Rabu, 27 September 2017

10 Tahun Lalu Teknologi ygn Berubah

Hari ini suka atau tidak, fakta sudah terjadi..

1. 10 tahun yang lalu Yahoo adalah raksasa dunia internet.
Fakta h  ari ini habis terlindas oleh Google.

2. 10 tahun yang lalu, Nokia dengan symbiannya adalah raja ponsel di seluruh dunia.
Fakta hari ini Symbian tinggal kenangan, dihajar power dari Android.

3. 10 tahun yang lalu, surat kabar, majalah, dan televisi adalah media informasi paling efektif.
Fakta hari ini, mereka tergerus oleh YouTube, Facebook,Twitter, Instagram, Linkedin.

4. 10 tahun yang lalu gerai Matahari, Ramayana, Carrefour, Hypermart adalah raja dunia retail .
Fakta hari ini, gerai mereka banyak tutup, tergantikan oleh Bukalapak, Tokopedia, Blibli, dll.

5. 10 tahun yang lalu kita masih pakai kertas, survey, dll jika ingin kredit,
Fakta hari ini, mereka akan segera tergerus oleh akulaku dan kredivo.

6. 10 tahun yang lalu ojek adalah profesi yang bahkan tidak dipandang sebelah mata pun.
Fakta hari ini, tukang ojek adalah S1 bahkan S2, karena sudah online.

7. 10 tahun  lalu, dunia investasi hanyalah milik orang kaya, orang banyak duit.
Fakta hari ini, dengan uang 100 rb rupiah pun pengamen jalanan bisa beli Reksadana saham.

8. 10 tahun yang lalu Anda buka toko kelontong harus pakai modal besar.
Fakta hari ini, hanya bermodal Smartphone Anda bisa jadi grosir dengan aplikasi Kudo.

9. 10 tahun lalu anda pesan hotel dan ticket pesawat lewat travel agent.
Fakta hari ini, ribuan travel agent berguguran tergantikan oleh Traveloka, Agoda, Pegipegi dll..

10. 10 tahun yang lalu, jika Anda tidak terbuka pada perubahan jaman, maka hari ini Anda adalah orang yg tergilas oleh jaman.

Dan jika hari ini pun Anda tidak terbuka oleh informasi dan perubahan,
Percayalah 10 tahun yang akan datang Anda adalah orang orang yang *Merugi.*
Perubahan & Inovasi, tidak akan pernah berhenti, meski Anda berkeras untuk tidak ikut berubah.

Begitu juga bisnis, Jika sekarang Anda masih nyaman kerja di Bank
Percayalah 10 tahun lagi bahkan kantor Bank pun *Mungkin* sudah tidak ada karyawannya.
Karena tergantikan oleh aplikasi allpay.

Berubah itu baik, berubah itu perlu, agar Anda bisa bertahan untuk  hidup.

Rabu, 20 September 2017

Selayang Pandang Sejarah Perum Perumnas


 

 

 

Depok,BeritaRayaOnline,- “Wah…pokoknya senangnya bukan main dapat rumah Perumnas di Depok satu ini.Betapa gembira dan bahagianya saya saat itu, apalagi sekitar tahun 70-an sampai tahun 80-an sudah sangat sulit mendapatkan rumah yang harganya murah dan terjangkau,” cerita. Thomas Sebayang (77 tahun) kepada wartawanBeritaRayaOnline yang bertandang ke rumahnya di Jalan Kutilang III No:199, Perumnas Depok I, Selasa malam (19/9/2017).

Mantan wartawan kantor berita KNI -pensiun tahun 1998- dengan penuh semangat dan sedikit bernostalgia lalu bercerita lagi bagaimana “perjuangannya” untuk memperoleh sebuah rumah.

