provinsi DKI Jakarra Nasruddin Djoko Surjono mengatakan sastra adalah denyut nadi kemanusiaan.

Di dalamnya tersimpan suara-suara yang tak selalu terdengar di ruang fornal, kegelisahan, luka  harapan, dan cinta.Melalui sastra, kisah-kisah ibu termasuk mereka yang menghadapi bencana tidak tenggelam menjadi angka statistik  tetapi hidup sebagai cerita, ingatan dan pelajaran kemanusiaan.

"Untuk itu saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) yang secara konsisten merawat sastra sebagai ruang keberpihakan, ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan terus dijaga dan disuarakan," katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir , lanjutnya, ruang sastra telah menjadi mitra dialog kebijakan, tempat nilai perlindungan, kasih, dan keberpihakan disuarakan secara manusiawi.

Dari satu antologi ke antologi berikutnya hingga "Kepak Sayap Bunda" hari ini kehadiran pemerintah tidak tampil sebagai pengarah, melainkan sebagai pendengar dan penguat yang membuka ruang agar sastra turut menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan anak-anak indonesia. 

"Kekuatan buku antoligi puisi dan cerpen ini juga terletak pada kebersamaan suara.Sekitar 190 penyair dan 90 cerpenis dari berbagai penjuru nusantara telah menyatukan rasa dan kepedulian.Ini menunjukkan bahwa sastra indonesia hidup dan peka hadir untuk menyentuh persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia ," ucapnya.

Buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" mengajarkan kita bahwa perlindungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan atau suara keras  melainkan melalui ketenangan, kehadiran, dan keteladanan.

"Dari ketenangan seorang ibu, lahir keberanian seorang anak.Dari pelukan yang tulus,tumbuh daya tahan menghadapi masalah," pungkasnya.

Parade Baca Puisi 

Dalam diskusi sastra -yang diselingi baca puisi dalam rangka Hari Ibu 2025- nara sumber (Pembicara) Reza Indragiri, Master Psikolog Forensik menyinggung soal data dari SIMFONI-PPA (Juli 2025) yang menyebutkan  tercatat ada 15.615 kasus kekerasan kepada anak yang mayoritas berusia 13-17 tahun. Ironisnya terjadi di.lingkungan rumah tangga yang harusnya menjadi ruang aman dan nyaman.

" Sebagian besar anak yang jadi korban kekerasan tidak akan menjadi pelaku.Namun bisa dipastikan sebagian besar anak yang men jadi pelaku sesungguhnya akan menjadi korban.Anak merah putih tidak takut masalah , posisi mereka menjadi tidak takut lada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kanan.Dengan harapan takut pada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kiri,"pungkasnya.

Parade baca puisi-didahului dengan musikalisasi puisi.oleh gitaris Rinidiyanti Ayahbi- berturut-turut tampil Fanny Jonathans Poyk, Kurnia Effendi, Halimah Munawir, Nurhayati, Indar, Jamal Rahman Iroth berpasangan dengan puteranya Arung Larik Pramudya Rahman (7tahun) dari Bolangmongondow, Sulut ,  Farinnisa, dan Ferlynda Natasya Andreana.

Ikut hadir sebagai tamu acara sastra tersebut antara lain  Penyair dan Sastrawan seperti Imam Ma'arif, Remmy Novaris DM, Pulo Lasman Simanjuntak, Giyanto Subagio, Erwan Juhara, Shobir Poer,Nuyang J, Arieg Joko Wicaksono, dan masih banyak lagi.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 15 Desember 2025

Pdt.Tonggo Tua Hutagaol : Saatnya Sekarang Sebarkan Kasih Allah kepada Semua Manusia

JAKARTA- "Saatnya sekarang, terutama menjelang tutup tahun 2025 untuk sebarkan Kasih Allah kepada semua manusia  tanpa melihat apa agamanya," ujar Pendeta Tonggo Tua Hutagaol dari Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) Sidang Setu.

Dalam wawancara khusus disela-sela acara 'Pelayanan Kasih' jelang hari Natal (25 Desember 2025)  -bersama warga masyarakat pinggiran -di sekitar kawasan Kampung Melayu-Jatinegara, Jakarta Timur, .Minggu siang (14/12/2025), Pdt.Tonggo Tua Hutagaol mengatakan siapa lagi yang dapat sebarkan Kasih Allah kepada mereka, warga masyarakat pinggiran (marjinal).

