Jumat, 13 Februari 2026

Denny JA Sastrawan Indonesia Terima Penghargaan Sastra Internasional BRIC di Kairo Mesir, Diundang Khusus Dubes Federasi Rusia di Jakarta

JAKARTA-  Denny JA, Sastrawan Indonesia, yang baru saja menerima penghargaan Sastra BRICS -di Kairo, Mesir beberapa waktu lalu-  diundang secara khusus oleh Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov.

Bersama Sastri Bakry, Koordinator Jaringan Sastra BRICS Indonesia di kedutaan besar Russia, kawasan Jln.Rasuna Said Kuningan , Jakarta, Jumat, 13 Feb 2026.

Denny memperoleh penghargaan Sastra Inovasi BRICS atas kontribusinya dalam memperkenalkan genre puisi esai dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Dalam pertemuan yang hangat tersebut, Dubes Rusia menyatakan bahwa sastra dapat menjembatani perbedaan dan membangun kesepahaman antar bangsa.

"Sastra adalah bahasa universal yang dapat menyatukan kita semua, sastra dapat menjembatani komunikasi antar negara dengan bahasa yang damai dan tidak menyebabkan perang dunia. Kita harus menguatkan Global South dari ketimpangan dunia melalui sastra," katanya.

Penghargaan ini merupakan pengakuan atas karya-karya Denny yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan menarik perhatian sastrawan dunia.

Kekuatan Sastra Indonesia 

Karya-karya Denny JA, seperti "Atas Nama Cinta", telah menunjukkan kekuatan sastra Indonesia dan potensinya dalam memperkaya khazanah sastra dunia.

Dengan menggunakan puisi esai sebagai alat, Denny JA memperjuangkan keadilan sosial dan hak asasi manusia. 

Dubes Rusia bahkan  memberikan apresiasi tinggi kepada Denny JA atas kontribusinya dalam mempromosikan sastra Indonesia dan Global South.

"Karya-karya Denny JA telah menunjukkan komitmennya dalam mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian," ucapnya.

Penghargaan Sastra BRICS ini merupakan bukti bahwa sastra dapat menjadi alat yang kuat dalam membangun kesepahaman dan perdamaian antar bangsa.

 Denny JA adalah salah satu sastrawan yang telah membuktikan dengan terus berkarya.

Dalam pidatonya Denny mengawali dengan rasa syukur. Bukan syukur yang seremonial.

Bukan sekadar sopan santun diplomatik.
Melainkan syukur yang lahir dari hati seorang penulis.

Ia berterima kasih atas visi dubes dalam menggagas dan menopang BRICS Award untuk sastra.

Di dunia yang sering kali mengukur kekuatan melalui senjata, pasar, dan teknologi, Rusia memilih untuk berinvestasi pada sesuatu yang jauh lebih abadi: jiwa manusia.
Dan pilihan itu sungguh berarti.

Pada kesempatan itu Denny menyampaikan satu alasan mengapa penghargaan ini begitu penting—bukan hanya bagi para penulis- tetapi bagi peradaban itu sendiri.

 Ia meyakini Sastra nembela martabat manusia.Di tengah ketegangan geopolitik, rivalitas ekonomi, dan perpecahan budaya, sastra mengingatkan kita bahwa sebelum kita menjadi warga negara dari sebuah bangsa, kita adalah pembawa kisah.

Kisah tentang cinta.
Kisah tentang kehilangan.
Kisah tentang ketidakadilan dan harapan.

Penghargaan seperti ini bukan sekadar merayakan bakat.Ia membela martabat bahasa. Ia berkata kepada para penulis—dari Brasil hingga India, dari Tiongkok hingga Afrika Selatan, dari Rusia hingga Indonesia. Dengan sastra, kita tetap menjadi manusia.

Denny juga menyampaikan satu saran agar penghargaan ini bertahan menjadi institusi yang hidup puluhan tahun, bahkan lintas generasi maka ia harus berdiri di atas fondasi keuangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Dana Abadi yang Stabil 

Sejarah menunjukkan bahwa penghargaan sastra tidak bertahan hanya karena prestise, melainkan karena adanya dana abadi yang stabil.

