Minggu, 05 Januari 2020

Posko Sinergi BUMN Peduli Bekasi Turunkan Tim Evakuasi dan Hingga 5 Januari Telah Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Senilai Rp. 495 Juta

Bekasi,BeritaRayaOnline,-Sejak banjir hari pertama, Posko Sinergi BUMN Peduli Bencana Banjir Wilayah Bekasi telah menurunkan tim evakuasi warga korban banjir dan menyalurkan bantuan kebutuhan darurat korban banjir di lebih dari 50 lokasi di wilayah Bekasi.

Posko Sinergi BUMN Peduli Bencana Banjir Bekasi diinisiasi oleh Kementerian BUMN dan bertindak sebagai koordinator adalah Jasa Marga yang beranggotakan 19 BUMN lainnya yaitu BRI, BTN, Jasa Raharja, KAI, Mandiri, Indofarma, Kimia Farma, Perumnas, Bukit Asam, Jasa Tirta 2, Telkom, PT KBI, PT PP, PLN, BNI, Amarta, Jamkrindo, RNI dan Angkasa Pura 1.
 
Di luar wilayah Bekasi, Kementerian BUMN juga membangun posko bantuan di wilayah, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Bekasi, Bogor, Tangerang, Tangerang Selatan, Karawang, dimana di wilayah-wilayah tersebut juga dikepalai oleh satu BUMN sebagai koordinator. BUMN koordinator yang didukung oleh BUMN-BUMN lainnya.

Menempati Posko di Kantor PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JLJ) di Jatiasih, Bekasi, Jasa Marga mengkoordinasikan pengumpulan bantuan dari BUMN lainnya serta berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi untuk pendistribusian kepada korban banjir di Bekasi.

Dua hari pertama bencana banjir melanda (1-2 Januari 2020), Jasa Marga selaku koordinator Posko BUMN Peduli Bencana Banjir Wilayah Bekasi menurunkan 25 orang terpilih yang telah terlatih dan bersertifikat dalam keahlian bidang medis dan evakuasi dari beberapa kelompok pegiat alam yaitu Jasamarga Pegiat Alam (Jasmapala) Jasa Marga Group dengan menurunkan 2 unit perahu karet untuk evakuasi dan penyediaan makanan untuk korban banjir di Perumahan Duta Indah, Perumahan Bumi Nasio dan Perumahan Villa Nusa Indah untuk mengevakuasi warga.

Sejalan penanganan evakuasi tersebut, Posko BUMN Peduli Bencana Banjir Wilayah Bekasi juga mengumpulkan bantuan darurat untuk korban banjir berupa makanan, air mineral, sembako, selimut, alas tidur, popok bayi, dan lainnya dengan total jumlah yang diidstribusikan hingga saat ini mencapai hingga Rp. 495 juta.

Jumlah ini didistribusikan oleh enam tim yang telah dibentuk dan mendistribusikan bantuan di 50 (lima puluh) titik lokasi, diantaranya di Kecamatan Jati Asih, Kecamatan Pondok Gede, Kecamatan Rawa Lumbu, Kecamatan Bantar Gebang, Kecamatan Bekasi Selatan, Kecamatan Mustika Jaya dan sekitar wilayah Bekasi lainnya yang tekena dampak banjir
 
Corporate Secretary Jasa Marga M. Agus Setiawan selalu koordinator Posko BUMN Peduli Bencana Banjir Wilayah Bekasi mengatakan selama cuaca Jadetabek diprediksi masih akan turun hujan, posko ini akan selalu ada untuk warga Bekasi yang membutuhkan.
 
“Hingga saat ini kami masih menyalurkan bantuan ke berbagai lokasi yang terdampak banjir di wilayah Bekasi. Walaupun beberapa hari ini curah hujan relatif rendah, kami tetap menyiagakan petugas untuk memberikan bantuan pertama kepada warga khususnya di lokasi yang rawan banjir,” ujar Agus.
 
