Senin, 29 Desember 2025

Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh : Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan PKJ TIM

JAKARTA- Tampilan Penyair Halimah Munawir sebagai pembaca puisi dalam acara "Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh" di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sangat memukau pengunjung.

Dalam acara yang digelar  Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo,  Dewan Kesenian Jakarta (DKJ),  serta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Jumat (26/12/2025), Halimah Munawir  yang membacakan puisi bertajuk "Diam Sangat Menyakitkan" itu, seakan menjadi sosok utama yang menghidupkan suasana acara.

Dari kalimat ke kalimat yang diungkap Halimah  begitu menyentuh perasaan pengunjung, sehingga orang-orang yang hadir dibuat diam dan merasa simpatik.

Di tengah krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, puisi yang dibacakan penyair Halimah Munawir begitu pas dan  tepat, sehingga momen amal yang digelar benar-benar menyentuh suasana.

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi kolektif atas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh 2025, sehingga menyisakan luka sosial, ekologi, dan kemanusiaan.

Sangat Tepat 

Ketika diwawancarai, sebagai penyair dan kririk sastra Indonesia, Dr Drs Tarech Rasyid MSi,  menyatakan bahwa  puisi merupakan kritik terbuka atas tarjadinya kejahatan ekologis. 

"Sebagai ruang sastra yang tajam dan langsung menyaksikan kejahatan dan kebusukan ekologis, puisi mampu berbicara banyak tentang kebusukan orang-orang yang terlibat dalam kejahatan ekologis tersebut," ujar Tarech.

Karena itu, lanjutTarech, Penyair Perempuan Indonesia Halimah Munawir sangat tepat memprediksi persoalan itu ketika ia membaca puisi dalam kegiatan tersebut.

Saat itu, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang, namun menghantam kesadaran.

Tak sekadar meratap, namun penyair mampu menggugat kejahatan ekologis tersebut. 

"Ini yang disebut sebagai kaidah ungkapan esensi sastra secara mendasar, sehingga ketika Halimah Munawir membacakan puisinya ia tak hanya sekedar meratap tapi dalam ratapan itu ia mengungkap kemarahan dan menggugat secara sosial," ungkap mantan rektor Universitas Palembang tersebut.

Dalam bacaannya Halimah mengungkap kegelisahannya tentang pembabatan hutan yang sewenang-wenang. 

Secara estetika, penyair wanita ini mampu mengungkap eksploitasi sumber daya alam dan keserakahan ekonomi yang menjadi penyebab struktural bencana di Aceh. 

"Dengan menggunakan konsep metafora Halimah berani mengeritik tajam terhadap sistem pemerintah yang seolah membiarkan alam dirusak pihak yertentu," tegas Tarech yang kebetulan menyaksikan acara tersebut. 

Sementara itu, penyair Halimah Munawir sendiri menyatakan puisi merupakan media edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih mendalam dibanding laporan teknokratis.

"Jadi, puisi yang saya baca bertajuk 'Diam Sangat Menyakitkan' ini tak hanya sekadar karya sastra, tetapi merupakan bentuk karya sastra yang merupakan dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis," ucapnya usai membacakan puisinya.

Penyair, Sastrawan Halimah Munawir lahir di Cirebon pada 18 Januari 1964. Ia gemar menulis sejak SMA hingga kini.

 "Saya aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional," ucapnya.

Halimah juga menulis beberapa novel penting antara lain, The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi. 

Sebagai Penyair dan Sastrawan, Halimah Munawir sangat dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritual, dan keadilan sosial. 

Demikian kutipan yang diperoleh dari laporan liputan oleh Penyair Anto Narasoma (Palembang), dan telah disampaikan di sebuah komunitas WA Group Sastra, Minggu, 28 Desember 2025.(**/Lasman )

Rabu, 24 Desember 2025

Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF) ke-4 akan Diselenggarakan 3-7 Juni 2026 di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat

PADANG- SatuPena Sumatera Barat dan Yayasan Sumbar Talenta Indonesia (YSTI) akan menyelenggarakan Festival Literasi Internasional Minangkabau  ke-4 (IMLF) pada  3-7 Juni 2026, di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat untuk merayakan 1 (satu,)  abad Jam Gadang.