Seperti Nobel Prize yang berdiri sejak 1901. Yayasan Nobel mengelola dana warisan Alfred Nobel dan menginvestasikannya, sehingga hadiah diberikan dari hasil pengelolaan investasi tersebut.

Atau Booker Prize, berdiri sejak 1969. Awalnya disponsori oleh Booker McConnell, dan kini didukung oleh yayasan serta sponsor korporasi yang kuat.

Pertanyaannya: siapa yang dapat menjadi donatur bagi BRICS Award untuk Sastra?

Bisa saja perusahaan-perusahaan energi, bank pembangunan, perusahaan teknologi, sovereign wealth funds, atau yayasan filantropi yang berkomitmen pada pendidikan dan pertukaran budaya.

"Karena sastra membutuhkan ketahanan, bukan hanya perayaan," ujarnya.

"Semoga BRICS Award untuk sastra terus bertumbuh.
Semoga ia menyalakan keberanian dalam diri para penulis.Dan semoga pula ia mengingatkan kita semua bahwa ketika ekonomi naik dan turun, kisah manusia akan terus berjalan," pungkasnya.

Dubes Rusia bertepuk tangan dengan  pidatonya Denny.Ia juga setuju bahwa literasi Global South harus didorong untuk lebih berkembang lagi dengan kekuatan dana.

 "Negara-negara di Global South memiliki kekayaan sastra yang luar biasa, namun publikasinya masih didominasi oleh sastra Barat," katanya.

Denny JA menyambut baik pernyataan Dubes Rusia dan berharap kerjasama antara Indonesia dan Rusia dalam bidang sastra dapat terus ditingkatkan. 

Sementara itu Dikdik Sadikin, Penulis dan juri BRICS Indonesia, juga menyampaikan kegembiraannya.

"Saya gembira Pak Dubes menanggapi saya.Beliau setuju bahwa literasi Global South harus didorong. Kita memiliki kekayaan sastra yang luar biasa," ucapnyam

Pertemuan tersebut diakhiri dengan tukar menukar cendera mata dan foto bersama. 

Turut mendampingi Denny JA yaitu Sastri Bakry, Koordinator Jaringan Sastra BRICS Indonesia, Dikdik Sadikin, penulis dan juri BRICS Indonesia, Soni Drestiana, sekretaris BRICS Writers Association, Monica Anggi JR, penulis dan Nita Lusaid, dari DJA Foundation.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 02 Februari 2026

SASTRA INTERNASIONAL :Peluncuran Buku Kumpulan 45 Puisi “Keagungan Kota Suci” Karya Halimah Munawir di Kairo , akan Makin Memperkuat Harmonisasi antara Pemerintah Indonesia dan Mesir

KAIRO,MESIR, Sebagai anak bangsa, launching (peluncuran) buku kumpulan 45 puisi berjudul ” Keagungan Kota Suci ” karya Penyair, Novelis, dan Sastrawan (dari Indonesia-red)  Halimah Munawir  di Kairo, Mesir,  juga akan  makin memperkuat harmonisasi antara pemerintah Indonesia dan Mesir yang sudah terjalin sejak presiden pertama  Ir.Soekarno.

“Karena menurut saya diplomasi bukan hanya dapat dilakukan melalui politik, melainkan juga melalui jalur budaya dan sastra,” kata Halimah Munawir kepada wartawan di Jakarta , Senin (2/2/2026) usai peluncuran (launching) buku puisinya berjudul “Keagungan Kota Suci” yang telah berlangsung pada Kamis lalu (29/1/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Wisma Nusantara Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) di Mesir.

Buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci” karya Penyair dan Sastrawan Perempuan Indonesia Halimah Munawir lahir bukan sekedar sebagai karya sastra, melainkan sebuah kado self-appreciation di usia ke-62 tahun.

"Ini adalah manifestasi syukur dan perayaan atas perjalanan hidup yang panjang.Sebuah pengakuan cinta pada diri sendiri, di tengah riuh rendah dunia saat ini,” katanya lagi.

Menurut Halimah Munawir buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci ” ini bukan sekedar judul.Ia lahir diantara rahim umat seluruh dunia.

Mungkin tanpa “keajaiban”-Nya, ia tidak terbang kesebuah negara “suhu para ilmu” , negara yang masih menjadi kiblat ilmu, negara yang masih menghargai sebuah buku sebagai barometer kecerdasan.