“Saat itu kalau mau cari pekerjaan di Kota Jakarta gampang sekali, asalkan mau kerja saja.Namun, untuk memperoleh sebuah rumah, betapa susahnya.Jadi ketika bertugas meliput berita  di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum (PU) tahun 80-an , saya sering menulis tentang perumahan, yang pada akhirnya berita tentang perumahan tersebut termasuk rumah yang dibangun Perum Perumnas sampai juga dibaca Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Bapak Cosmas Batubara.Lalu beberapa wartawan yang sehari-harinya bertugas meliput di Departemen PU dan Kantor Menpera mendaftar untuk bisa memperoleh rumah yang pertama dibangun Perumnas di Depok 1 ini,” katanya.

Thomas Sebayang-bapak tiga anak dan dua cucu ini-bersama beberapa rekan wartawan anggota PWI Jaya mendaftar untuk memperoleh rumah Perumnas di Depok I untuk  gelombang dua, tahun 1979-1980. Sedangkan untuk gelombang pertama dibangun Perumnas pada tahun 1977-1978 (zaman Menteri PU Sutami, Suyono, dan Radinal Mochtar-red).

“Akhirnya saya dapat rumah tipe 45/102 M2 dengan uang muka Rp 45.000 dan angsuran per bulan Rp 16.410,- untuk masa kredit 20 tahun.Saat itu lokasi Perumnas Depok I sangat jauh dari kota Jakarta. Sering naik bus, sambung lagi. Lalu naik bus lagi, dan sambung lagi.Lalu beralih  naik kereta api, tetapi karena dari stasiun KA Depok Lama saat itu belum ada angkot, sering kami bersama penghuni lainnya harus jalan kaki sejauh tiga kilometer. Kayak mau pergi ke pesta beriringan, atau persis waktu tinggal di kampung jalan kaki bareng-bareng, ha…ha…ha..,” kata Thomas Sebayang tertawa lepas.

Pria yang dilahirkan di Kampung Binangan, Kabanjahe, Tanah Karo, 12 Januari 1940 ini, setahun hidup ‘membujang, lalu memutuskan untuk menikah dengan seorang guru SD, dan sejak saat itu menetap di Jalan Kutilang III No:199 Perumnas Depok I.”Enam tahun jadi wartawan KNI dan hidup berpindah-pindah karena harus ikut saudara, saya akhirnya memperoleh rumah ini.Saat itu bersama kawan-kawan, meskipun lokasi rumah jauh dari Jakarta dan masih sepi, kami telah berfikir pasti suatu saat di sekitar lokasi Perumnas Depok I ini akan tumbuh perumahan-perumahan baru.Eh, betul juga, sekarang banyak perumahan yang dibangun developer swasta. Sekarang rumah tipe 45 di sini sudah ada yang ditawar mulai Rp 500 juta sampai Rp 700 juta.Enggak kebayang dari rumah dengan uang muka hanya Rp 45 ribu, sekarang ada penawaran sampai ratusan juta rupiah,” kilah pria dari Tanah Karo yang senang tertawa lepas ini.

Perumnas Depok, Perumahan Nasional Pertama di Indonesia

Perumahan yang dibangun pertamakali oleh pemerintah adalah perumahan nasional (Perumnas) di Depok. Perumahan tersebut mulai dibangun tahun 1976 dengan lokasi di Beji (Depok I).

Pada tahun 1977 dibangun lagi di Sukmajaya (Depok II Tengah). Luas tanah perumahan Depok II Tengah 117 Ha. Pada tahun 1978 dibangun lagi di atas lahan seluas 170 Ha di Sukmajaya (Depok II Timur). Lokasi perumahan perumnas ini kini berada di pusat Kota Depok.

Pengembang (developer) yang membangun perumnas di Depok itu adalah Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perum Perumnas)–suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perumahan yang didirikan pada tahun 1974. Kini BUMN tersebut telah membangun perumahan dan pemukiman di 400 lokasi di Indonesia dengan total 500.000 unit rumah.