Demikian dikatakan oleh Sastri Bakry, Presiden Komite IMLF di Kota Padang, Kamis (25/12/2025).

Menurutnya, membangun kesuksesan festival sebelumnya yang  diikuti peserta dari 12 negara pada tahun 2023, 17 negara pada tahun 2024, dan 24 negara di tahun 2025.

"Kami senang melanjutkan tradisi mempromosikan literasi dan pertukaran budaya," ucapnya.

Festival ini akan mempertemukan penulis, pemikir, sastrawan, peneliti, seniman, aktivis, artis dan mahasiswa dari seluruh dunia.

" Untuk bisa  berbagi dan membahas tren terbaru dan perkembangan literasi , ekonomi kreatif, sastra dan budaya," katanya lagi.

Tema festival ini adalah 100 tahun Jam Gadang  "Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kekayaan, Perdamaian, dan Pembelajaran Keberlanjutan".

Acara ini akan menampilkan pidato kunci, diskusi panel, dan kesempatan jaringan, serta berbagai kegiatan seperti seminar, pertunjukan seni, pembacaan puisi, diskusi ekonomi budaya, pameran, dan peluncuran buku.

" Kami mengharapkan lebih  200 peserta  dari 30 negara, menjadikannya kesempatan yang sangat baik bagi anda untuk bisa tampil dan terhubung dengan orang hebat dunia lain di bidang anda," pungkasnya 

Untuk mengkonfirmasi kehadiran, silakan RSVP sebelum akhir Januari 2026 melalui formulir Google. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat lampiran atau hubungi Soni Drestiana di +62 857 1783 7310.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 22 Desember 2025

Hari Ibu dan Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen Kepak Sayap "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" : Melalui Karya Sastra, Suara Anak Indonesia Dihadirkan Sebagai Subyek Layak yang Didengar, Dihormati dan Dilindungi

JAKARTA- Melalui karya sastra,  suara anak Indonesia dihadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang layak didengar, dihormati, dan dilindungi.

Demikian dikatakan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan ketika memberikan kata sambutan yang dibacakan oleh Dra.Eko Novi Aryanti Rahayu Damayanti, Msi, Asisten Deputy Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II.

Pada peluncuran dan diskusi antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda " Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) -dengan moderator Rissa Churria - di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Lantai IV, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025) sekaligus memperingati Hari Ibu 2025.

"Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada Selasa 22 Desember 2025 ini, kehadiran buku  
antologi puisi dan cerpen ini akan menjadi pengingat bahwa pengasuhan, kasih sayang, dan perlindungan adalah pondasi utama bagi tumbuh kembang anak," katanya.

Menurutnya, karya dalam buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah " setebal 542 halaman ini adalah sebuah karya yang lahir dari kepedulian, keberanian, dan cinta terhadap.dunia anak Indonesia. 

"Karya dalam buku ini memotret dunia anak dengan bahasa yang jujur, dan menyentuh tentang harapan, luka,  keberanian, dan tentang mimpi yang terus tumbuh meskipun dalam keterbatasan," ucapnya.

Dikatakannya lagi, keluarga tidak dapat menjalankan peran pengasuhan sendiri.Pengasuhan yang kuat di rumah perlu ditopang oleh komunitas yang peduli.Kerika anak melangkah keluar dari rumah, ia berhadapan dengan sekolah, teman sebaya, ruang publik dan dunia digital.

"Disinilah peran komunitas menjadi sangat penting sebagai perpanjangan tangan pengasuhan keluarga.Taman Insoirasi sastra Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana komunitas dapat menjadi ruang aman dan ruang tumbuh bagi anak, cerita-cerita yang diangkat dapat menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia," kilahnya.