Hal mana terbukti ketika bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir Abdul Mutaiali, PHD berkunjung ke perpustakaan terbesar di Mesir, Alexandria yang terletak di dekat pelabuhan kuno Mesir.

Perpustakaan yang menampung hingga 8 juta buku, juga ada museum, planetarium dan pusat konferensi di atas bangunan 11 lantai ini dapat dikatakan menjadi salah satu pusat pengetahuan terbesar di dunia.

” Yang membuat saya terkagum kagum pada perpustakaan utama pusat budaya modern ini. Dan, sangat bersyukur, buku puisi ‘ Keagungan Kota Suci’ serta beberapa novel saya dapat di terima untuk menjadi bagian dari koleksi perpustakaan bergengsi ini,” ujarnya.

Dalam Empat Bahasa

Pada peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Keagungan Kota Suci ” -diterbitkan oleh penerbit Mesir Dar El Sholeh memuat 45 puisi- dalam 4 bahasa yakni Sunda, Indonesia, Inggris dan Arab ini, ikut memberikan kata sambutan yaitu Abdul Muta’ali MA,MIP,Phd, nara sumber DR.(HC) Halimah Munawir (sebagai penulis-red), serta nara sumber A.Satriawan Hariaadi Lc,MA.

Buku kumpulan puisi ini juga adalah pertemuan antara ayat-ayat suci dan debu jalanan kehidupan.Penulis tidak lari dari kenyataan namun merespon realitas manusia menggunakan Kompas Al-Qur’an.

Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial.

Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin), periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).

Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).
Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” sebagai kado apresiasi diri.

Bedah buku “Keagungan Kota Suci” juga menyelami puisi religi antara Al-Qur’an dan Empiris Sosial sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.

Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur’an menjadi sumber ‘bahasa langit’ dan pedoman arah yang tak terbantahkan,

2) Bumi (Empiris Sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar,

3) Insight, karya ini bersifat responsif menolak menjadi ‘air tenang’ yang menghanyutkan, puisi-puisi ini adalah nyata atas kegelisahan jiwa.

Sedangkan prinsip hidup yang menjadikan nafas puisi lima menjaga diri atas lima perkara, serta enam meyakinkan hati atas enam perkara.

Prinsip-prinsip ini tidak hanya dipegang teguh dalam hidup, tetapi ditenun ke dalam setiap baris puisi di dalam buku-bukunya.

Mekah dan Madinah lebih dari sekedar destinasi.Bagi penulis kota suci bukan hanya lokasi fisik dengan aura kebesaran yang diakui secara global.

Ini adalah cermin refleksi jiwa tempat terjadinya pengagungan yang personal, mendalam, dan transfornatif.

Transformatif sosial, bagaimana interaksi di tanah suci mengubah cara pandang penulis terhadap kehidupan sosial sehari-hari.

Setiap nafas adalah berharga,dimana filosofi waktu laksana angin, ia berlalu tanpa pernah berbalik arah.

Kesadaran inilah yang melahirkan urgensi untuk berkarya.

Sementara trilogi perjalanan batin terdiri atas pertama, titik nadir awal pencarian dan kedalaman rasa evolusi jiwa.

Kedua, bayang firdaus yang merupakan proyeksi kehidupan akan ketenangan, dan ketiga keagungan kota suci, puncak refleksi perjalanan spiritual.

” Buku kumpulan puisi ‘Keagungan Kota Suci” berdiri sebagai bukti bahwa waktu tidak berlalu sia-sia.Setiap nafas yang berharga telah dicatat, dirasa, dan diabadikan,” ujarnya.

Mengangkat Tema Spiritual

Sebelumnya Halimah munawir menjelaskan buku kumpulan puisi “Keagungan Kota Suci” diterbitkan oleh penerbit Dar El Sholeh karena tertarik menerbitkan buku ini lantaran konsistensinya mengangkat tema spiritualitas yang berpijak pada pengalaman personal dan kearifan lokal.

Naskah tersebut mendapat respon positif sejak pertamakali diajukan.

Dikatakannya lagi, buku kumpulan puisi tersebut lahir dari pengalaman spiritual-nya saat menunaikan ibadah umrah pada bln November 2025 lalu.

