Jakarta, BeritaRayaOnline,-Di tengah 'serbuan' teknologi internet (TI) yang kian gencar- apalagi memasuki teknologi industri 4.0- anak-anak muda di lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara, Jakarta Timur,berjanji tetap akan membawa Alkitab, Sekolah Sabat (SS), dan Lagu Sion ke gereja yang edisi cetak, bukan digital secara online di HP Android.
"Anak muda harus memberikan contoh, karena sampai saat ini para orangtua masih tetap membawa Buku Alkitab konvensional, bukan digital yang diaplikasikan secara online di handphone kita," ujar Happy Hutapea, yang mewakili anak muda Jatinegara dalam diskusi terbatas mengenai "Kejahatan di Dunia Teknologi Internet" disampaikan oleh Lasman Simanjuntak (Pemimpin Departemen Komunikasi GMAHK Jatinegara) dalam Acara Inti Kebaktian Pemuda Advent (PA) di Jemaat GMAHK Jatinegara, Sabtu sore (29/2/2020).
Pada pembukaan seminar "kecil" ini ,Lasman Simanjuntak yang sehari-harinya adalah Praktisi Pers Online, memberikan informasi kita harus waspada Alkitab yang diunduh di komputer, laptop, tablet, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya.
"Misalnya, Alkitab berbahasa Inggris versi NIV (New Internasional Version) yang diterbitkan oleh Zondervan yang sekarang telah dimiliki oleh Harper Collins yang juga menerbitkan Satanic Bible atau Alkitab setan.Terjemahan Alkitab NIV telah menghapus 64.575 kata-kata dari Alkitab, termasuk kata Tuhan, Kalvari, dan Roh Kudus," ucapnya.
Pada kesempatan diskusi tersebut, dilontarkan dua pertanyaan 1) apakah saudara setuju dikatakan teknologi internet dapat menimbulkan kejahatan atau bisa timbulkan kebaikan, terutama digunakan untuk pelayanan, ibadah, dan penginjilan, 2) apakah saudara setuju bila kita datang ke gereja, apalagi Hari Sabat, tak perlu lagi bawa Alkitab, Sekolah Sabat(SS), dan Lagu Sion.Cukup bawa HP Android, tablet, atau note book?
"Kita harus akui belakangan ini sering terjadi kejahatan dalam dunia teknologi internet seperti berita hoaks, atau di-bully.Namun, kita tak bisa sepenuhnya mempersalahkan teknologi internet.Itu semua tergantung dari pribadi masing-masing," kata Happy Hutapea seraya mengutip Daniel 12:4.
"Ini semua merupakan tantangan bagi anak muda advent, dan kembali kepada diri kita masing-masing.Sekarang kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, mau tetap gunakan download aplikasi online atau tetap bawa Alkitab ke gereja.Namun, kita harus memberi contoh yang baik karena para orangtua kita masih tetap bawa Alkitab ke gereja," katanya lagi.
Sementara itu dari kelompok bapak-bapak yang diwakili Hengky Gunawan berpendapat setuju teknologi internet bisa membawakan kejahatan.
"Bahkan kemajuan teknologi internet bisa timbulkan fitnah (hoaks) yang bisa menjadikan kita seorang pemfitnah.Pornografi melalui internet bisa menjadi seorang cabul.Namun,teknologi ini jangan sampai kita musuhi.Kita manfaatkan teknologi internet untuk hal-hal yang berguna ," ucapnya seraya mengutip Firman Tuhan dalam Amsal 17:9 dan 1 Korintus 6: 9-10.
Menurut pendapat kelompok bapak-bapak ini, kita tidak setuju tak membawa buku Alkitab ke gereja.Sebab apa yang ada di handphone android itu dari Alkitab, tetapi bukan Alkitab, seperti tertulis di dalam Firman Tuhan Amos 8: 11-12.
"Suatu saat Firman Allah tak ada lagi. Jadi Alkitab harus menjadi makanan kita sehari-hari.Suatu saat Firman Allah tak ada lagi, maka Firman Allah ada di hati kita masing-masing.Jangan ke gereja tak bawa Alkitab ya," kata Hengky Gunawan yang juga didukung langsung oleh pernyataan Pdt.R.Hutauruk, Gembala Jemaat GMAHK Jatinegara.
Sedangkan Ibu Pendeta Rotua Tamba-mewakili kaum ibu- memberikan pendapat kita setuju kemajuan teknologi internet, dan setuju juga teknologi internet bisa membawa kejahatan.
"Semua ini ada di ujung jari-jari kita ketika menggunakan teknologi internet.Apakah alat teknologi ini jadi baik atau jahat.Para ibu-ibu juga setuju teknologi internet bisa membawa kejahatan, walaupun harus diakui dengan teknologi ini akan mempermudah kita untuk mencari sesuatu, misal melalui google, semuanya bisa lebih cepat dan tepat" ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Ibu Pdt. Tamba, kalau kita mengetahui langsung identitas seorang pramuka, atau seorang polisi dari seragam yang dikenakannya.Maka, seorang anak Tuhan itu apa tandanya?.
"Y, itu tadi, tandanya umat Advent. Selalu ke gereja bawa Alkitab, Sekolah sabat (SS), dan lagu Sion.Jangan segan-segan kita membawa ketiga buku rohani ini," pungkasnya. (Bro-2)
Editor : Lasman Simanjuntak/Pemimpin Komunikasi GMAHK Jatinegara
Tampilkan postingan dengan label headline. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label headline. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Maret 2020
Minggu, 02 Februari 2020
Pdt.Dr.R.Hutauruk : Persatuan adalah Kunci Berkat, Mazmur 133 : 1-3
Jakarta, BeritaRayaOnline,- Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara -melalui departemen-departemen yang ada -mengadakan rapat program kerja tahun 2020 berlangsung di GMAHK Jatinegara, Minggu (2/2/2020).
Rapat program kerja tahun 2020 dipimpin langsung oleh Pdt.R.Hutauruk (Gembala Jemaat GMAHK Jatinegara) didampingi Ketua Rudy Kientjem, Ketua Hendrik Padmasana, dan Ketua Rachmat Perangin-angin.
Dalam renungan singkatnya berjudul "Persatuan adalah Kunci Berkat" dengan ayat inti Mazmur 133: 1-3, Pdt. R. Hutauruk berpesan agar Jemaat Jatinegara saling bersatu dan saling berpegangan tangan.
"Ini pengalaman saya waktu bertugas di Pulau Kalimantan. Waktu itu kami ada tujuh orang mau menyebrang Sungai Kapuas yang penuh cerita 1000 misteri. Saya bilang waktu nyebrang Sungai Kapuas kita saling berpegangan tangan kuat-kuat agar jangan hanyut ditelan derasnya Sungai Kapuas. Puji Tuhan, kami selamat sampai disebrang karena bersatu dan berpegangan kuat, " cerita Pdt. Dr.R.Hutauruk yang pernah menjadi gembala gereja advent di Provinsi Kalimantan Tengah dan Provinsi Kalimantan Selatan.
"Tak ada gunung yang tidak dapat didaki, kalau kita bersatu sama lain.Persatuan adalah kunci berkat baik itu anggota majelis maupun anggota biasa. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kalau kita kerjasama tak ada yang berat, " tegasnya.
Pdt.Dr. R. Hutauruk lalu menguraikan lagi soal kerukunan, misalnya dalam rumah tangga (Kolose 3: 18-21), isteri (ayat 18), suami dan isteri (ayat 19), anak dan orangtua (ayat 20).
"Orang lain boleh tidak rukun, tetapi kita harus rukun. Orang lain jahat, tetapi kita harus benar dihadapan Tuhan. Oleh karena itu para orangtua dan jemaat harus hidup rukun. Kita harus jadi berkat dimanapun kita berada, " pesannya.
Puji Tuhan, akhirnya rapat program kerja tahun 2020 yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB pagihari, berakhir pada pukul 19.00 WIB, Minggu malam (1/2/2020).
Selamat bekerja -sepanjang tahun 2020 -untuk seluruh pelayan-pelayan Tuhan di Jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara.
Tuhan memberkati.