Wakil Menteri Veronica Tan di ujung kata sambutannya sekali lagi mengatakan melalui sastra dan ruang ekspresi, anak-anak diberikan kesempatan untuk menyuarakan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup secara aman dan bermartabat.

"Sastra menjadi jembatan empati, memperkuat koneksi antar manusia, sekaligus menumbuhkan keberanian anak untuk mengenal dan menyampaikan dirinya," pungkasnya.

Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Octavianus Masheka-yang membuka acara sastra tersebut- menyatakan rasa terima kasihnya kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku ini.

"Ini adalah suatu bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra.Sesungguhnya saya juga ikut prihatin kondisi anak-anak di Indonesia yang masih mengalami kekerasan pada anak.Semoga buku antologi puisi dan cerpen ini dapat bermanfaat," katanya.

Denyut Nadi Kemanusiaan 

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispusip) Provinsi DKI Jakarra Nasruddin Djoko Surjono mengatakan sastra adalah denyut nadi kemanusiaan.

Di dalamnya tersimpan suara-suara yang tak selalu terdengar di ruang fornal, kegelisahan, luka  harapan, dan cinta.Melalui sastra, kisah-kisah ibu termasuk mereka yang menghadapi bencana tidak tenggelam menjadi angka statistik  tetapi hidup sebagai cerita, ingatan dan pelajaran kemanusiaan.

"Untuk itu saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) yang secara konsisten merawat sastra sebagai ruang keberpihakan, ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan terus dijaga dan disuarakan," katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir , lanjutnya, ruang sastra telah menjadi mitra dialog kebijakan, tempat nilai perlindungan, kasih, dan keberpihakan disuarakan secara manusiawi.

Dari satu antologi ke antologi berikutnya hingga "Kepak Sayap Bunda" hari ini kehadiran pemerintah tidak tampil sebagai pengarah, melainkan sebagai pendengar dan penguat yang membuka ruang agar sastra turut menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan anak-anak indonesia. 

"Kekuatan buku antoligi puisi dan cerpen ini juga terletak pada kebersamaan suara.Sekitar 190 penyair dan 90 cerpenis dari berbagai penjuru nusantara telah menyatukan rasa dan kepedulian.Ini menunjukkan bahwa sastra indonesia hidup dan peka hadir untuk menyentuh persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia ," ucapnya.

Buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" mengajarkan kita bahwa perlindungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan atau suara keras  melainkan melalui ketenangan, kehadiran, dan keteladanan.

"Dari ketenangan seorang ibu, lahir keberanian seorang anak.Dari pelukan yang tulus,tumbuh daya tahan menghadapi masalah," pungkasnya.

Parade Baca Puisi 

Dalam diskusi sastra -yang diselingi baca puisi dalam rangka Hari Ibu 2025- nara sumber (Pembicara) Reza Indragiri, Master Psikolog Forensik menyinggung soal data dari SIMFONI-PPA (Juli 2025) yang menyebutkan  tercatat ada 15.615 kasus kekerasan kepada anak yang mayoritas berusia 13-17 tahun. Ironisnya terjadi di.lingkungan rumah tangga yang harusnya menjadi ruang aman dan nyaman.

" Sebagian besar anak yang jadi korban kekerasan tidak akan menjadi pelaku.Namun bisa dipastikan sebagian besar anak yang men jadi pelaku sesungguhnya akan menjadi korban.Anak merah putih tidak takut masalah , posisi mereka menjadi tidak takut lada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kanan.Dengan harapan takut pada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kiri,"pungkasnya.

Parade baca puisi-didahului dengan musikalisasi puisi.oleh gitaris Rinidiyanti Ayahbi- berturut-turut tampil Fanny Jonathans Poyk, Kurnia Effendi, Halimah Munawir, Nurhayati, Indar, Jamal Rahman Iroth berpasangan dengan puteranya Arung Larik Pramudya Rahman (7tahun) dari Bolangmongondow, Sulut ,  Farinnisa, dan Ferlynda Natasya Andreana.