"Mereka datang kemari untuk mendapatkan Pelayanan Kasih dengan berbyanyi, berdoa, serta mendengarkan Firman Tuhan yang tadi telah disampaikan Pdt.Debora Manurung.
Warga yang datang sekitar 60 sampai 70 orang ini ada yang berprofesi sebagai pemulung, pengamen, pengepul, tukang pemungut sampah, juru parkir, bahkan pengangguran sekalipun," ucapnya.

Dalam wawancara yang didampingi Liva Situmorang dari Yayasan Hope Center Jakarta, pendeta yang 'ramah' ini menghimbau harus ada gerakan hati nurani dari kita semua untuk lebih peduli lagi membantu masyarakat prasejahtera yang tinggal di sekitar kita.

"Harus ada hati nurani untuk perhatian kepada orang-orang di sekitar kita.Sebab siapa lagi yang akan memperhatikan mereka, kalau bukan kita-kita ini debagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.Sebab bukan ha nya kita yang menperoleh keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus , tetapi juga semua manusia," pungkasnya. 

Acara Pelayanan Kasih yang sangat sederhana - dipimpin Pdt.Debora Manurung -berlangsung di Aula Camp 160 Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Diselenggarakan secara "lesehan" hanya gelar tikar plastik tanpa duduk di atas bangku.Firman Tuhan yang disampaikan juga sangat sederhana dan bersahaja, sambil menyanyikan beberapa lagu tema Natal dan ditutup dengan doa.(Lasman)

Minggu, 14 Desember 2025

Wakil Menteri Veronica Tan akan Hadir Sebagai Pembicara Dalam Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen ' Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah'

JAKARTA- Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( PPPA) Veronica Tan akan hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara sastra peluncuran buku antologi puisi dan cerpen bertema "Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih  Tidak Takut Masalah ".

 Bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI)  di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Ali Sadikin Lantai 4 di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025).

Demikian dikatakan oleh Octavianus Masheka , Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Senin pagi (15/12/2025).

Menurutnya, pada  2021,Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga) memberikan kata sambutan dalam buku antologi puisi bersama "93 Penyair Membaca Ibu".

Sedangkan pada 2024,Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan memberikan kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama 96 Penyair membaca ibu "Ibu Aku Anakmu".

"Dan kembali di tahun 2025 ini Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Veronica Tan memberikan Kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama " Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah".

"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak,Veronica Tan, atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku.Ini adalah sebuah bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra," ujar Bung Octa-panggilan akrabnya-melalui saluran telepon seluler.

Kepada  sekitar 190 penyair -dari berbagai daerah di Indonesia - yang ikut berkontribusi mengirim naskah puisi serta sekitar 90 cerpenis mengirim karyanya di dalam buku antologi  puisi dan cerpen ini menandakan bahwa bpenyair dan cerpenis,mempunyai perhatian kepada permasalahan ibu dan anak.

"Kami juga ucapkan banyak terima kasih
 kepada,Dyah N Kusuma,Erndra Acha,sebagai panitia penerima naskah. Kemudian kepada kurator Andi Mahrus,Fanny Jonathan Poyk,Kurnia Effendi,dan Sofyan RH Zaid.Sekali lagi kami ucapkan terima kasih," pungkasnya. 

Para Pembaca Puisi 

Dalam acara sastra bersama TISI -di ujung akhir tahun 2025 ini- akan tampil pula pembicara Reza Indragiri, dan sambutan Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI) dengan moderator acara Swary Utami Dewi.

Sementara para pembaca puisi antara lain Nunung Noor El Niel (Bali), Rissa Churria (Bekasi), Fanny Jonathans Poyk (Depok), Jamal  Rahman Iroth (Bolaang Mongondow Sulut), Farin Nisa (Yogjakarta), Indar (Jakarta), Nurhayati (Bekasi), Ferlynda Natasya Andreana (Jakarta), Kurnia Effendi (Jakarta) serta Rinidi Yanti Ayahbi (Depok).

Sebagai kata penutup ,dikutip puisi berjudul:

SEPI 22

Karya Octavianus Masheka

ibu,
membaca dirimu
adalah membaca bentangan sejarah cinta kasih sayang tak bertepi
bagai gelora laut biru dalam tak terukur
bagai sepoi angin menyapa tiada henti

kesetiaan
merawat dan membesarkan
hingga tumbuh berkembang
adalah wujud janjimu
walau sakit duri kehidupan
menghadirkan nanah dan luka darah
menyakiti jiwa raga
kau tetap tegar melangkah 

tak lekang karena panas
tak lapuk karena hujan
abadi sepanjang masa

sepi
beri aku air
pembasuh kaki ibu
aku minum
sebagai anggur kesejukan jiwa

Tangerang,16.11.21.
(Lasman Simanjuntak)