Salah satu penerima bantuan di wilayah Jatikramat Bekasi, yang diwakili Ketua RW 04 Rosyid selaku koordinator penyaluran bantuan di wilayah tersebut mengucapkan terima kasih kepada seluruh BUMN atas upayanya dalam meringankan beban warga yang terdampak bencana banjir.
 
“Seluruh bantuan yang kami terima dari BUMN sangat membantu kami dalam menjalankan Posko Darurat dan Dapur Umum di wilayah kami untuk memenuhi kebutuhan para korban banjir. Terima kasih, BUMN,” ujar Rosyid.(*)

Sumber berita : PRESS RELEASE
PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
No. 01/2020
Tanggal 5 Januari 2020

Editor : Lasman Simanjuntak


Sempat Tergenang, Produksi Bawang Merah Nasional Tetap Aman

Brebes,BeritaRayaOnline,-Tingginya curah hujan yang mengguyur Pulau Jawa pada awal Januari 2020 berdampak banjir di mana-mana. Tak hanya Jabodetabek, banjir juga menerjang kawasan penghasil bawang merah terbesar di Indonesia yaitu Brebes. Hujan terjadi terus - menerus sejak 31 Desember malam sampai 1 Januari sore hari menyebabkan sebagian lahan bawang merah tergenang lebih dari 24 jam. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes, Yulia Hendrawati, saat dihubungi menyebut bahwa genangan air di lahan bawang merah awal tahun ini lebih disebabkan curah hujan yang tinggi, bukan luapan air sungai seperti yang terjadi beberapa tahun lalu. 

"Tim kami bersama-sama dengan petugas pusat (Kementan, red), sementara berhasil mengidentifikasi lahan-lahan yang terdampak banjir. Lokasinya meliputi  empat kecamatan dengan total lahan terdampak seluas 616 hektare," terang Yulia.

Wilayah terdampak paling luas berada di Kecamatan Wanasari seluas 457 hektare di 9 desa, Kecamatan Bulakamba 106 hektare di 8 desa, Kecamatan Tanjung 45 hektare di 2 desa dan Kecamatan Kersana 8 hektare di 2 desa. 

"Dari jumlah tersebut tidak semuanya puso atau mati. Kami masih mengidentifikasi lagi berapa yang puso sambil menunggu masa pemulihan 3 hari ke depan," sambungnya.

Yulia menandaskan bahwa luasan bawang merah yang terdampak banjir di wilayahnya kurang dari 10 persen dari total areal tanam yang ada. 

"Luas areal tanam bawang merah Brebes mencapai 6 ribu hektare lebih. Terlebih kalau dihitung yang puso, perkiraan kami lebih kecil lagi persentasenya. Meski kita prihatin dengan kondisi yang ada, tapi saya himbau masyarakat untuk tetap tenang. Pemerintah tentu tidak akan tinggal diam dengan situasi ini. Para pedagang juga tidak perlu berspekulasi berlebihan karena secara umum bawang merah Brebes aman terkendali," jelas Yulia optimistis.

Dikonfirmasi terpisah, Plt. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Sukarman, membenarkan terjadinya sebagian lahan bawang merah yang tergenang di Brebes. Pihaknya mengaku telah menerjunkan tim reaksi cepat ke lapangan untuk memantau dan mengidentifikasi dampak banjir. 

"Pantauan tim kami, saat ini banjir sudah mulai surut. Beberapa titik masih terlihat genangan. Untuk tanaman yang tergenang pada umur lebih dari 40 hari bisa dilakukan panen muda. Tanaman umur 15 - 40 bisa dilakukan upaya penyemprotan fungisida dan pemberian dolomit. Sedangkan untuk tanaman berumur dibawah 15 hari kemungkinan besar tidak bisa diselamatkan. Berapa angka pastinya masih dalam proses identifikasi," papar Sukarman.

Proses pendataan kelompok tani yang lahannya terdampak, kata Sukarman, juga masih dalam tahap _cross check_ mengingat tidak semua petani yang lahannya terdampak tergabung ke dalam kelompok tani.

Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) H Juwari saat dihubungi mengatakan luas areal bawang merah yang terdampak genangan tidak terlalu luas sehingga pasokan nasional masih aman. 