Ikut hadir sebagai tamu acara sastra tersebut antara lain  Penyair dan Sastrawan seperti Imam Ma'arif, Remmy Novaris DM, Pulo Lasman Simanjuntak, Giyanto Subagio, Erwan Juhara, Shobir Poer,Nuyang J, Arieg Joko Wicaksono, dan masih banyak lagi.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 15 Desember 2025

Pdt.Tonggo Tua Hutagaol : Saatnya Sekarang Sebarkan Kasih Allah kepada Semua Manusia

JAKARTA- "Saatnya sekarang, terutama menjelang tutup tahun 2025 untuk sebarkan Kasih Allah kepada semua manusia  tanpa melihat apa agamanya," ujar Pendeta Tonggo Tua Hutagaol dari Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) Sidang Setu.

Dalam wawancara khusus disela-sela acara 'Pelayanan Kasih' jelang hari Natal (25 Desember 2025)  -bersama warga masyarakat pinggiran -di sekitar kawasan Kampung Melayu-Jatinegara, Jakarta Timur, .Minggu siang (14/12/2025), Pdt.Tonggo Tua Hutagaol mengatakan siapa lagi yang dapat sebarkan Kasih Allah kepada mereka, warga masyarakat pinggiran (marjinal).

"Mereka datang kemari untuk mendapatkan Pelayanan Kasih dengan berbyanyi, berdoa, serta mendengarkan Firman Tuhan yang tadi telah disampaikan Pdt.Debora Manurung.
Warga yang datang sekitar 60 sampai 70 orang ini ada yang berprofesi sebagai pemulung, pengamen, pengepul, tukang pemungut sampah, juru parkir, bahkan pengangguran sekalipun," ucapnya.

Dalam wawancara yang didampingi Liva Situmorang dari Yayasan Hope Center Jakarta, pendeta yang 'ramah' ini menghimbau harus ada gerakan hati nurani dari kita semua untuk lebih peduli lagi membantu masyarakat prasejahtera yang tinggal di sekitar kita.

"Harus ada hati nurani untuk perhatian kepada orang-orang di sekitar kita.Sebab siapa lagi yang akan memperhatikan mereka, kalau bukan kita-kita ini debagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.Sebab bukan ha nya kita yang menperoleh keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus , tetapi juga semua manusia," pungkasnya. 

Acara Pelayanan Kasih yang sangat sederhana - dipimpin Pdt.Debora Manurung -berlangsung di Aula Camp 160 Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Diselenggarakan secara "lesehan" hanya gelar tikar plastik tanpa duduk di atas bangku.Firman Tuhan yang disampaikan juga sangat sederhana dan bersahaja, sambil menyanyikan beberapa lagu tema Natal dan ditutup dengan doa.(Lasman)

Minggu, 14 Desember 2025

Wakil Menteri Veronica Tan akan Hadir Sebagai Pembicara Dalam Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen ' Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah'

JAKARTA- Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( PPPA) Veronica Tan akan hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara sastra peluncuran buku antologi puisi dan cerpen bertema "Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih  Tidak Takut Masalah ".

 Bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI)  di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Ali Sadikin Lantai 4 di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025).

Demikian dikatakan oleh Octavianus Masheka , Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Senin pagi (15/12/2025).

Menurutnya, pada  2021,Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga) memberikan kata sambutan dalam buku antologi puisi bersama "93 Penyair Membaca Ibu".

Sedangkan pada 2024,Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan memberikan kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama 96 Penyair membaca ibu "Ibu Aku Anakmu".

"Dan kembali di tahun 2025 ini Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Veronica Tan memberikan Kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama " Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah".

"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak,Veronica Tan, atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku.Ini adalah sebuah bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra," ujar Bung Octa-panggilan akrabnya-melalui saluran telepon seluler.