(*/dilaporkan oleh Lasman Simanjuntak/Pemimpin Departemen Komunikasi GMAHK Jatinegara)
Senin, 06 Januari 2020
Jasa Marga Catat 5 Januari 2020 Sebagai Puncak Arus Balik Libur Tahun Baru Dengan Total 54 Ribu Kendaraan
Cikampek,BeritaRayaOnline,- PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 54.837 kendaraan melintasi Gerbang Tol (GT) Cikampek Utama dari arah Jalan Tol Trans Jawa menuju Jakarta pada hari H+4 Minggu (05/01/2020) perayaan Tahun Baru 2020.
Jumlah ini meningkat 45.2% dibandingkan lalu lintas harian normal sebanyak 37.765 kendaraan. Angka ini tercatat sebagai puncak arus balik libur tahun baru setelah sebelumnya Jasa Marga mencatat 1 Januari 2020 sebagai puncak arus balik libur tahun baru dengan 53.331 kendaraan.
Selain itu, Jasa Marga juga mencatat lalu lintas tertinggi yang melintasi GT Cikampek Utama kemarin (05/01) adalah pada pukul 17.00-18.00 WIB yang mencapai 3.450 kendaraan.
Pada H+5 Tahun Baru 2020 atau hari Senin (06/01), sampai pukul 12.20 WIB, kondisi Jalan Tol Jakarta-Cikampek terpantau ramai lancar di kedua arah dengan antrean 5 - 10 kendaraan di GT Cikampek Utama.
Antisipasi perjalanan melalui informasi terkini yang dapat diakses melalui:
- Call Center Jasa Marga 24 jam di nomor telepon 14080.
- Twitter @PTJASAMARGA (khusus informasi lalu lintas) dan @official_JSMR (untuk informasi umum lainnya).
- Instagram @official.jasamarga
- Aplikasi Mobile Travoy & JMCARe
(*/Dwimawan Heru
Corporate Communication & Community Development Group Head
PT Jasa Marga (Persero) Tbk)
Minggu, 05 Januari 2020
Mentan Syahrul Ajak Pola Hidup Sehat di Acara Taniday Denpasar
Denpasar,BeritaRayaOnline,-Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyampaikan pentingnya menerapkan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat. Hal ini disampaikan Syahrul saat menggelar lari pagi Car free day yang berlangsung di Lapangan Renon, Denpasar, Bali, Minggu (5/1/2020).
"Hari ini kita berkomitmen untuk mengkonsumsi makanan sehat, agar pikiran sehat, tubuh sehat dan indonesia sehat. Tapi ingat, kita juga harus makan yang sesuai dengan budaya kita. Yang suka makan sagu makan sagu lebih banyak, yang suka makan jagung makanlah jagung lebih banyak," ujar Syahrul.
Syahrul berharap Provinsi Bali menjadi pionir menggerakan pola hidup sehat dari hasil pertanian. Kata dia, Provinsi Bali harus menjadi lokomotif dan saksi sejarah dalam mengawal perjalanan pertanian modern dan ekspor.
"Besok pertanian kita harus lebih maju, harus lebih mandiri dan harus modern. Kita hadir di Bali ini tidak lain untuk kepentingan kehidupan kita hari ini dan esok. Kita hadir untuk mengatakan negara kita adalah negara besar yang tidak boleh kalah dari negara lain," katanya.
Menurut Syahrul, tahun ini adalah tahun baru untuk membuktikan bakti kepada Tuhan bahwa pertanian Indonesia jauh lebih baik dan layak bersaing dengan negara-negara besar di dunia.
"Inilah saatnya kita berbakti pada Tuhan, Bangsa dan Negara bahwa kita memiliki potensi yang luar biasa. Kita pasti menjadi negara besar yang mampu menghadirkan lapangan pekerjaan luas dengan teknologi pertanian yang lebih kuat," katanya.
Syahrul menambahkan, Provinsi Bali harus menjadi gerbang utama bagi lalu lintas ekspor Indonesia ke berbagai negara. Bali kata Syahrul harus menjadi simbol kebangkitan pertanian modern, maju dan mandiri.
"Waktu saya camat, belajar pengairan itu di Bali. Bagi saya, Bali telah mengajarkan segalamacam. Oleh karena itu tahun ini adalah tahun pertanian. Pertanian di Bali harus lebih baik lagi. Dari sebuah aspek, Bali adalah pintu gerbang ekspor bagi Indonesia," tukasnya.(*)
Sumber berita dan foto :Rilis Kementan, 5 Januari 2020 Nomor : 6/R-KEMENTAN/01/2020
Editor : Lasman Simanjuntak
Senin, 05 Agustus 2019
Tumpang Sari dan Tumpang Gilir Cabai : Satu Lahan Untung Ganda
Jakarta,BeritaRayaOnline,-Jika biasanya satu lahan akan menghasilkan satu jenis komoditas, maka di Kediri - Jawa Timur bisa menghasilkan tiga komoditas sekaligus, yakni jagung, cabai dan kacang tanah. Pola tanam ini disebut tumpang gilir.
"Sudah menjadi suatu kebiasaan para petani melakukan tumpang gilir karena banyak keuntungan. Daerah lain juga bisa mengikuti pola tanam seperti ini. Usia jagung 75 hari mulai tanam cabai dan 105 hari sudah ada cabai yang panen. Dengan pola tanam ini, mengurangi pestisida karena hama lebih rendah," jelas anggota Kelompok Tani Krayu, Sumarji asal Desa Tambak Rejo, Kecamatan Gurah, Kediri.
Sementara Blitar, petani melakukan tumpang sari jagung dengan cabai rawit. Jagung berfungsi sebagai naungan sehingga cabai tidak langsung terpapar matahari dan membantu mengatasi dampak kekeringan dan tahan terhadap penyakit.
Selain itu, keuntungan lain yang diperoleh adalah petani dapat memperoleh hasil dari tiga komoditas sekaligus.
"Jagung masa tanam 75 hari, baru cabai ditanam. Ketika panen, lalu tanam kacang di cabai tahun. Satu hamparan bisa dapat tiga komoditas sekaligus. Jadi petani dapat penghasilan terus tidak berhenti," ujar Ketua Gapoktan Mangun Karso, Purnomo asal Desa Slemanan, Kecamatan Udanawu, Blitar.
Para petani ini mengaku dengan pola tanam ini selain pemanfaatan secara maksimal, tanaman cabai relatif lebih terlindungi dari hama. Selain itu petani dapat memanen 2 atau 3 komoditas sekaligus.
Apabila satu komoditas menurun produktivitasnya, tertutupi dengan hasil panen komoditas lainnya.
Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, di sela kunjungan kerja ke Blitar, Sabtu (3/8/2019), menjelaskan pihaknya kini sedang menyusun Grand Design guna memastikan arah Pembangunan Hortikultura 2020-2024 berjalan sesuai target dan tahapan yang jelas.
“Kami ingin pengembangan hortikultura bisa ditata sedemikian rupa agar mampu menjawab tantangan dan peluang mengisi pasar ekspor dunia. Tentunya diperlukan grand design yang lebih progresif untuk mengoptimalkan potensi hortikultura Indonesia. Salah satunya melalui pengembangan kawasan hortikultura berbasis korporasi,”ujar Prihasto.
Menurut Dirjen Hortikultura yang baru dilantik tanggal 29 Juli lalu itu, rata-rata luas kepemilikan lahan pertanian di Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 0,3 hektare per kapita sehingga dinilai tidak mencapai skala ekonomi yang layak.
"Namun jika setiap 0,3 hektare lahan ini dihimpun dan digabung kedalam satu kelompok masyarakat atau model korporasi, akan menjadi luas dan berdampak ekonomi yang signifikan. Itulah industri pertanian berbasis korporasi yang dimaksud oleh Presiden Jokowi," terang pria yang akrab dipanggil Anton tersebut.
Ke depan, lanjutnya, konsep pengembangan kawasan hortikultura akan mengadopsi pola korporasi tersebut. Polanya bukan lagi kecil-kecil seperti yang terjadi saat ini. Apabila di satu kabupaten kondisi lahannya cocok, agroklimatnya sesuai, diberi bantuan satu jenis komoditas buah dengan luasan 500 sampai 1000 hektare tergantung skala ekonominya. Dengan begitu kelak kabupaten tersebut bisa menjadi sentra buah nasional.
"Kalau terus bertahan kecil-kecil dan tidak mencapai skala ekonomi, akan berat kita menghadapi persaingan pasar global. Konsep kawasan ini, saya yakin mampu melejitkan ekspor hortikultura di masa yang akan datang,” tukas Anton optimis.