"Pasokan bawang merah secara nasional Insya Allah masih aman. Saat ini kan produksi bawang merah tidak hanya tersentral di Brebes, sudah berkembang di banyak daerah di Indonesia," ujarnya. 

Meski begitu, Juwari berharap pemerintah dan instansi terkait bisa melakukan upaya _recovery_ khususnya kepada para petani Brebes yang tanamannya puso atau busuk akibat lahannya tergenang lebih dari 2 malam. 

"Misalnya berupa bantuan benih agar petani bisa cepat pulih dan bangkit kembali menanam bawang merah," tukasnya.(**/Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

Mentan Syahrul Dorong Karangasem Bali Optimalkan Pertanian dan Peternakan



 

Karangasem,BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menghadiri pertemuan dan tatap muka dengan para penyuluh dan petani di Kabupaten Karangasem, Bali. Pertemuan ini digelar dalam rangka mewujudkan pertanian modern, maju dan mandiri.

"Kehadiran kami adalah untuk memastikan bahwa Karangasem harus lebih baik dari hari ini. Saya yakin alam yang Tuhan berikan kepada Bali adalah alam yang khusus pilihan Dewa agar kita hidup lebih baik lagi," ujar Syahrul, Minggu (5/1).

Menurut Syahrul, sektor pertanian menjadi pilihan penting karena mampu memberikan kehidupan layak dan berkelanjutan bagi masyarakat luas. Sektor ini merupakan sektor utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kalau begitu apa yang disiapkan Tuhan yang tidak akan ada ruginya adalah bertani. Negara hanya bisa baik kalau pertaniannya baik. Karangasem hanya bisa hidup sejahtera kalau pertaniannya baik. Sekarang sudah baik, tapi kita tidak boleh diam dan harus lebih baik lagi," katanya.

Syahrul mencontohkan, jika satu hektare lahan jagung mampu menghasilkan 8 ton, maka hasil penjualan panen bisa mencapai Rp 24 juta perhektare. Angka tersebut bisa dihitung melalui rata-rata nilai jual yang saat ini mencapai  Rp3.000 perkilogram.

"Ini baru jagung saja yang belum diapa-apakan. Bagaimana jika kita olah menjadi produk olahan dan dipasarkan secara luas, maka keuntungan dari bertani yang baik bisa besar sekali. Dan kalau ini dilakukan secara merata, Insya Allah ke depan negara kita jadi lumbung pangan dunia," katanya.

Disisi lain, pemerintah juga sudah menyiapkan layanan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki nilai bunga sangat rendah, yakni hanya 6 persen. Program ini bisa diajukan melalui mekanisme dan aturan yang tertera di Kementerian Pertanian.

"Di dunia pertanian, inilah saatnya rakyat punya uang sendiri dengan menggunakan dana KUR. Di kami ada Rp 50 miliar yang bisa dimanfaatkan. Dengan dana ini, kita bisa merebut cara bertaninya negara lain untuk kita siapkan dalam persaingan. Sekali lagi, yang paling dahsyat bagi saya adalah kita mampu menggunakan anggaran KUR dengan baik," katanya.

Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri menyampaikan terima kasih atas kehadiran Menteri Pertanian ke Kabupaten Karangasem. Menurut dia, kehadiran Mentan akan menambah daya gedor petani Karangasem untuk mengoptimalkan potensi pertanian dan sektor peternakan yang ada.

"Kabupaten Karangasem memiliki potensi yang sangat luar biasa karena wilayah ini adalah hulunya Bali dan juga spiritnya Bali. Kenapa demikian, karena kami menyimpan Gunung Agung sebagai poros dunia serta memiliki potensi ternak sapi yang luar biasa. Sejauh ini angka produksi di kami mencapai 127 ribu ekor sapi," tukasnya.(*)
Sumber berita : Rilis Kementan, 6 Januari 2020
Nomor : 07/R-KEMENTAN/01/2029.
Editor   : Lasman Simanjuntak

Menteri Pertanian Dukung Program Satu Juta Ternak Sapi Bali

Denpasar,BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendukung sepenuhnya program Provinsi Bali mencapai Satu Juta Ternak Sapi Bali.