Kepada  sekitar 190 penyair -dari berbagai daerah di Indonesia - yang ikut berkontribusi mengirim naskah puisi serta sekitar 90 cerpenis mengirim karyanya di dalam buku antologi  puisi dan cerpen ini menandakan bahwa bpenyair dan cerpenis,mempunyai perhatian kepada permasalahan ibu dan anak.

"Kami juga ucapkan banyak terima kasih
 kepada,Dyah N Kusuma,Erndra Acha,sebagai panitia penerima naskah. Kemudian kepada kurator Andi Mahrus,Fanny Jonathan Poyk,Kurnia Effendi,dan Sofyan RH Zaid.Sekali lagi kami ucapkan terima kasih," pungkasnya. 

Para Pembaca Puisi 

Dalam acara sastra bersama TISI -di ujung akhir tahun 2025 ini- akan tampil pula pembicara Reza Indragiri, dan sambutan Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI) dengan moderator acara Swary Utami Dewi.

Sementara para pembaca puisi antara lain Nunung Noor El Niel (Bali), Rissa Churria (Bekasi), Fanny Jonathans Poyk (Depok), Jamal  Rahman Iroth (Bolaang Mongondow Sulut), Farin Nisa (Yogjakarta), Indar (Jakarta), Nurhayati (Bekasi), Ferlynda Natasya Andreana (Jakarta), Kurnia Effendi (Jakarta) serta Rinidi Yanti Ayahbi (Depok).

Sebagai kata penutup ,dikutip puisi berjudul:

SEPI 22

Karya Octavianus Masheka

ibu,
membaca dirimu
adalah membaca bentangan sejarah cinta kasih sayang tak bertepi
bagai gelora laut biru dalam tak terukur
bagai sepoi angin menyapa tiada henti

kesetiaan
merawat dan membesarkan
hingga tumbuh berkembang
adalah wujud janjimu
walau sakit duri kehidupan
menghadirkan nanah dan luka darah
menyakiti jiwa raga
kau tetap tegar melangkah 

tak lekang karena panas
tak lapuk karena hujan
abadi sepanjang masa

sepi
beri aku air
pembasuh kaki ibu
aku minum
sebagai anggur kesejukan jiwa

Tangerang,16.11.21.
(Lasman Simanjuntak)

Sabtu, 06 Desember 2025

Seasons of Grace, Pameran Seni oleh Oliver Wihardja di Mezanin Katedral Jakarta29 November 2025 — 4 Januari 2026

JAKARTA- Seasons of Grace, pameran terbaru karya seniman Indonesia Oliver Wihardja, dibuka di Mezanin Katedral Jakarta mulai 29 November 2025 hingga 4 Januari 2026. 

Pameran ini menampilkan 17 lukisan yang merefleksikan tema iman, ciptaan, dan kehadiran rahmat Ilahi sepanjang perjalanan tahun liturgi.

Kalender Renungan Rohani

Mengisi sayap kiri mezanin, pameran ini mempersembahkan 14 lukisan yang dipilih sebagai karya resmi untuk Kalender Katedral Jakarta 2026. 

Setiap lukisan dipilih karena pesan khusus yang selaras dengan bulan yang diwakilinya,mengajak umat memasuki musim doa, perenungan, dan pertumbuhan rohani.

Salah satu karya yang ditampilkan secara khusus menggambarkan ajaran sosial gereja ke- 5, Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta th 2026: Keutuhan Alam Ciptaan — sebuah ajakan menuju pertobatan ekologis, pelestarian lingkungan, dan komitmen untuk menyembuhkan kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia.

Koleksi Kelahiran Yesus di Pusat Mezanin

Di area mezanin tengah, pengunjung dapat melihat tiga lukisan yang menggambarkan Kelahiran Yesus Kristus. 

Karya-karya ini dipamerkan berdampingan dengan figur-figur Kelahiran (Nativity) milik Katedral, yang merupakan koleksi bersejarah setua usia katedral itu sendiri (dibangun pada tahun 1901). 