Tentu program ini perlu sinergitas antar Direktorat lingkup Ditjen Hortikultura. Contohnya untuk program pengembangan kawasan manggis berdaya saing, Direktorat Buah menentukan kabupaten mana yang lahan dan agroklimatnya sesuai. Direktorat Perbenihan fokus menyediakan benih unggul bermutu. Direktorat Perlindungan mendukung dari aspek pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman-red), serta Direktorat pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura terus memperluas pemasaran dan ekspornya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Menjelang Idul Adha, Kementan Pastikan Kebutuhan Hewan Kurban 2019 Cukup
Subang,BeritaRayaOnline,- Kementan optimis ketersediaan sapi potong dan hewan kurban lainnya jelang hari raya Idul Adha 1440H ini mencukupi. Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita saat berkunjung ke Unit Pembibitan Sapi Potong (Breeding Unit) PT. Hade Dinamis Sejahtera di Subang, Jawa Barat, Sabtu (3/8/2019).
Menurut Ketut, berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, pada Idul Adha 2019 ini, proyeksi kebutuhan pemotongan hewan kurban diperkirakan akan mencapai 1.346.712 ekor, terdiri dari 376.487 ekor sapi, 12.958 ekor kerbau, 716.089 ekor kambing, dan 241.178 ekor domba.
"Ini adalah angka estimasi jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini (2019). Kita perkirakan ada kenaikan jumlah pemotongan hewan kurban sebesar 10% dari jumlah pemotongan tahun lalu (2018)," ungkap Ketut.
Untuk memastikan ketersediaan dan pemenuhan stok hewan kurban ini, Ditjen PKH telah melakukan koordinasi dengan Dinas yang Membidangi Fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan seluruh provinsi di Indonesia.
Sapi Asli dan Lokal Indonesia
Saat kunjungan tersebut, Ketut juga menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS total populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 18.120.831 ekor dengan rincian populasi sapi potong sebanyak 16.648.691 ekor, sapi perah 604.467 ekor, dan kerbau 877.673. ekor. Adapun untuk populasi sapi potong dapat dirinci menjadi Sapi Bali sebanyak 32,91%, Onggole 15,15%, Madura 6,79%, Simental 9,08%, Limosin 11,23%, Brahman 4,14%, Brahman Cros 0,36%, Aceh, 6,12%, dan sapi jenis lainnya 14,20%.
Lebih lanjut Ketut menjelaskan, beragamnya rumpun sapi potong baik asli maupun lokal merupakan potensi basis yang ke depannya harus ditingkatkan daya saingnya. Sapi potong asli indonesia diantaranya tediri dari: Sapi Bali, Aceh, Madura, dan Sapi Pesisir. Sedangkan sapi yang termasuk dalam rumpun lokal, seperti : Sapi Sumba Ongole (SO), Peranakan Ongole (PO), dan rumpun sapi lainnya yang telah beradaptasi dan dikembangkan dengan baik dengan kondisi lokal.
"Keberagaman rumpun sapi potong asli tersebut, menjadi modal dasar bagi Indonesia dalam memproduksi daging sapi untuk kebutuhan masyarakat," uncapnya.
Menurut Ketut, pemerintah telah mengambil kebijakan dalam pegembangan dan perbaikan mutu genetik ternak sapi potong untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha terhadap ternak sapi potong yang memiliki persentase karkas yang tinggi dan produktifitas yang efisien.
Kebijakan pengembangan ternak sapi potong di Indonesia yang dilakukan antara lain adalah dengan pemurnian genetik ternak sapi potong. Kementan memiliki 4 (empat) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) untuk sapi potong, yakni BPTU Indrapuri di Aceh, BPTU Padang Mangatas di Sumatera Barat, BPTU Sembawa di Sumatera Selatan, dan BPTU Sapi Bali di Bali.
"Untuk mendukung perkembangan sapi potong di Indonesia, Kementan juga memiliki 2 Balai Inseminasi Buatan nasional (BBIB Singosari dan BIB Lembang), dan 1 Balai Embrio Transfer (BET Cipelang)" pungkasnya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Menurut Ketut, berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, pada Idul Adha 2019 ini, proyeksi kebutuhan pemotongan hewan kurban diperkirakan akan mencapai 1.346.712 ekor, terdiri dari 376.487 ekor sapi, 12.958 ekor kerbau, 716.089 ekor kambing, dan 241.178 ekor domba.
"Ini adalah angka estimasi jumlah pemotongan hewan kurban tahun ini (2019). Kita perkirakan ada kenaikan jumlah pemotongan hewan kurban sebesar 10% dari jumlah pemotongan tahun lalu (2018)," ungkap Ketut.
Untuk memastikan ketersediaan dan pemenuhan stok hewan kurban ini, Ditjen PKH telah melakukan koordinasi dengan Dinas yang Membidangi Fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan seluruh provinsi di Indonesia.
Sapi Asli dan Lokal Indonesia
Saat kunjungan tersebut, Ketut juga menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS total populasi sapi potong, sapi perah, dan kerbau di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 18.120.831 ekor dengan rincian populasi sapi potong sebanyak 16.648.691 ekor, sapi perah 604.467 ekor, dan kerbau 877.673. ekor. Adapun untuk populasi sapi potong dapat dirinci menjadi Sapi Bali sebanyak 32,91%, Onggole 15,15%, Madura 6,79%, Simental 9,08%, Limosin 11,23%, Brahman 4,14%, Brahman Cros 0,36%, Aceh, 6,12%, dan sapi jenis lainnya 14,20%.
Lebih lanjut Ketut menjelaskan, beragamnya rumpun sapi potong baik asli maupun lokal merupakan potensi basis yang ke depannya harus ditingkatkan daya saingnya. Sapi potong asli indonesia diantaranya tediri dari: Sapi Bali, Aceh, Madura, dan Sapi Pesisir. Sedangkan sapi yang termasuk dalam rumpun lokal, seperti : Sapi Sumba Ongole (SO), Peranakan Ongole (PO), dan rumpun sapi lainnya yang telah beradaptasi dan dikembangkan dengan baik dengan kondisi lokal.
"Keberagaman rumpun sapi potong asli tersebut, menjadi modal dasar bagi Indonesia dalam memproduksi daging sapi untuk kebutuhan masyarakat," uncapnya.
Menurut Ketut, pemerintah telah mengambil kebijakan dalam pegembangan dan perbaikan mutu genetik ternak sapi potong untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha terhadap ternak sapi potong yang memiliki persentase karkas yang tinggi dan produktifitas yang efisien.
Kebijakan pengembangan ternak sapi potong di Indonesia yang dilakukan antara lain adalah dengan pemurnian genetik ternak sapi potong. Kementan memiliki 4 (empat) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) untuk sapi potong, yakni BPTU Indrapuri di Aceh, BPTU Padang Mangatas di Sumatera Barat, BPTU Sembawa di Sumatera Selatan, dan BPTU Sapi Bali di Bali.
"Untuk mendukung perkembangan sapi potong di Indonesia, Kementan juga memiliki 2 Balai Inseminasi Buatan nasional (BBIB Singosari dan BIB Lembang), dan 1 Balai Embrio Transfer (BET Cipelang)" pungkasnya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Pembangunan Pertanian Tepat, Produksi dan Kesejahteraan Meningkat
Jakarta, BeritaRayaOnline,- Membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP) menunjukkan pembangunan sektor pertanian arahnya tepat dan sasaran kinerjanya fokus.
Demikian disampaikan Pengamat Sosial Pertanian dari Institut Policy for Agro Reform, Ismu Amir Hatala, menyusul keterangan resmi Badan Pusat Statsistik (BPS) awal Agustus lalu. BPS mencatat NTP pada Juli 2019 secara nasional naik 0,29 persen, yaitu dari 102,33 menjadi 102,63.
“NTP itu kaitannya dengan pendapatan dan kesejahteraan petani”, tambah Ismu.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 33 provinsi di Indonesia selama Juli 2019, Kenaikan NTP dipicu oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,70 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,41 persen.
"Kenaikan NTP disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian," kata dia, di Kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).