 Hal tersebut disampaikannya saat menyaksikan penandatangan tiga nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dengan Gubernur Bali di Denpasar, 4 Januari 2020. Salah satu nota kesepahaman tersebut adalah terkait Populasi Sejuta Sapi Bali Mendukung Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan). 

Menurut Mentan SYL, Bali merupakan provinsi yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang sangat besar. Dengan adanya nota kesepahaman ini, maka Kementan akan mendukung sepenuhnya program-program pertanian dan peternakan di Bali. 

"Pada hari ini telah ditandatangani tiga buah nota kesepahaman antara Kementan dan Pemda Bali. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pertanian menuju pertanian yang maju, mandiri, dan modern,"ungkap Mentan SYL. 

Lebih lanjut Mentan juga menyampaikan harapannya bahwa dengan meningkatnya produksi dan produktivitas maka ke depan produksi pertanian tersebut bisa diekspor. Langkah ini lanjutnya sejalan dengan gerakan tiga kali ekspor atau Gratieks. 

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan bahwa Provinsi Bali merupakan provinsi yang berbasis pertanian, dan penyediaan pangan merupakan salah satu program utama saat ini. 
Dukungan Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian di Bali dipandangnya sangat penting dalam membantu program Pemda dan masyarakat Bali. 

"Bali kaya akan komoditas pertanian lokal seperti jeruk, salak, kopi, sapi, kambing dan lain-lain. Namun komoditas-komoditas ini belum diberdayakan secara optimal. Ke depan, diharapkan bantuan Kementan untuk mengoptimalkan potensi ini," jelasnya. 

Khusus terkait Program satu juta ternak Sapi Bali pada tahun 2025, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan bahwa target tersebut dapat dicapai apabila ada peningkatan jumlah induk sapi sebesar 30%-45 % dari populasi saat ini, dan didukung oleh peningkatan kelahiran pedet sebesar 80%-85% dari Indukan jumlah sapi. Sementara itu angka pemotongan sapi betina produktif di Bali harus bisa diturunkan hingga 5%-10% dari pemotongan tercatat saat ini, dan angka kematian pedet harus diturunkan ke angka di bawah 5% dari sapi yang lahir.

"Apabila parameter-parameter tersebut tercapai, maka program sejuta ternak Sapi Bali akan kita capai. Ditjen PKH selalu siap mendukung program ini, karena hal ini sejalan dengan Sikomandan, salah satu program penting dari bapak Mentan SYL," pungkasnya.(*/Bro-2)

Editor : Lasman Simanjuntak

TaniDay Bali, Mentan serahkan Mobil TTI dan Cold Storage ke TTIC Bali


 Denpasar,BeritaRayaOnline,- Untuk mengenalkan dan mengedukasi publik mengenai program pemerintah dan gerakan masyarakat di bidang pertanian, Kementerian Pertanian menggelar TaniDay di Lapangan Renon, Denpasar Bali, pada Minggu (5/1/2020).

 Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang hadir dalam acara tersebut berkesempatan menyerahkan secara simbolis 1 unit mobil operasional Toko Tani Indonesia Centre( TTIC) dan 2 unit Cold Storage (mesin berpendingin) kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali. "Kita harapkan 117 TTI di Bali dapat terlayani lebih baik lagi dengan adanya mobil ini," ujar Menteri yang akrab disapa SYL ini saat menyerahkan bantuan.


 Coldstorage yang disimpan di TTIC berfungsi untuk menyimpan cabai dan bawang merah dalam waktu lama bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Ketika terjadi ketidakstabilan harga, dua komoditas tersebut dapat dikeluarkan untuk intervensi pasar. "Semoga dengan adanya bantuan cold storage ini produk petani bawang merah terserap dan dapat membantu kebutuhan masyarakat akan bawang merah," tambah Mentan SYL. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnu Wardhana menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan.



 "Tentu saja mobil dan cold storage ini sangat menunjang dalam pengelolaan TTIC kami. Kami sangat berterima kasih sekali kepada Bapak Menteri dan Kepala Badan Ketahanan Pangan yang sudah memperhatikan kebutuhan kami" ungkapnya. 