Lukisan dan patung tersebut bersama-sama menciptakan ruang kontemplatif yang merayakan misteri Inkarnasi.

Tentang Seniman

Oliver Wihardja adalah seniman asal Jakarta yang dikenal melalui penggunaan warna yang ekspresif, kedalaman spiritual, serta kemampuan menerjemahkan tema-tema Kitab Suci ke dalam karya yang hangat dan mudah dihayati. 

Karyanya telah dikoleksi oleh gereja, institusi, serta kolektor pribadi di berbagai kota di Indonesia. 

Seasons of Grace menjadi kolaborasi terbarunya dengan Katedral Jakarta, melanjutkan dedikasinya menghadirkan seni yang menguatkan dan mengundang perenungan.


Informasi untuk pengunjung adalah sebagai berikut ;
Lokasi di Mezanin, Katedral Jakarta, mulai tanggal 29 November 2025  sampai dengan 4 Januari 2026.Tiket masuk gratis untuk umum.

Sedangkan jam kunjungan yaitu  Senin–Jumat mulai pukil 10.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB serta pukul  14.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB .Sabtu mulai pukul  10.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, sedangkan hari Minggu
tutup.(Lasman)


Rabu, 03 Desember 2025

Buku Berjudul " Serat Panji Pudhak Lelana " Karya Naufal Anggito Yudhistira dan Proses Kreatifnya

JAKARTA- Buku berjudul “Serat Panji Pudhak Lelana” adalah salah satu karya Naufal Anggito Yudhistira yang berupa roman Panji dengan bahasa Jawa dan ditulis dalam tembang macapat. 

Karya ini menceritakan kisah perjalanan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Karya ini mengangkat cerita tentang Panji yang berkelana hingga negeri Tumasik dan Dewi Sekaartaji yang menyamar sebagai laki-laki bernama Pudhaklelana. 

"Keduanya adalah kekasih yang sudah dijodohkan sejak masih belia, namun terpisah mengikuti perjalanan takdir. Mereka saling menemukan, lalu kembali terpisah," cerita Naufal Anggito Yudhistira dalam keterangan tertulis disampaikan Rabu (3/12/2025).

Bahkan, lanjutnya, Panji Asmarabangun sempat tertimpa petaka menjadi ikan gabus putih. Akhir petualangan cinta mereka adalah bersatunya kembali Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. 

Perkenalan dengan Cerita Panji

Perkenalan Naufal Anggito Yudhistira dengan cerita Panji tidak lain bermula dari dongeng dan cerita rakyat yang biasa dibacakan oleh neneknya, seperti cerita Keong Mas dan Cindhe Laras. 

Kisah Panji juga dikenalnya dari VCD pertunjukan Kethoprak dengan judul Kirun Edan Bagyo dadi Ratu, yang bersumber dari cerita Panji Angreni. Walaupun pada masa lalu cerita Panji sangat populer dalam budaya Jawa, namun di abad ke-21 sudah tidak loagi populer. 

Hal ini yang membuat cerita Panji tidak cukup berbekas dalam benak Naufal Anggito Yudhistira. Hal ini cukup berbeda dengan epos besar Ramayana, Mahabarata, dan Damarwulan yang masih dikenalnya dengan cukup akrab karena terkait dengan lakon pertunjukan. 

Di dalam seni pertunjukan, tari-tari bercerita Panji sebetulnya tidak merupakan hal yang asing bagi Naufal Anggito Yudhistira. Tari seperti Bugis Kembar, Handaga Bugis, Topeng Gunungsari, Klana Topeng, Karonsih, dan lain sebagainya sudah sering disaksikannya sejak kecil. Bahkan, tari Klana Topeng menjadi salah satu tari putra gagah gaya Surakarta kesukaannya ketika masa SD-SMP. 

Walaupun sudah terpapar dengan tari-tari bernuansa Panji di masa kecilnya, kesadaran dan kecintaannya tentang cerita Panji belum tumbuh hingga berkuliah. 