Dia melanjutkan, kenaikan NTP Juni 2019 dipengaruhi oleh kenaikan NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,36 persen, Subsektor Holtikultura sebesar 0,61 persen dan Subsektor Pertenakan sebesar 0,67 persen.
"Sementara itu, NTP di dua subsektor pertanian lainnya mengalami penurunan, yaitu NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat dan TP Subsektor Perikanan, masing-masinhg sebesar 0,40 persen dan 0,32 persen," jelasnya.
Adapun pada Juli 2019, NTP Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan tertinggi sebesar 1,90 persen dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan mengalami penurunan terbesar 0,96 persen dibandingkan NTP provinsi lainnya.
"Pada Juli 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,55 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juni 2019 sebesar 112,68 atau naik sebesar 0,60 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya," tutupnya.
Sebagai informasi Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (lb).
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, menyampaikan, NilaibTukar Petani (NTP), dan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) selama ini masih digunakan sebagai indikator kemampuan daya beli petani dan indikator kesejahteraan petani.
Menurut Boga, Kementan akan terus mendukung untuk peningkatkan produksi dan kesejahteraan, serta kebijakan dan program yang berpihak kepada petani demi meningkatkan NTP dan NTUP.
"Kementerian Pertanian memberikan bantuan bagi petani, memberi bantuan mesin pertanian, dan alat pertanian, juga membangun infrastruktur yang dapat mendukung kegiatan produksi," katanya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Demikian disampaikan Pengamat Sosial Pertanian dari Institut Policy for Agro Reform, Ismu Amir Hatala, menyusul keterangan resmi Badan Pusat Statsistik (BPS) awal Agustus lalu. BPS mencatat NTP pada Juli 2019 secara nasional naik 0,29 persen, yaitu dari 102,33 menjadi 102,63.
“NTP itu kaitannya dengan pendapatan dan kesejahteraan petani”, tambah Ismu.
Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 33 provinsi di Indonesia selama Juli 2019, Kenaikan NTP dipicu oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,70 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,41 persen.
"Kenaikan NTP disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan pada indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian," kata dia, di Kantornya, Jakarta, Kamis (1/8).
Dia melanjutkan, kenaikan NTP Juni 2019 dipengaruhi oleh kenaikan NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,36 persen, Subsektor Holtikultura sebesar 0,61 persen dan Subsektor Pertenakan sebesar 0,67 persen.
"Sementara itu, NTP di dua subsektor pertanian lainnya mengalami penurunan, yaitu NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat dan TP Subsektor Perikanan, masing-masinhg sebesar 0,40 persen dan 0,32 persen," jelasnya.
Adapun pada Juli 2019, NTP Provinsi Gorontalo mengalami kenaikan tertinggi sebesar 1,90 persen dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan mengalami penurunan terbesar 0,96 persen dibandingkan NTP provinsi lainnya.
"Pada Juli 2019 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,55 persen, dengan kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juni 2019 sebesar 112,68 atau naik sebesar 0,60 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya," tutupnya.
Sebagai informasi Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (lb).
NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, menyampaikan, NilaibTukar Petani (NTP), dan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) selama ini masih digunakan sebagai indikator kemampuan daya beli petani dan indikator kesejahteraan petani.
Menurut Boga, Kementan akan terus mendukung untuk peningkatkan produksi dan kesejahteraan, serta kebijakan dan program yang berpihak kepada petani demi meningkatkan NTP dan NTUP.
"Kementerian Pertanian memberikan bantuan bagi petani, memberi bantuan mesin pertanian, dan alat pertanian, juga membangun infrastruktur yang dapat mendukung kegiatan produksi," katanya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Kementan Dorong Peningkatan Ekspor serta Konsumsi Protein Hewani Produk Ayam
Bogor, BeritaRayaOnline,-Ketersediaan komoditas ayam dan telur telah dinyatakan surplus, bahkan sudah diekspor ke beberapa negara. Hal itu disampaikan oleh I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Fini Murfiani pada acara Festival Ayam dan Telur (FAT) 2019 di bogor, Minggu (4/8/2019).
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Bogor, Aria Bima, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Rektor Institut Pertanian Bogor, Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor, Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, serta asosiasi-asosiasi perunggasan sepetti, GPMT, GOPAN, GPPUI, PINSAR dan Warga Kota Bogor,
Ketut menyebutkan bahwa berdasarkan data statistik peternakan ada peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. Pada awal tahun 1970-an produksi daging ayam ras hanya sebesar 15% dari kebutuhan nasional, sedangkan pada tahun 2018 sesuai dengan data BPS produksinya telah mencapai 3.565.495 ton atau 116,9% dari kebutuhan nasional sebesar 3.047.676 ton, sedangkan untuk produksi telur ayam tahun 2018 sebanyak 1.756.691 ton atau 101,5% dari kebutuhan nasional sebesar 1.730.550 ton.
Kondisi surplus produksi ini sangat potensial untuk dilakukan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan untuk pasar domestik maupun ekspor. Pada saat ini tercatat produk ayam Indonesia telah di ekspor ke Jepang, Timor Leste, dan Myanmar.
Ketut juga mengungkapkan bahwa pengolahan hasil peternakan, khususnya olahan daging ayam dan telur sangat mudah ditemui dimana saja. Produk olahan hasil peternakan perlu diproses dengan tata cara yang baik (good practices), dari mulai penanganan bahan baku hingga pemasaran. Pemerintah dan pemerintah daerah terus menjamin terwujudnya penyelenggaraan keamanan pangan di setiap rantai pasok pangan secara terpadu.
Penerapan system jaminan mutu produk diterapkan dari mulai hulu hingga hilir, dari Good Breeding Practices (GBP), Good Farming Practices (GFP), Good Manufacturing Practices (GMP), Good Handling Practices (GHP), hingga Good Distribution Practices (GDP) untuk menjamin suplai pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) yang bernilai tambah dan berdaya saing.
Ketut juga menambahkan bahwa untuk penjaminan produk ASUH, produk olahan hasil peternakan harus memiliki sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Nomor Kontrol Veteriner dari Dinas Provinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan, dan ijin edar MD dari Badan POM, dengan kepemilikan sertifikat-sertifikat tersebut, produk dapat dipasarkan lebih luas dan lebih berdaya saing.
Peningkatan Konsumsi Protein Hewani
Menurut Ketut, kebutuhan nutrisi pangan terutama protein hewani sangatlah penting untuk diperhatikan. Protein hewani mengandung asam amino tak tergantikan yang berfungsi sebagai zat pembangun dan mempengaruhi metabolisme tubuh.
Kelebihan kandungan protein hewani adalah asam amino yang dikandungnya lengkap dengan daya serap dalam tubuh yang tinggi. Pangan hewani merupakan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tumbuh, terutama untuk balita dan anak-anak, seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc. Protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah telur dan daging ayam.
Ketut falam sambutannya menjelaskan bahwa sesuai data BPS, tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia tahun 2018 untuk daging ayam dan telur lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi daging sapi, tingkat konsumsi daging ayam broiler tahun 2018 sebesar 11,5 kg/kapita/tahun, telur ayam 6,53 kg/kapita/tahun (125 butir/kapita/tahun), sedangkan konsumsi daging sapi hanya 2,5 kg/kapita/tahun, dan konsumsi susu 16,43 kg/kapita/tahun.
Tingginya tingkat konsumsi tersebut antara lain karena daging ayam dan telur tersedia banyak (surplus), mudah didapat, mudah diolah dan harganya terjangkau. Namun demikian, tingkat konsumsi tersebut masih jauh lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Bogor, Aria Bima, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Rektor Institut Pertanian Bogor, Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor, Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, serta asosiasi-asosiasi perunggasan sepetti, GPMT, GOPAN, GPPUI, PINSAR dan Warga Kota Bogor,
Ketut menyebutkan bahwa berdasarkan data statistik peternakan ada peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. Pada awal tahun 1970-an produksi daging ayam ras hanya sebesar 15% dari kebutuhan nasional, sedangkan pada tahun 2018 sesuai dengan data BPS produksinya telah mencapai 3.565.495 ton atau 116,9% dari kebutuhan nasional sebesar 3.047.676 ton, sedangkan untuk produksi telur ayam tahun 2018 sebanyak 1.756.691 ton atau 101,5% dari kebutuhan nasional sebesar 1.730.550 ton.