Dihubungi secara terpisah, Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi menyampaikan peran TTI dalam agenda TaniDay. "Kami upayakan dalam setiap acara TaniDay, kami berpartisipasi untuk memeriahkan acara dengan mengikutsertakan gapoktan binaan dan mitra kerja TTIC untuk mengisi stand dan melakukan penjualan pangan murah," jelas Agung.

 Di acara TaniDay kali ini, Mentan SYL dalam sambutannya juga mengajak masyarakat untuk berkomitmen dan mengampanyekan makan makanan sehat, diversifikasi pangan lokal dan mengurangi food waste.

 "Jangan ada lagi food waste, makan secukupnya, makan sesuai porsi kita, jangan buang percuma. Mari kita berkomitmen makan sehat, agar hati sehat, pikiran sehat, tubuh sehat sehingga Indonesia makin maju," ujar SYL. Hadir dalam TaniDay ini Komisi IV DPR RI, anggota DPD RI, pejabat eselon 1 dan 2 lingkup Kementerian Pertanian, serta jajaran pejabat Pemprov Bali dan Pemkot Bali.(*/Bro-1)

Editor : Lasman Simanjuntak

Kementeriaan PUPR Tambah Alat Berat Untuk Percepat Buka Akses Daerah Terisolir di Sukajaya, Bogor

 BeritaRayaOnline,- Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono akan menambah kendaraan alat berat agar jalan utama menuju desa-desa di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor yang terisolir akibat longsor bisa diakses dalam waktu seminggu ke depan

. Hal tersebut sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar akses menuju Kecamatan Sukajaya segera dibuka. "Ini ada beberapa desa yang terisolir. Untuk itu saya buat dua tim. Kalau Bapak Presiden Jokowi kasih waktu seminggu, itu insyaAllah bisa tembus," kata Menteri Basuki usai meninjau lokasi longsor untuk memastikan peralatan berat berfungsi optimal pada Minggu (5/1/2020).

 Sedikitnya, kata Menteri Basuki 11 kendaraan alat berat akan diterjunkan untuk menembus jalan-jalan utama yang tertutup longsor. Adapun Kementerian PUPR sejak kemarin (Sabtu, 4/1/2020) telah mengirimkan alat berat ke lokasi longsor di Kecamatan Sukajaya, yaitu 6 excavator, 1 loader, dan 1 buildozer. "Metodenya, setelah satu jalur menuju Sukajaya tembus, selanjutnya alat berat ini langsung berangkat ke desa berikutnya, kemudian kendaraan di belakang masuk untuk membersihkan," jelas Menteri Basuki

. Sedangkan, kata Menteri Basuki, jalan utama menuju Desa Pasir Madang ditarget bisa selesai dan dapat diakses besok sore (Senin, 6/1/2020). "Untuk Desa Pasir Madang, Sukajaya, mudah-mudahan besok sore bisa tembus," kata Menteri Basuki. 

 Desa Pasir Madang, merupakan 1 dari 6 Desa yang hingga kini masih terisolir akibat longsor. Pada hari Rabu 1 Januari 2020 pukul 06.00 WIB terjadi hujan deras yang membuat Sungai Cidurian di Kabupaten Bogor meluap dan mengakibatkan beberapa wilayah sekitarnya mengalami banjir dan longsor. 

 Selain Desa Pasir Madang, masih banyak titik longsor yang menutup jalan-jalan utama menuju desa-desa lainnya yang juga mengalami bencana longsor, yakni Desa Kiarasari, Kiara Pandak, Urug, Cisarua, dan Desa Cileuksa. Untuk akses jalan yang tertutup akibat banjir dan longsor, sebagian titik sudah terbuka yakni pada Jalan Raya Cigudeg – Kecamatan Sukajaya sepanjang 7 Km sudah, Posko Utama – Sub Pos Harkat Jaya sepanjang 2 Km, dan ruas Jl. Kiarasari – Jl. Pasir Madang sudah berhasil dibuka 4 titik dari 13 titik longsoran. 
 Presiden Jokowi bersama rombongan, pagi tadi, Minggu 5 Januari 2020, berangkat menuju Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dengan menggunakan Helikopter Super Puma TNI AU. Rombongan Presiden yang terdiri dari tiga helikopter lepas landas dari Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada pukul 08.15 WIB. 