Ketertarikan Naufal Anggito Yudhistira pada cerita Panji muncul setelah mengikuti Seminar Internasional Panji-Inao di Perpustakaan Nasional saat masih menjadi mahasiswa tingkat 1 di Prodi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa Universitas Indonesia.

 Dari sana, muncul suatu keinginan untuk mempelajari sastra dan pertunjukan berbasis cerita Panji. Salah satu bacaan penting yang membawanya masuk lebih dalam ke dalam dunia Panji adalah tesis dari dosennya, yaitu Bapak Karsono H Saputra. 

Selain itu buku berjudul “Tjeritera Pandji dalam Perbandingan” karya Poerbatjaraka menjadi pintu masuknya ke dalam kajian Panji. 

Dari proses pengenalan itu, Naufal Anggito Yudhistira makin menyelami kekayaan sastra dan pernaskahan Panji. Hal ini pula yang membawanya mengenal berbagai teks sastra Panji yang muncul dari tradisi Pesisiran dan Keraton-keraton Jawa. Selain itu, ketertarikannya kian berkembang setelah mengenal pertunjukan wayang gedhog. 

Proses Anulad Kawi Radya

Salah satu cara belajar yang dilakukan Naufal Anggito Yudhistira untuk menambah wawasannya adalah dengan membaca dan menyalin karya-karya sastra Jawa klasik dengan aksara Jawa.

 Selain itu, Naufal Anggito Yudhistira juga perlahan-lahan mulai mencoba menggubah karyaa sastra berbentuk tembang macapat sejak S1. Karya-karya itu kebanyakan belum terbit. 

Salah satu karya tulisannya yang sudah diterbitkan adalah “Serat Panji Pudhak Lelana”. Proses belajar semacam itu memang termasuk aneh. 

" Walau begitu, saya terus cara belajar dengan menyalin dan menggubah karya sastra berbentuk tembang macapat itu merupakan cara yang sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman sastra dan bahasa Jawa," katanya lagi.

Mengapa muncul keinginan bagi Naufal Anggito Yudhistiraa untuk menyalin berbagai serat dan menggubah berbagai serat baru? Hal ini tidak lain adalah keinginan untuk menguasai kesusastraan Jawa sebagaimana mestinya. 

Menguasai kesusastraan Jawa tidak bisa dilaakukan dengan cara modern. Penguasaan kesusastraan Jawa juga berarti menguasai baca-tulis aksara Jawa, menguasai tembang, menguasai keragaman gaya bahasa, dan kebudayaannya. 

Kesadaran perlunya melestarikan kemampuan “kapujanggan” tidak hadir begitu saja. Orang Jawa selalu bangga dan lantang menyebut Ranggawarsita sebagai pujangga wekasa/pujangga pamungkas ‘pujangga penutup’. 

Mengapa orang Jawa justru bangga? Bukankah dengan demikian maka orang Jawa mengamini “kematian” dari keilmuannya? Pujangga bukan sekedar sastrawan, namun juga cendekiawan. 

Bahkan, dahulu pujangga acap kali masuk dalam jajaran paranpara nata ‘penasehat-lembaga pertimbangan raja’ di keraton-keraton Jawa. 

Dalam tradisi kepujanggaan Jawa, seorang pujangga tidak serta-merta dipandang seperti “pujangga” atau “sastrawan” dalam sudut pandang sastra Indonesia moder. Pujangga harus memiliki kemampuan dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa Kuna, kemahiran-penguasaan berbagai tembang, menguasai seni musik, berprilaku baik, berwawasan luas, mahir berbagai keterampilaan, menguasai berbagai pengetahuan, bahkan mampu menguasai berbagai aspek kasat mata dan tidak kasat mata. 

Hal itu menjadi kehebatan para pujangga terdahulu, seperti yang dimiliki Yasadipura I, Yasadipura II, Ranggawarsita, Sindusastra, Pangeran Karang Gayam, Mangkunegara IV, Pakubuwana IV, Nyi Sastrawanudya, dan lain sebagainya. 