Kondisi surplus produksi ini sangat potensial untuk dilakukan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan untuk pasar domestik maupun ekspor. Pada saat ini tercatat produk ayam Indonesia telah di ekspor ke Jepang, Timor Leste, dan Myanmar.
Ketut juga mengungkapkan bahwa pengolahan hasil peternakan, khususnya olahan daging ayam dan telur sangat mudah ditemui dimana saja. Produk olahan hasil peternakan perlu diproses dengan tata cara yang baik (good practices), dari mulai penanganan bahan baku hingga pemasaran. Pemerintah dan pemerintah daerah terus menjamin terwujudnya penyelenggaraan keamanan pangan di setiap rantai pasok pangan secara terpadu.
Penerapan system jaminan mutu produk diterapkan dari mulai hulu hingga hilir, dari Good Breeding Practices (GBP), Good Farming Practices (GFP), Good Manufacturing Practices (GMP), Good Handling Practices (GHP), hingga Good Distribution Practices (GDP) untuk menjamin suplai pangan hewani yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) yang bernilai tambah dan berdaya saing.
Ketut juga menambahkan bahwa untuk penjaminan produk ASUH, produk olahan hasil peternakan harus memiliki sertifikat halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Nomor Kontrol Veteriner dari Dinas Provinsi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan, dan ijin edar MD dari Badan POM, dengan kepemilikan sertifikat-sertifikat tersebut, produk dapat dipasarkan lebih luas dan lebih berdaya saing.
Peningkatan Konsumsi Protein Hewani
Menurut Ketut, kebutuhan nutrisi pangan terutama protein hewani sangatlah penting untuk diperhatikan. Protein hewani mengandung asam amino tak tergantikan yang berfungsi sebagai zat pembangun dan mempengaruhi metabolisme tubuh.
Kelebihan kandungan protein hewani adalah asam amino yang dikandungnya lengkap dengan daya serap dalam tubuh yang tinggi. Pangan hewani merupakan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi tumbuh, terutama untuk balita dan anak-anak, seperti zat besi, vitamin B12, dan zinc. Protein hewani yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah telur dan daging ayam.
Ketut falam sambutannya menjelaskan bahwa sesuai data BPS, tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia tahun 2018 untuk daging ayam dan telur lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi daging sapi, tingkat konsumsi daging ayam broiler tahun 2018 sebesar 11,5 kg/kapita/tahun, telur ayam 6,53 kg/kapita/tahun (125 butir/kapita/tahun), sedangkan konsumsi daging sapi hanya 2,5 kg/kapita/tahun, dan konsumsi susu 16,43 kg/kapita/tahun.
Tingginya tingkat konsumsi tersebut antara lain karena daging ayam dan telur tersedia banyak (surplus), mudah didapat, mudah diolah dan harganya terjangkau. Namun demikian, tingkat konsumsi tersebut masih jauh lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Minggu, 09 Juni 2019
Indikator Ekonomi Catat Keberhasilan Pembangunan Pertanian Indonesia
Jakarta,BeritaRayaOnline,- Pembangunan infrastruktur, utamanya jalan yang telah menurunkan angka kecelakaan di musim mudik lebaran 2019, bukan satu-satunya prestasi pemerintah. Pemerintahan Jokowi-JK juga terus memberikan catatan positif dalam memperbaiki taraf ekonomi penduduk tanah air melalui program dan kebijakan pembangunan pertanian.
Dalam empat tahun terakhir (2014-2018) kesejahteraan penduduk perdesaan yang mayoritas adalah petani, terlihat semakin membaik kondisinya. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ketut Kariyasa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/6).
Kariyasa menyertakan beberapa indikator yang representatif untuk menunjukkan kondisi tersebut. Seperti meningkatnya daya beli atau kesejahteraan masyarakat, menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat, stabilnya atau inflasi bahan makanan/pangan, dan menurunnya jumlah penduduk miskin.
“Membaiknya daya beli atau kesejahteraan petani terlihat dari membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dalam empat tahun terakhir,” ujar Kariyasa.
Ia melanjutkan, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun dasar 2012 sebesar 100, selama periode 2014-2018, NTP terus meningkat dari 102,03 (2014) meningkat menjadi 102,46 (2018). Demikian halnya dengan NTUP, juga terus meningkat dan bahkan menunjukkan peningkatan yang lebih baik dari NTP. Pada 2014 besarnya NTUP adalah 106,05 dan tahun 2018 meningkat menjadi 111,83.
“Membaiknya daya beli masyarakat, ternyata juga diikuti oleh semakin meratanya atau menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat. Hal ini ditandai oleh menurunnya Gini Ratio. Pada Maret 2013, secara nasional Gini ratio masih 0,424 dan pada Maret 2018 turun menjadi 0,389,” urainya.
Kemudian pada September 2018 pemerataan pendapatan kembali membaik yang ditandai oleh menurunnya Gini Ratio menjadi 0,384. Sejalan pada tingkat nasional, ketimpangan pendapatan masyarakat di perkotaan dan perdesaan juga menurun.
“Yang cukup membanggakan bahwa pemerataan pendapatan masyarakat perdesaan lebih baik dibandingkan di perkotaan, yang ditandai Gini Ratio di perdesaaan selalu lebih rendah dari perkotaan,” terang Kariyasa.
Pada Maret 2013, Gini Ratio di perkotaan 0,431 dan di perdesaan 0,320 dan pada Maret 2018 turun masing-masing menjadi 0,401 di perkotaan dan 0,324 di perdesaan. Pada September 2018, kembali turun masing-masing menjadi 0,391 di perkotaan dan 0,319 di perdesaan.
Pertanian Menjaga Angka Inflasi
Kariya menjelaskan selain memperbaiki daya beli dan ketimpangan pendapatan masyarakat, menurut Kariyasa keberhasilan pemerintah dalam memacu produksi dalam negeri juga berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat. Hal ini tercermin dalam empat tahun terakhir inflasi bahan makanan/pangan menurun secara konsisten. Pada tahun 2013, inflasi bahan makanan/pangan masih sangat tinggi, 11,35% dan pada tahun 2014 turun menjadi 10,57% Pada tahun 2015 dan 2016 , inflasi bahan makanan/pangan mulai mengalami penurunan yang sangat drastis, yaitu masing-masing menjadi 4,93% dan 5,69%.
“Bahkan pada tahun 2017 inflasi bahan makanan/pangan turun sampai tingkat 1,26% dan merupakan inflasi bahan makanan/pangan yang terendah yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, dampak dari membaiknya ketiga indikator di atas (membaiknya daya beli, menurunnya ketimpangan pendapatan, dan stabilnya harga pangan) menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun.
Pada Maret 2018, tercatat secara nasional jumlah penduduk miskin turun dan menembus angka satu digit (9,82%), dan pada September 2018 kembali turun menjadi 9,66%. Demikian halnya dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan, pada Maret 2013 masih tercatat 14,32%, dan Maret 2018 turun menjadi 13,20% dan pada September 2018 kembali turun menjadi 13,10%.
Jumlah penduduk miskin di perkotaan juga terus menurun, dari 8,39% pada Maret 2013, menjadi 7,02% Maret 2018 dan tinggal 6,89% pada September 2018.
“Membaiknya indikator-indikator ekonomi utama di atas menunjukkan bahwa program dan kebijakan terobosan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian selama ini sudah tepat karena terbukti mampu memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat perdesaan secara nyata, tidak hanya sebatas peningkatan produksi,” tandas Kariyasa.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Dalam empat tahun terakhir (2014-2018) kesejahteraan penduduk perdesaan yang mayoritas adalah petani, terlihat semakin membaik kondisinya. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ketut Kariyasa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/6).
Kariyasa menyertakan beberapa indikator yang representatif untuk menunjukkan kondisi tersebut. Seperti meningkatnya daya beli atau kesejahteraan masyarakat, menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat, stabilnya atau inflasi bahan makanan/pangan, dan menurunnya jumlah penduduk miskin.
“Membaiknya daya beli atau kesejahteraan petani terlihat dari membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dalam empat tahun terakhir,” ujar Kariyasa.
Ia melanjutkan, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun dasar 2012 sebesar 100, selama periode 2014-2018, NTP terus meningkat dari 102,03 (2014) meningkat menjadi 102,46 (2018). Demikian halnya dengan NTUP, juga terus meningkat dan bahkan menunjukkan peningkatan yang lebih baik dari NTP. Pada 2014 besarnya NTUP adalah 106,05 dan tahun 2018 meningkat menjadi 111,83.