“Inspirasi datang begitu kuat seperti ada dorongan batin untuk menuliskan keagungan tanah suci.Jumlah 45 puisi tidak direncanakan sejak awal.Pada mulanya saya hanya menargetkan 30 puisi saja.Namun, proses kreatif yang terus mengalir membuat jumlah puisi bertambah,” ucapnya.

Menurut Halimah Munawir angka 45 meniliki makna simbolis yang dikaitkan dengan tafsir ulama kharismatik Mbah Moen.

“Angka 45 tersebut juga menghubungkan dengan Surat Al-Jatsiyah dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta dan manusia, serta peringatan hari kebangkitan.Puisi-puisi ini merupakan refleksi hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia,” pungkasnya.(Lasman)

Minggu, 01 Februari 2026

Buku Kumpulan Puisi "Keagungan Kota Suci" dan Novel Karya Halimah Munawir Jadi Koleksi Perpustakaan Terbesar dan Bergengsi di Mesir

JAKARTA-  Buku kumpulan puisi berjudul "Keagungan Kota Suci" karya Penyair dan Sastrawan Perempuan Indonesia Halimah Munawir lahir bukan sekedar sebagai karya sastra, melainkan sebuah kado self-appreciation di usia ke-62 tahun.

"Ini adalah manifestasi syukur dan perayaan atas perjalanan hidup yang panjang.Sebuah pengakuan cinta pada diri sendiri, di tengah riuh rendah dunia saat ini," kata Halimah Munawir kepada wartawan di Jakarta , Senin pagi (2/2/2026) usai peluncuran (launching) buku puisinya berjudul "Keagungan Kota Suci" yang telah berlangsung pada Kamis lalu (29/1/2026) sekitar pukul 12.00 waktu setempat di Wisma Nusantara  Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo  (PMIK) di Mesir.

"Sebagai anak bangsa, launching di Kairo juga merupakan turut memperkuat harmonisasi antara pemerintah  Indonesia - Mesir yang sudah terjalin sejak presiden pertama , Soekarno. Karena menurut saya diplomasi bukan hanya dapat dilakukan melalui politik, melainkan juga melalui jalur budaya dan sastra," katanya lagi.

Menurut Halimah Munawir- dikenal juga sebagai novelis- buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci " ini bukan sekedar judul.

Ia lahir diantara rahim umat seluruh dunia. Mungkin tanpa "keajaiban"-Nya, ia tidak terbang kesebuah  negara "suhu para ilmu" , negara yang masih menjadi kiblat ilmu, negara yang masih menghargai sebuah buku sebagai barometer kecerdasan. 

Hal mana terbukti ketika bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Mesir Abdul Mutaiali, PHD berkunjung ke perpustakaan terbesar di Mesir, Alexandria yang terletak di dekat pelabuhan kuno Mesir. 

Perpustakaan yang menampung hingga 8 juta buku, juga ada museum, planetarium dan pusat konferensi di atas bangunan 11 lantai ini dapat dikatakan menjadi salah satu pusat pengetahuan terbesar di dunia.

" Yang membuat saya terkagum  kagum pada perpustakaan utama pusat budaya modern ini. Dan, sangat bersyukur, buku puisi ' Keagungan Kota Suci'  serta beberapa novel saya dapat di terima untuk menjadi bagian dari koleksi perpustakaan bergengsi ini," ujarnya.

Dalam Empat Bahasa

Pada peluncuran buku kumpulan puisi berjudul "Keagungan Kota Suci " -diterbitkan oleh penerbit Mesir Dar El Sholeh memuat 45 puisi- dalam 4 bahasa yakni Sunda, Indonesia, Inggris dan Arab ini, ikut memberikan kata sambutan yaitu Abdul Muta'ali MA,MIP,Phd, nara sumber DR.(HC) Halimah Munawir (sebagai penulis-red), serta nara sumber A.Satriawan Hariaadi  Lc,MA.

Buku kumpulan puisi ini juga adalah pertemuan antara ayat-ayat suci dan debu jalanan kehidupan.Penulis tidak lari dari kenyataan namun merespon realitas manusia menggunakan Kompas Al-Qur'an.

Hasilnya adalah puisi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga tajam sebagai kritik dan renungan sosial. 