Pada pukul 08.30 WIB, dua helikopter yang ditumpangi oleh perangkat kepresidenan dan membawa bantuan logistik untuk pengungsi berhasil mendarat terlebih dahulu di helipad Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Namun karena cuaca buruk, pilot helikopter Presiden memutuskan untuk kembali ke Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja, Kabupaten Bogor dan tiba pada pukul 09.05 WIB. Setibanya di Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja, atas perintah Presiden, Menteri Basuki langsung menuju Kecamatan Sukajaya melalui jalur darat. Dalam kunjungan ke Kecamatan Sukajaya, Menteri Basuki didampingi oleh Direktur Preservasi Jalan Ditjen Bina Marga Athiyanto Busono. (*) 

Editor : Lasman Simanjuntak

Kamis, 19 September 2019

Kepala BPPSDMP Kementan Launching SIMURP

Depok, BeritaRayaOnline,- Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, infrastruktur, inovasi teknolovi, dan SDM yang handal, merupakan pengingkit produksi dan produktivitas pertanian dan proyek SIMURP akan mengangkat tiga pengungkit tersebut. Tujuan pengembangan irigasi petanian yaitu untuk meningkatkan produkrivitas indeks pertanamanan dari 100 menjadi 200, 300 bahkan 400. "Irigasi dapat mengungkit produktivitas persatuan waktu, meningkatkan persatuan luas. Karena keutuhan hidup tanaman afalah oksigen dan air.

Dedi Nusyamsi menambahkan, Inovasi teknologi bisa meningkatkan produkrivitas persatuan waktu. Dengan menggunakan varietas yang unggul, wajtunya lebih pendek dan hasilnya lebih meningkat. Inovaai teknologi pasti akan mengurangi biaya produksi. Penggunaan alsintan dapat mengirangi biaya produksi dan tenaga kerja. "Kalau produktivitas tinggi karena memakai infrastruktur dan inovasi tinggi, maka hasilnya akan mendapatkan komoditaa yang punya daya saing, aehingga untuk mencapai lumbung pangan dunia bisa tercapai", tambahnya.

Kunci keberhasilan SIMURP menurutnya adalah kerjasmaa dan sinergitaa dari seluruh pelaku proyek dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Karena kalau salah satinya tidak ada kerjasama yang baik, maka SIMURP akan sia-sia.

Dedi Nusyamsi mengingatkan, bila ingin proyek SIMURP berhasil, maka harus kerjasama dengan baik, apalagi mekanisme pembiayaannya melakui on granting yang sangat membutuhkan partisipasi dari dinas pertanian provinsi dan kabuoaten/kota.

  Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Leli Nuryati mengatakan, tujuan dari proyek SIMURP adalah optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan dengan target luasnareal 275.000 hektar yang diharapkan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas padi dan komoditas pertanian lainnnya. Dirinya juga menambahkan, proyek SIMURP akan dilakukan mulai 2019-2024 di 8 provinsi dan 16 kabupaten.
Leli Nuryati mengungkapkan kegiatan yang akan dilakukan yaitu rehabilitasi irigasi dan drainase mendesak, rehabilitasi sistem irigasi dan drainase mendesak, dan jasa manajemen proyek dan konsultasi. "Pusluhtan sendiri fokus pada kegiatan cilane smart agriculture atau pertanian cetdas iklim. Hal teraebut untuk mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, mengurangi resiko gagal panen, mengurangi emisi gas rumah kaca swrta meningkatkan pendapatan petani", tambahnya.