“Membaiknya daya beli masyarakat, ternyata juga diikuti oleh semakin meratanya atau menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat. Hal ini ditandai oleh menurunnya Gini Ratio. Pada Maret 2013, secara nasional Gini ratio masih 0,424 dan pada Maret 2018 turun menjadi 0,389,” urainya.
Kemudian pada September 2018 pemerataan pendapatan kembali membaik yang ditandai oleh menurunnya Gini Ratio menjadi 0,384. Sejalan pada tingkat nasional, ketimpangan pendapatan masyarakat di perkotaan dan perdesaan juga menurun.
“Yang cukup membanggakan bahwa pemerataan pendapatan masyarakat perdesaan lebih baik dibandingkan di perkotaan, yang ditandai Gini Ratio di perdesaaan selalu lebih rendah dari perkotaan,” terang Kariyasa.
Pada Maret 2013, Gini Ratio di perkotaan 0,431 dan di perdesaan 0,320 dan pada Maret 2018 turun masing-masing menjadi 0,401 di perkotaan dan 0,324 di perdesaan. Pada September 2018, kembali turun masing-masing menjadi 0,391 di perkotaan dan 0,319 di perdesaan.
Pertanian Menjaga Angka Inflasi
Kariya menjelaskan selain memperbaiki daya beli dan ketimpangan pendapatan masyarakat, menurut Kariyasa keberhasilan pemerintah dalam memacu produksi dalam negeri juga berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat. Hal ini tercermin dalam empat tahun terakhir inflasi bahan makanan/pangan menurun secara konsisten. Pada tahun 2013, inflasi bahan makanan/pangan masih sangat tinggi, 11,35% dan pada tahun 2014 turun menjadi 10,57% Pada tahun 2015 dan 2016 , inflasi bahan makanan/pangan mulai mengalami penurunan yang sangat drastis, yaitu masing-masing menjadi 4,93% dan 5,69%.
“Bahkan pada tahun 2017 inflasi bahan makanan/pangan turun sampai tingkat 1,26% dan merupakan inflasi bahan makanan/pangan yang terendah yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia,” jelasnya.
Menurutnya, dampak dari membaiknya ketiga indikator di atas (membaiknya daya beli, menurunnya ketimpangan pendapatan, dan stabilnya harga pangan) menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun.
Pada Maret 2018, tercatat secara nasional jumlah penduduk miskin turun dan menembus angka satu digit (9,82%), dan pada September 2018 kembali turun menjadi 9,66%. Demikian halnya dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan, pada Maret 2013 masih tercatat 14,32%, dan Maret 2018 turun menjadi 13,20% dan pada September 2018 kembali turun menjadi 13,10%.
Jumlah penduduk miskin di perkotaan juga terus menurun, dari 8,39% pada Maret 2013, menjadi 7,02% Maret 2018 dan tinggal 6,89% pada September 2018.
“Membaiknya indikator-indikator ekonomi utama di atas menunjukkan bahwa program dan kebijakan terobosan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian selama ini sudah tepat karena terbukti mampu memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat perdesaan secara nyata, tidak hanya sebatas peningkatan produksi,” tandas Kariyasa.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Atasi Hama Uret pada Budidaya Nanas Secara Alami
Jakarta, BeritaRayaOnline,-Nanas merupakan banyak dibudidayakan di Indonesia dan kaya nutrisi seperti Vitamin C, Asam Folat, Manganese dan senyawa Bromelain. Buah ini disukai oleh masyarakat karena rasanya asam manis. Terkadang nanas dikonsumsi segar sebagai hidangan pembuka baik di restoran maupun hotel.
Dalam upaya peningkatan produktivitas baik kuantitas maupun kualitas, perlu diperhatikan faktor-faktor penentu budidaya tanaman seperti, benih, pengolahan tanah, pemupukan dan perawatan terutama pengelolaan terhadap hama dan penyakit tanaman.
Uret atau Lepidiota stigma merupakan salah satu hama yang sering menimbulkan kerugian bagi petani nanas di Kediri. Hama ini menyebabkan tanaman nanas yang sehat tiba-tiba layu dan mati karena akar utamanya dirusak.
"Kerusakan terberat dapat disebabkan oleh larva instar ke 3. Hama uret ini juga mempunyai kisaran inang yang sangat luas yaitu salak, pisang, labu, semangka, cabai, kacang, jagung, karet, kelapa, kopi, tebu dan tanaman lainnya," ujar Fungsional POPT Hortikultura, Arif Akbar.
Arif menjabarkan, serangga dewasa dalam bentuk kumbang, meletakkan telurnya di tanah yang ditutupi serasah-serasah dan atau diletakkan di dalam tanah. Stadium pertumbuhan uret terdiri dari tiga, yaitu stadia telur, larva dan dewasa (imago).
Stadia yang berperan menjadi hama yaitu stadia larva (instar 3 paling merusak), stadia larva umumnya berada di tanah atau sekitar tanah, sedangkan pada stadia dewasa (imago) kumbang yang dapat terbang jauh serta tertarik dengan cahaya.
Uret menyerang tanaman dengan cara memotong dan memakan perakaran sehingga tanaman menjadi merana, mudah dicabut dan dalam serangan berat bahkan menyebabkan tanaman mati.
"Dalam pengelolaan hama tersebut, maka harus dilakukan secara terpadu mengikuti konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Pengendalian ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa cara pengendalian diantaranya pengendalian mekanis, kultur teknis, biologis atau dengan kimia," jelas Arif.
Pengendalian uret dapat dilakukan dengan cara: a) Pengendalian mekanis dengan menggumpulkan dan memusnahkan telur dan larva uret. Pemusnahan dilakukan dengan mengumpulkan/membuntit uret menggunakan kantong plastik atau di berikan kepada hewan peliharaan seperti burung dan ikan; b) Pengendalian biologis dengan menggunakan jamur entomopatogen Metarhizium sp. Jamur ini dapat diaplikasikan langsung di lahan dan akan menginfeksi uret. c) Penggunaan perangkap lampu dilakukan untuk memerangkap serangga dewasa (kumbang). Cara ini dapat di kombinasikan dengan memasang baskom berisi air atau jaring di bawah lampu sehingga kumbang terperangkap.
Cara pengendalian paling ideal adalah mengkombinasikan cara-cara pengendalian tersebut. Semoga dengan semakin baiknya harga jual nanas yang diperoleh petani akan memotivasi petani untuk lebih memperhatikan dan merawat tanamannya secara intensif.
"Guna mendatangkan keuntungan optimal serta menghindarkan kerugian akibat serangan hama dan penyakit petani perlu mengetahui cara-cara pengendalian hama terutama Uret. Untuk mendapatkan produk yang aman konsumsi maka pengendalian OPT dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan," ujar Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf.
Yanti menambahkan bahwa walaupun nanas bukan komoditas utama nasional akan tetapi pemerintah tetap memperhatikan. Buah ini berpotensi ekspor serta mampu menggerakkan perekonomian petani, khususnya di kabupaten-kabupaten sentra pengembangan nanas.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Dalam upaya peningkatan produktivitas baik kuantitas maupun kualitas, perlu diperhatikan faktor-faktor penentu budidaya tanaman seperti, benih, pengolahan tanah, pemupukan dan perawatan terutama pengelolaan terhadap hama dan penyakit tanaman.
Uret atau Lepidiota stigma merupakan salah satu hama yang sering menimbulkan kerugian bagi petani nanas di Kediri. Hama ini menyebabkan tanaman nanas yang sehat tiba-tiba layu dan mati karena akar utamanya dirusak.
"Kerusakan terberat dapat disebabkan oleh larva instar ke 3. Hama uret ini juga mempunyai kisaran inang yang sangat luas yaitu salak, pisang, labu, semangka, cabai, kacang, jagung, karet, kelapa, kopi, tebu dan tanaman lainnya," ujar Fungsional POPT Hortikultura, Arif Akbar.
Arif menjabarkan, serangga dewasa dalam bentuk kumbang, meletakkan telurnya di tanah yang ditutupi serasah-serasah dan atau diletakkan di dalam tanah. Stadium pertumbuhan uret terdiri dari tiga, yaitu stadia telur, larva dan dewasa (imago).