Pada kesempatan tersebut Halimah Munawir, Ketua Umum Obor Sastra Indonesia bercerita jejak langkah dimulai tahun 1995-2025 yakni pada tahun 1995 ibadah haji (awal terkumpulnya rasa dan pengalaman batin), periode umroh merupakan perjalanan berkelanjutan (rangkaian perjalanan yang memperkaya perspektif).

Pada November 2025 merupakan titik balik (moment saat umroh, lahirnya ide pembukuan).Hingga berlangsungnya peluncuran (launching) buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci" sebagai kado apresiasi diri.

Bedah buku "Keagungan Kota Suci" juga menyelami puisi religi antara Al-Qur'an dan empiris sosial  sebuah apresiasi diri bagi kehidupan Halimah Munawir.

Hulu kreativitas antara langit dan bumi yaitu 1) Langit ( Kompas Teologis) dimana Al-Qur'an menjadi sumber 'bahasa langit' dan pedoman arah yang tak terbantahkan, 2) Bumi (empiris sosial) pengamatan tajam terhadap realitas dan lingkungan sekitar, 3) Insight, karya ini bersifat responsif menolak menjadi 'air tenang' yang menghanyutkan, puisi-puisi ini adalah nyata atas kegelisahan jiwa.

Sedangkan prinsip hidup yang menjadikan nafas puisi lima menjaga diri atas lima perkara, serta enam meyakinkan hati atas enam perkara.

Prinsip-prinsip ini tidak hanya dipegang teguh dalam hidup, tetapi ditenun ke dalam setiap baris puisi di dalam buku-bukunya.

Mekah dan Madinah lebih dari sekedar destinasi.Bagi penulis kota suci  bukan hanya lokasi fisik dengan aura kebesaran yang diakui secara global.Ini adalah cermin refleksi jiwa tempat terjadinya pengagungan yang personal, mendalam, dan transfornatif.

Transformatif sosial, bagaimana interaksi di tanah suci mengubah cara pandang penulis terhadap kehidupan sosial sehari-hari.

Setiap nafas adalah berharga,dimana filosofi waktu laksana angin, ia berlalu tanpa pernah berbalik arah.Kesadaran inilah yang melahirkan urgensi untuk berkarya. 

Sementara trilogi perjalanan batin terdiri atas pertama, titik nadir awal pencarian dan kedalaman rasa evolusi jiwa.

Kedua, bayang firdaus yang merupakan proyeksi kehidupan akan ketenangan, dan ketiga keagungan kota suci, puncak refleksi perjalanan spiritual.

" Buku kumpulan puisi 'Keagungan Kota Suci" berdiri sebagai bukti bahwa waktu tidak berlalu sia-sia.Setiap nafas yang berharga telah dicatat, dirasa, dan diabadikan," ujarnya.

Mengangkat Tema Spiritual

Sebelumnya Halimah munawir menjelaskan buku kumpulan puisi "Keagungan Kota Suci"  diterbitkan oleh penerbit Dar El Sholeh karena tertarik menerbitkan buku ini lantaran konsistensinya mengangkat tema spiritualitas yang berpijak pada pengalaman personal  dan kearifan lokal.

Naskah tersebut mendapat respon positif sejak pertamakali diajukan.

Dikatakannya lagi, buku kumpulan puisi tersebut lahir dari pengalaman spiritualnya saat menunaikan ibadah umrah pada bln November 2025 lalu.

"Inspirasi datang begitu kuat seperti ada dorongan batin untuk menuliskan keagungan tanah suci.Jumlah 45 puisi tidak direncanakan sejak awal.Pada mulanya saya hanya menargetkan 30 puisi saja.Namun, proses kreatif yang terus mengalir membuat jumlah puisi bertambah," ucapnya.

Menurut Halimah Munawir angka 45 meniliki makna simbolis yang dikaitkan dengan tafsir ulama kharismatik Mbah Moen.

"Angka 45 tersebut juga menghubungkan dengan Surat Al-Jatsiyah dalam Al-Qur'an yang berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta dan manusia, serta peringatan hari kebangkitan.Puisi-puisi ini merupakan refleksi hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia," pungkasnya.(Lasman Simanjuntak)