Teks Foto : Presiden Soeharto ketika meninjau Perumnas Depok I pada tahun 1974

Pada 1970-an, Presiden Soeharto mendirikan Perumnas dengan meniru Housing and Development Board (HDB). Bedanya, di Singapura, HDB diawasi langsung oleh perdana menteri dan punya dua institusi penyokong yang sangat kuat, yakni Central Provident Fund, yang membiayai dan meng-collect dana untuk membiayai public housing, serta Urban Redevelopment Authority, yang menguasai land (bank tanah). Hasilnya, saat ini 90 persen warga Singapura sudah memiliki rumah yang disediakan oleh HDB.

Pada era awal itu, Perumnas juga berhasil membangun perumahan besar-besaran di seluruh Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke. Misalnya di Depok, yang pada awal 1970-an cuma kelurahan, lalu di Bekasi, Antapani-Bandung, dan kota lainnya. Pada 1980-an juga sudah membangun konsep perumahan vertikal, seperti Rumah Susun Kebon Kacang, Tanah Abang, dan Klender, juga di Ilir Barat, Palembang. Hingga awal 1990-an, Perumnas dapat menyediakan 48 ribu rumah per tahun.

nNamun, seiring berjalannya waktu, regulasi-regulasi berubah dan Perumnas dianggap sebagai pengembang biasa karena yang disubsidi cuma pembeli lewat KPR. Rumah dianggap komoditas komersial biasa, bukan lagi kebutuhan pokok seperti sandang dan pangan.

Jejak Langkah Perumnas Depok Jaya

Depok, wilayah yang dahulu penuh “misteri” berubah menjadi serba ‘waaah’. Depok Jaya di bilangan Kecamatan Pancoran Mas dahulu hanyalah situ (telaga) dan dikenal dengan nama Situ Beji yang dipanen rame-rame setahun sekali. Diseputarnya kebun atau kandang ternak milik orang-orang Cina dan Belanda serta sebagian milik penduduk setempat.

Perkembangan Depok menjadi semakin pesat sejak Presiden RI ke II Bapak HM Soeharto memberikan perhatihan lebih dalam Pembangunan perumahan yang dinilai sangat penting bagi kehidupan rakyat. Disadari rumah bukanlah sekedar tempat tinggal, tetapi juga tempat pembentukan watak dan jiwa melalui kehidupan keluarga. Untuk memantapkan program pembangunan perumahan, maka pemerintahan Pak Harto membentuk Badan Kebijaksanaan Perumahan Nasional (BKPN), Mei 1972. Sebagai pelaksana, dibentuk Perum Pembangunan Rumah Nasional (PERUMNAS).

Kelurahan Depok Jaya yang dahulu lebih dikenal dengan sebutan PERUMNAS DEPOK I, diresmikan Presiden Soeharto tanggal 12 Agustus 1976, ditandai penandatangan prasasti di sebuah rumah Jln.Manggis V, Depok Jaya, dan penyerahan kunci rumah secara simbolis kepada Sugito (alm) wartawan Harian Angkatan Bersenjata mewakili 180 keluarga wartawan dan karyawan pers. Saat itu presiden juga meresmikan Penggunaan Taman Kanak-Kanak Pertiwi Jl.Kedondong Raya . Pak Harto yang saat Peresmian PERUMNAS Depok I memilih naik kereta api Jakarta – Depok, Depok – Jakarta, sekaligus meresmikan beroperasinya Kereta Api Listrik (KRL) Depok-Bogor.

Sedang Menteri PU Ir.Sutami menyerahkan penggunaan Sekolah Dasar (SD I) di Lingkungan Semangka yang saat itu hanya terdiri dari 3 lokal. Untuk memenuhi kebutuhan warga, PERUMNAS mengijinkan bekas Gudang Perumnas untuk menambah lokal sekolah, akibatnya muncul guyonan SD Gudang di jl.Anyelir, yang keadaannya mengenaskan.

Kondisi seperti itu harus meliput kebutuhan pendidikan keluarga penghuni awal sebanyak 250 KK , terdiri dari wartawan dan Pegawai Negeri Sipil dengan masa kerja minimal 10 tahun. Mereka tinggal di Lingkungan Manggis, Kedondong, Semangka, Pepaya, Jambu, Lely. Akhir tahun 1976 hunian meningkat menjadi 470 KK, dengan anak usia sekolah SD sekitar 600 anak.