Stadia yang berperan menjadi hama yaitu stadia larva (instar 3 paling merusak), stadia larva umumnya berada di tanah atau sekitar tanah, sedangkan pada stadia dewasa (imago) kumbang yang dapat terbang jauh serta tertarik dengan cahaya.
Uret menyerang tanaman dengan cara memotong dan memakan perakaran sehingga tanaman menjadi merana, mudah dicabut dan dalam serangan berat bahkan menyebabkan tanaman mati.
"Dalam pengelolaan hama tersebut, maka harus dilakukan secara terpadu mengikuti konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Pengendalian ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa cara pengendalian diantaranya pengendalian mekanis, kultur teknis, biologis atau dengan kimia," jelas Arif.
Pengendalian uret dapat dilakukan dengan cara: a) Pengendalian mekanis dengan menggumpulkan dan memusnahkan telur dan larva uret. Pemusnahan dilakukan dengan mengumpulkan/membuntit uret menggunakan kantong plastik atau di berikan kepada hewan peliharaan seperti burung dan ikan; b) Pengendalian biologis dengan menggunakan jamur entomopatogen Metarhizium sp. Jamur ini dapat diaplikasikan langsung di lahan dan akan menginfeksi uret. c) Penggunaan perangkap lampu dilakukan untuk memerangkap serangga dewasa (kumbang). Cara ini dapat di kombinasikan dengan memasang baskom berisi air atau jaring di bawah lampu sehingga kumbang terperangkap.
Cara pengendalian paling ideal adalah mengkombinasikan cara-cara pengendalian tersebut. Semoga dengan semakin baiknya harga jual nanas yang diperoleh petani akan memotivasi petani untuk lebih memperhatikan dan merawat tanamannya secara intensif.
"Guna mendatangkan keuntungan optimal serta menghindarkan kerugian akibat serangan hama dan penyakit petani perlu mengetahui cara-cara pengendalian hama terutama Uret. Untuk mendapatkan produk yang aman konsumsi maka pengendalian OPT dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan," ujar Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf.
Yanti menambahkan bahwa walaupun nanas bukan komoditas utama nasional akan tetapi pemerintah tetap memperhatikan. Buah ini berpotensi ekspor serta mampu menggerakkan perekonomian petani, khususnya di kabupaten-kabupaten sentra pengembangan nanas.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Rabu, 01 Mei 2019
32 Jenis Sayuran Organik Semarang Diekspor ke Singapura
Semarang, BeritaRayaOnline,-Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Getasan memiliki sumberdaya pertanian yang luar biasa dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani bahkan pendapatan untuk negara. Pasalnya, petani daerah ini dengan lahan seadanya mampu membudidayakan 32 jenis sayuran organik yang dipasarkan ke supermarket dan pasar ekspor.
"Getasan merupakan daerah sayuran dan sudah diolah menjadi sayuran organik, kelasnya supermarket dan ekspor. Harganya bisa lebih tinggi masuk pasar modern dan ekspor, kuncinya ada pada pengemasan dan prinsip-prinsip yang diterapkan kepada petani," demikian dikatakan Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi saat meninjau usaha budidaya sayuran organik di Getasan, Semarang, Rabu (1/5/2019).
Budidaya sayuran organik di Getasan ini merupakan binaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam pengembangan budidaya sayuran agar diterima pasar modern hingga ekspor, yakni menerapkan 9 prinsip petani yang baik, di antaranya jujur, disiplin dan sebagainya,
"Pendapatan per kepala keluarga petani sebesar Rp 2 juta per bulan dengan luas lahan 1.000 meter. Intinya, semua petani sayuran organik di daerah Getasan ini sejahtera," beber Suwandi.
Ketua Koordinator Nasional Program Pertanian PBNU, Witjaksono, sekaligus selaku pembinaa sayuran organik di Getasan menerangkan pengembangan budidaya sayuran organik di Getasan hingga saat ini masih dengan bentuk kelompok-kelompok. Namun demikian, ke depan akan membentuk koperasi tani.
"Pola pengembangan yang kami lakukan ini tentunya mengacu pada model kelembagaan tani berbasis ekonomi ummat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Masyarakat dengan lahan seadanya, bisa berpenghasilan besar. Ya di atas gaji UMR," terangnya.
Zaenal, salah seorang petani sekaligus pengekspor sayuran organik Getasan mengatakan sebanyak 32 jenis sayuran organik yang dihasilkan petani dikemas dan dipasarkan langsung dari Getasan. Margin yang diperoleh petani cukup tinggi sehingga pendapatannya yang diperoleh jauh lebih tinggi.
"Seperti harga wortel dalam kemasan bungkusan Rp 7.500 per bungkus. Biaya produksinya hanya Rp 2.500, sehingga keuntungan mencapai Rp 5.000. Wortel rasanya manis," sebutnya.
Kemudian ada juga pitrut yang harganya Rp 10.000 per bungkus. Timun harganya Rp 7.500 per bungkus, biaya produksinya Rp 3.000. Sayuran organik lainya yang diproduksi seperti piter seley harganya Rp 17.500 per bungkus, sweet potato, daun labu, agas, rusmeri, daun ubi, dan berbagai jenis sayuran lainnya.
"Semuanya masuk supermarket dan sore hari ini diekspor ke Singapura," pungkas Zaenal.(*/Rilis Kementan)
Editor : Lasman Simanjuntak
"Getasan merupakan daerah sayuran dan sudah diolah menjadi sayuran organik, kelasnya supermarket dan ekspor. Harganya bisa lebih tinggi masuk pasar modern dan ekspor, kuncinya ada pada pengemasan dan prinsip-prinsip yang diterapkan kepada petani," demikian dikatakan Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi saat meninjau usaha budidaya sayuran organik di Getasan, Semarang, Rabu (1/5/2019).
Budidaya sayuran organik di Getasan ini merupakan binaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam pengembangan budidaya sayuran agar diterima pasar modern hingga ekspor, yakni menerapkan 9 prinsip petani yang baik, di antaranya jujur, disiplin dan sebagainya,
"Pendapatan per kepala keluarga petani sebesar Rp 2 juta per bulan dengan luas lahan 1.000 meter. Intinya, semua petani sayuran organik di daerah Getasan ini sejahtera," beber Suwandi.
Ketua Koordinator Nasional Program Pertanian PBNU, Witjaksono, sekaligus selaku pembinaa sayuran organik di Getasan menerangkan pengembangan budidaya sayuran organik di Getasan hingga saat ini masih dengan bentuk kelompok-kelompok. Namun demikian, ke depan akan membentuk koperasi tani.
"Pola pengembangan yang kami lakukan ini tentunya mengacu pada model kelembagaan tani berbasis ekonomi ummat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Masyarakat dengan lahan seadanya, bisa berpenghasilan besar. Ya di atas gaji UMR," terangnya.
Zaenal, salah seorang petani sekaligus pengekspor sayuran organik Getasan mengatakan sebanyak 32 jenis sayuran organik yang dihasilkan petani dikemas dan dipasarkan langsung dari Getasan. Margin yang diperoleh petani cukup tinggi sehingga pendapatannya yang diperoleh jauh lebih tinggi.
"Seperti harga wortel dalam kemasan bungkusan Rp 7.500 per bungkus. Biaya produksinya hanya Rp 2.500, sehingga keuntungan mencapai Rp 5.000. Wortel rasanya manis," sebutnya.
Kemudian ada juga pitrut yang harganya Rp 10.000 per bungkus. Timun harganya Rp 7.500 per bungkus, biaya produksinya Rp 3.000. Sayuran organik lainya yang diproduksi seperti piter seley harganya Rp 17.500 per bungkus, sweet potato, daun labu, agas, rusmeri, daun ubi, dan berbagai jenis sayuran lainnya.