Walaupun hampir mustahil menguasai kesusastraan Jawa sebagaimana para pujangga terdahulu, namun upaya belajar dengan menyalin dan menggubah serat adalah upaya mendekat dan menapaki pengetahuan dari para pujangga yang berhasil sampai pada generasi ini. 

"Proses ini boleh dikatakan sebagai upaya aniru-niru kawi radya ‘meniru para pujangga keraton’. Dengan begitu, pengetahuan sastra Jawa tidak akan ditafsirkan, diwariskan, dan dikembangkan dengan serampangan. Namun demikian, pengetahuan itu dapat dipahami dengan mendekati kedalaman rasa di dalamnya," ujar Naufal Anggito Yudhistira, Kandidat Doktor Ilmu Susastra pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini.

Keinginaan untuk menulis karya-karya sastra baru dilakukan cukup tertatih-tatih. Kesulitan dalam merangkai kata-kata menjadi selaras dengan keindahan bahasa sekaligus patokan tembang menjadi suatu tantangan tersendiri. 

Hal ini tentu menjadi upaya menghasilkan karya yang halus dan mendalam. Walaupun “Serat Panji Pudhak Lelana” bukan merupakan karya roman berbahasa Jawa terbaik yang dibuat Naufal Anggito Yudhistira, namun karya ini adalah titik tolak bagi Naufal Anggito Yudhistira untuk mencoba menulis karya panjang dengan langsung menembangkannya tanpa membuka rumus patokan tembang. 

Ancangaan untuk Masa Depan

Serat Panji Pudhak Lelana itu menjadi salah satu titik tolak bagi Naufal Anggito Yudhistira dalam menulis karya berbahasa Jawa dan bertembang macapat dalam bentuk roman. 

Dari segi bahasa, tampak adanya kesederhanaan pilihan kata. Baginya, karya ini menjadi titik tolak untuk mengenal cerita Panji lebih dalam lagi. Karya-karyanya terkait Panji tidak hanya dalam bentuk penelitian dan penggubahan karya, namun juga penggarapan seni pertunjukan.

 Di bidang penelitian ilmiah, ketertarikannya pada cerita Panji berkembang hingga membawanya lulus S2 dengan kajian filologi pada teks Panji Jayalengkara Angreni yang digubah dalam tradisi Keraton Surakarta. 
Dalam penelitian ilmiah, Panji telah diteliti olehnya  dalam ranah filologi, sstra, dan kesenian. 

Selain Panji Jayalengkara Angreni,  ia juga sudah pernah menerbitkan suntingan teks Panji Kuda Narawangsa versi panjaang di dalam penerbitan naskah Perpustakaan Nasional RI. Ketertarikannya pada cerita Panji itu pula yang membawanya melanjutkan studi S3 di prodi Ilmu Susastra Universitas Indonesia.

 Penelitian yang diangkat terkait dengan tari Bedhaya Gandrungmanis, salah satu karya tari gubahan Pakubuwana VIII yang mengambil cerita Panji Jayakusuma. 

Panji yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya itu tentu sangat berkesan bagi Naufal Anggito Yudhistira. Ada satu kalimat penting dari Bapak Karsono H Saputra yang amat membekas bagi Naufal Anggito Yudhistira.

 Beliau berkata, kalau Panji jadi warisan budaya dunia, lalu apa yang diwarisi Indonesia?” Kalimat ini sungguh berkesan, sebab pengakuan Panji sebagai warisan budaya  dunia tentu perlu ditanggapi dengan amat bijak. 

"Panji sebagai warisan budaya Indonesia, harusnya tidak hanya selesai dalam gelaran-gelaran seremoni saja, namun perlu untuk dikembangkan. Tentu pengembangan itu mengikuti cara yang berbeda-beda bagi tiap pegiatnya," pungkasnya.( Lasman Simanjuntak)