Teknologi smart agriculture dijamin akan berlanjut, karena inovasi ini menurutnya adaktif terhadap perubahan iklim.
"Kita sudah masuk di era perubahan iklim, cirinya peningkatan suhu global, peningkatan permukaan air laut, intensitas dan kualitas anomali iklim elnino atau la nina meningkat, "Perubahan iklim dan emisi gas kaca dan pemanasan global itu harus dihindari, caranya dengan pengairan yang tidak tergenang yang membuat aktifitas mikroba tumbuh pesat dan mengurangi gas rumah kaca. Yang paling penting lagi bagaimana SDM dapat memelihara jaringan irigasi secara manfaatnya maksimal sehingga umurnya lama", Tegas Dedi Nursyamsi.
 Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) meluncurkan proyek Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) untuk mengoptimalisasi dan memodernisais sistem layanan irigasi.
Pendanaan proyek tersebut berasal dari Loan Agreement (Perjanjulian Utang) antara Pemerintah Indoensia dengan Bank Dubia dan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB).
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengungkapkan, proyek ini bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian melalui peningkatan produktivitas per satuan waktu (indeks pertanaman) dan produktivitas per satuan luas. Iirigasi berpengaruh terhadap lebih dari 40% produksi pertanian.
"Jadi dengan perbaikan infrastruktur irigasi, indeks pertanaman dapat ditingkatkan dari 1 kali menjadi 2 kali. Dari Indeks pertanaman 100% menjadi 200%, bahkan 300%. Luar biasa peningkatannya berlipat-lipat," ungkapnya.
Tekait penyuluhan pertanian, BPPSDMP fokus pada penggumaam teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim. Dedi menjelaskan, kegiatan tersebut adaptif terhadap perubahan iklim. Teknologi tersebut juga dapat mengurangi emisi gas metan yang merupakan gas rumah kaca (GRK).
Dalam teknologi CSA, penggunaan air irigasi dapat dihemat melalui irigasi terputus (intermittent irrigation) yang sawahnya tidak selalu tergenang dan penggenangan sawah secara macak-macak.
"Kalau tanaman tinggi enggak perlu digenangi. Meng-induce [memacu] dekomposisi bahan organik tinggi, pelepasan hara tinggi, asam-asam organaik release [lepas], sehingga produktivitas tanaman meningkat," ujarnya.
Proyek SIMURP dilaksanakan di 13 daerah irigasi dan 2 daerah rawa di 8 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kaimantan Tengah, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tebggara Barat serta 16 kabupaten seperti Serdang Bedagai, Deli Serdang, Banyuasin, Indramayu, Cirebon, Karawang, Subang, Purworejo, Purbakingga, Banjarnegara, Jember, Katingan, Bone, Takalar, Pangkajene Kepulauan, dan Lombok Tengah.
Luas yang dicakup dalam proyek ini 276.000 hektare dimulai pada tahun 2029-2024. Proyek.dimulai dengan pelaksanaan Training of Master (ToM) bagi para petugas yang berasal dari dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), widyaiswaea, penyuluh pertanian provinsi, dan penyuluh pertanian pusat.
"Rehabilitasi [irigasi] sudah. Sekarang yang sedang dilakukan adalah aktivitas CSA-nya mulai dari sosialsasi, dilanjutkan dengan ToT (Training of Trainer), kemudian ToF (Training of Farmer)," ungkapnya.

Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mengajarkan petani dan penyuluh pertanian budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim
TABLOIDSINARTANI.COM, Depok---Kementerian Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menetapkan 15 daerah di 16 kabupaten pada delapan provinsi menjadi lokasi proyek SIMURP (Strategic Irrigation Modernisasi on and Urgent Rehabilitation Project). Dengan adanya proyek ini daerah bisa melakukan pertanian yang cerdas iklim.
Dari 15 daerah tersebut berlokasi di 13 daerah irigasi dan dua daerah rawa. Ke-15 daerah itu berada di delapan provinsi yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.
Dari delapan provinsi itu berlokasi di 16 kabupaten yaitu Serdang Bedagai, Deli Serdang, Banyuasin, Indramayu, Cirebon, Karawang, Subang, Purworejo, Purbalingga, Banjarnegara, Jember, Katingan, Bone, Takalar, Pangkajene Kepulauan, dan Lombok Tengah.
Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, dalam kegiatan SIMURP ini, pihaknya fokus dalam kegiatan CSA (Climate Smart Agriculture) atau Pertanian Cerdas Iklim. Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mengajarkan petani dan penyuluh pertanian budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim.
Selain, mengurangi resiko gagal panen, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), serta meningkatkan pendapatan petani, khususnya di daerah irigasi proyek SIMURP. "Dengan perbaikan irigasi akan meningkatkan produktivitas pertanian persatuan waktu. Dalam arti indeks pertanaman yang semula hanya 100, bisa naik jadi 200, bahkan 300," katanya di sela-sela Launching Proyek SIMURP di Depok, Kamis (19/9).
Dengan adanya perbaikan irigasi, Dedi mengatakan, juga akan ada peninhkayan produktivitas persatuan luas. Dalam hal ini produktivitas tanaman yang sebelumnya hanya 4-5 ton/ha naik menjadi 7-8 ton/ha, karena terjamin kecukupan air untuk tanaman.
Dalam proyek SIMURP lanjut Dedi, juga akan memasukkan inovasi teknologi. Khususnya teknologi dalam menghadapi perubahan iklim dengan kegiatan CSA. Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah memperkenalkan teknologi budidaya untuk adaptasi perubahan iklim. Misalnya, benih padi berumur genjah tahan kekeringan, teknologi budidaya Jarwo super, pemupukan berimbang  dan hemat dan teknologi hemat air lainnya.
"Kita ketahui semua, perubahan iklim menyebabkan El Nino dan La Nina berkepanjangan. Kita rasakan jika sebelumnya La Nina berlangsung 10 tahun sekali, sekarang bisa 3 tahun sekali. Musim kemarau juga kita rasakan lebih panjang," ungkapnya.
Faktor SDM
Hal lain yang penting lagi dalam proyek SIMURP menurut Dedi adalah faktor SDM pertanian, baik penyuluh, petani dan stakeholder pertanian lainnya. Diharapkan ke depan dengan adanya perbaikan irigasi, petani juga bisa merawat  jaringan irigasi agar bisa berumur lebih lama.
"Kegiatan dalam SIMURP ini menggarap tiga faktor tersebut.  Infrastukturnya, inovasi dan SDM pertanian, termasuk petani sebagai pelaksana pertanian. Jadi tujuan SIMURP tidak lepas dari tiga komponen itu yang akan meningkatkan produktivitas pertanian," tuturnya.
Dedi mengatakan, SIMURP merupakan proyek yang bersumber dari Loan Agreement antara Pemerintah Indonesia dengan World Bank dan Asian Infrastructur Bank (AIIB). Dalam pengelolaannya dilakukan lintas kementerian dan lembaga yakni Bappenas, Kementrian PUPR, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian.
Tujuan dari proyek SIMURP adalah optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan. Target luas arealnya sekitar 276.000 ha di delapan provinsi.
Sementara itu Kepala Pusat Penyuluhan, BPPSDMP, Leli Nuryati mengatakan, proyek SIMURP ini tidak lepas dari  upaya pemerintah dalam mitigasi  perubahan iklim global yang berdampak nyata pada pertanian. Misalnya adanya kenaikan suhu udara dan pola hujan yang makin tidak menentu. "Perubahan itu mempengaruhi budidaya dan teknologi terapan pertanian," katanya.
Proyek SIMURP ini akan dimulai tahun 2019 hingga 2024. Tahun ini akan dimulai pelaksanaan Training of Master bagi petugas yang berasal dari berbagai profesi antara lain disebabkan dari Polbangtan, Widyaiswara, penyuluh pertanian provinsi dan pusat.
Sedangkan tahun 2020, kegiatan akan dilanjutkan yakni training of trainer (TOT), training of Farmer teknologi berbasis CSA, dukungan penerapan teknologi CSA Padi dan non padi. "Kita juga akan melakukan penguatan Balai Penyuluh Pertanian berbasis CSA dan pengembangan produk dan jejaring pasar," katanya.
 
 
(Swadayaonline.com/Gatra.com/tabloidsinartani.com)