"Semuanya masuk supermarket dan sore hari ini diekspor ke Singapura," pungkas Zaenal.(*/Rilis Kementan)
Editor : Lasman Simanjuntak
Pasokan Mencukupi, Harga Komoditas Hortikultura Terpantau Stabil Hingga Lebaran
Dari hasil penelusuran kepada sejumlah pedagang, harga cabai, bawang merah dan bawang putih terpantau stabil alias tak mengalami penurunan maupun kenaikan signifikan. Pasokan yang masuk ke pasar Induk Kramat Jati sebanyak 48 ton untuk cabai merah keriting dengan harga Rp 17.000 per kg, 12 ton untuk cabai merah besar (TW) dengan harga Rp 28.000 per kg, 63 ton untuk cabai rawit merah dengan harga Rp 20.000 per kg, 23 ton untuk cabai rawit hijau dengan harga Rp 13.000 per kg, dan 94 ton bawang merah dengan harga Rp 20.000 per kg.
“Kalau untuk cabai rawit kita dapat dari daerah Rembang dan Muntilan, karena daerah tersebut sedang panen serentak sehingga dapat dikatakan pasokan untuk menghadapi puasa dan lebaran aman,” ujar Jiman salah satu pedagang besar cabai rawit.
Secara umum, harga aneka cabai stabil dan cenderung rendah dikarenakan panen yang serentak didaerah Jawa Tengah. Harga cabai rawit merah berkisar Rp18.000 hingga Rp 20.000 per kg, cabai rawit hijau Rp 13.000 hingga Rp15.000 per kg, cabai merah keriting Rp. 15.000 hingga Rp 17.000 per kg, dan cabai merah besar Rp28.000 per kg.
Pun dengan bawang merah, harga cenderung stabil. Faktanya, salah seorang pedagang besar di sana, Aldo Simbolon mengatakan bahwa untuk kualitas super harganya sekitar Rp 22.000 per kilogram. Sementara kualitas sedang Rp15.000 per kg dan bawang giling Rp5.000 per kg.
Aldo menambahkan bahwa saat ini sedang terjadi panen bawang merah di daerah seperti Brebes, Demak, Purwodadi, dan Nganjuk. Maka dari kebutuhan untuk Ramadan hingga Lebaran nanti dipastikan aman.
“Hari ini bawang merah masuk 94 ton, naik 21 ton dari hari kemarin dan akan naik terus hingga bulan Agustus karena pada bulan Juni–Agustus bawang merah sedang bagus-bagusnya,” tuturnya.
Instruksi Mentan
Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menegaskan sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk menjaga pasokan dan stabilisasi harga. Terutama dua komoditas hortikultura yakni cabai dan bawang merah.
Suwandi menjelaskan hal ini bertepatan dengan panen raya bawang merah dan cabai yang terjadi di sentra-sentra besar bertepatan pada bulan Mei-Juni 2019. Dengan demikian, inilah yang menjadi faktor utama penyebab kepastian pasokan dan harga kedua komoditas tersebut.
"Buktinya, saat ini petani di Semarang lagi panen cabai besar 500 hektar dan cabai rawit 375 hektar pada bulan Mei ini. Demikian juga Juni masih panen yang sama sehingga siap dan cukup untuk memasok Jakarta," kata Suwandi yang sedang berada di Desa Samirono Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang guna memantau panen dan pasokan cabai, Rabu (1/5).
Suwandi menyebutkan dari hasil pantauan langsung di lapangan, harga cabai rawit di petani Rp15.000 per kg dan cabai keriting Rp 10.500 per kg. Artinya ada disparitas harga di petani dengan di pasar induk jakarta sekitar 30 persen.
"Terkait bawang putih, Kementan bersama dengan Kemendag kompak memastikan pasokan akan segera normal seiring dengan mulai diterbitkannya Surat Persetujuan Impor kepada beberapa importir," jelas dia.
Lebih lanjut Suwandi menuturkan pasokan bawang merah saat ini sudah kembali normal. Lihat saja, harga di pasar induk sudah dibawah Rp 20 ribu per kilo dan sentra-sentra besar seperti Brebes, Nganjuk, Demak, Grobogan hingga Bima saat ini sudah memasuki panen.
"Pasokan dan harga di Pasar Induk juga terpantau normal. Trend pasokan dan harga stabil ini akan terus berlanjut sampai lebaran nanti," tuturnya.
Hal senada disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan, Yasid Taufik. Yasid memaparkan bahwa untuk suplai bawang merah, cabai serta bawang putih dipastikan aman. Pasalnya produksi bawang merah dan cabai sangat memadai.
"Bulan Mei mulai panen raya, sementara bawang putih yang 97% impor mulai minggu pertama Bulan Mei ini bawang putih impor sudah mulai masuk," kata dia.
"Untuk mengamankan suplai 3 bulan kedepan akan masuk bawang putih sebanyak 115 ribu ton,” pungkasnya.(***)
Editor : Lasman Simanjuntak
Selasa, 02 April 2019
PT.Gapura Prima Tbk Buka Lowongan untuk Para Marketing Tangguh
Jakarta, BeritaRayaOnline,-Perusahaan Gapura Prima Tbk membuka lowongan untuk para marketing yan g tangguh. Dibuka divisi baru untuk expansi project-project mereka.
Mereka ssudah running 25 project di main street di Jakarta , Bali ,dan lain-lain.Ada 5 hotel , 11 apartemen dan 9 lokasi landed house dan lain-lain di Indonesia selama 32 tahun.
PT GAPURA PRIMA GROUP,Tbk sekarang membuka divisi baru yaitu investasi(GSM LINK).
Caranya seperti deposito di bank saja.Deposito mulai yang terkecil dari Rp.25 jt sampai dengan miliaran & triliunan rupiah.
Bunga yang diberikan kepada investor mulai 10%-11% per tahun/6 bulan ,tergantung periode nya(setahun/6 bulan).Tentunya banyak bonus- bonus lainnya seperti tour ke China,Vietnam, dan sebagainya.
Keuntungan untuk kita sebagai marketing apa? fee marketing 3-4%💸 per qutoa/transaksi.Jenjang karir dari manager sampai branch manager dengan penghasilan sebesar Rp 1 miliar/bln.
Syarat Marketing hanya butuh : KTP, NPWP dan copy buku bank hal pertama.
Bagi yang berminat silahkan datang untuk bertemu, pada Kamis 4 April 2019 bertempat Gapura Prima Office,Permata Hijau,BELEZZA Apartemen,Meeting Room 2nd floor(Belezza Apartment)
Jl. Arteri Permata Hijau no.34 Jam 14.00 wib.
Yang mau datang berminat, daftar terlebih dahulu . Kesempatan emas bergabung dengan salah satu perusahaan prime property di Indonesia termasuk 10 besar (Gapura Prima Group)
Info lebih lanjut hubungi segera Amelia Simanjuntak,BA nomer HP 081314899478/WA dan 081293210252. (**/Advetorial)
Mereka ssudah running 25 project di main street di Jakarta , Bali ,dan lain-lain.Ada 5 hotel , 11 apartemen dan 9 lokasi landed house dan lain-lain di Indonesia selama 32 tahun.
PT GAPURA PRIMA GROUP,Tbk sekarang membuka divisi baru yaitu investasi(GSM LINK).
Caranya seperti deposito di bank saja.Deposito mulai yang terkecil dari Rp.25 jt sampai dengan miliaran & triliunan rupiah.
Bunga yang diberikan kepada investor mulai 10%-11% per tahun/6 bulan ,tergantung periode nya(setahun/6 bulan).Tentunya banyak bonus- bonus lainnya seperti tour ke China,Vietnam, dan sebagainya.
Keuntungan untuk kita sebagai marketing apa? fee marketing 3-4%💸 per qutoa/transaksi.Jenjang karir dari manager sampai branch manager dengan penghasilan sebesar Rp 1 miliar/bln.
Syarat Marketing hanya butuh : KTP, NPWP dan copy buku bank hal pertama.
Bagi yang berminat silahkan datang untuk bertemu, pada Kamis 4 April 2019 bertempat Gapura Prima Office,Permata Hijau,BELEZZA Apartemen,Meeting Room 2nd floor(Belezza Apartment)
Jl. Arteri Permata Hijau no.34 Jam 14.00 wib.
Yang mau datang berminat, daftar terlebih dahulu . Kesempatan emas bergabung dengan salah satu perusahaan prime property di Indonesia termasuk 10 besar (Gapura Prima Group)
Info lebih lanjut hubungi segera Amelia Simanjuntak,BA nomer HP 081314899478/WA dan 081293210252. (**/Advetorial)
Langganan:
Postingan (Atom)




