Tak urung, untuk memenuhi kebutuhan sarana pendidikan, warga Depok yang dimotori Lurah Sementara (transisi) Perumnas Depok I, Ir.Kumaraningrat yang juga salah satu pimpinan PERUMNAS, Ketua Rukun Keluarga (RK) H.Zainal Arifin-Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB) dan wakilnya H.Prasetyo (Suara karya), Dom Rinetyo (alm)-Hr.Kompas, H.Adirsyah (alm)-Merdeka (Catur Tunggal babat alas Depok Jaya-untuk kelompok PU dan Istana), Harun Nurochadi-Kelompok Kantorberita Nasional Indonesia (KNI), Syarif Hidayat-Mjl.Tempo, Sukardi (wartawan)-ayah Laksamana Sukardi, Ir.Latief-PU, Utoyo Rumanto (alm)-PU, Supoyo-PU, jajaran Humas PU Pusat a.l. Pak Oning dan tokoh-tokoh lain bergotong royong mencari dukungan dan dana lewat jalurnya masing-masing, untuk menambahnya menjadi 6 lokal. Pak Suradi, tinggal di Jln.Kartini Depok Lama adalah satu-satunya guru yang ditunjuk untuk mengasuh ratusan siswa itu. “Namanya juga darurat tokoh-tokoh yang pernah belajar di sekolah guru seperti Pak Utoyo Rumanto (alm) ikut mengajar,” kata H.Prasetyo.

Teks Foto : Suasana Stasiun KA Depok Lama zaman penjajahan Belanda

Perkembangan Depok juga mengundang perhatian banyak pihak. Pemerintah DKI Jakarta misalnya membantu berdirinya SMA Negeri I, Balai Rakyat, dan Lapangan Olah Raga Jln.Merpati. Peresmiannya dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto didampingi Wagub. Urip Widodo.
Dalam pengembangan kehidupan beragama Perumnas juga menyerahkan lahan seluas 10 Ha (dari 6 ha ditambah 4 ha) kepada Yayasan Pembangunan Islam untuk Islamic Centre dan membantu berdirinya Mushola Nurul Islam di Jln.Mangga Raya (Semangka II) yang kini menjadi masjid megah.

Secara administratif Perumnas Depok I semakin tertata dengan adanya keputusan Bupati Bogor Ayip Rugby yang menetapkan Perumnas Depok I menjadi Kelurahan tersendiri dengan nama Depok Jaya. Lurah yang pertama Hermusa. Penggantinya berturut-turut Omo, Ceppy Suradi, Dadang Wihana, Indragiri, M.Mochtar Cholid, Drs.Slamet Aryadi, MM.,Satibi, S.Pd. dan kini Dra. Yuli Puspita Anggraini.

Hunian semakin diminati, apalagi lewat jasa KPR-BTN (Bank Tabungan Negara) cicilan per bulannya tidak bergerak naik hingga lunas. Untuk T-36=Rp 7.000, T-45 luas tanah 110 meter persegi=Rp.10.300, M-54 (tingkat)=Rp.11.900, T-70 luas tanah 200 m persegi= Rp.20.300,-/bulan. Ada sedikit perbedaan bagi mereka yang menempati pinggir jalan raya atau kelebihan luas tanah.

Diusia Tiga Dasa Warsa, Lurah Depok Jaya Drs.Slamet Aryadi, MM , ayah dua anak ( Dwi Anita-SMP dan Triyadi Setia Permadi-SD) buah hati perkawinannya dengan Dra.Titik Poniti, MM, menyatakan rasa syukurnya perkembangan perekonomian, pendidikan, sosial kemasyarakatan termasuk kerukunan, partisipasi dan gotong royong dalam pembangunan tumbuh subur.

Demikian juga kuwajiban dalam berbangsa dan bernegara antara lain dibuktikan dengan tertipnya warga membayar PBB. Sejak 3 (tiga) tahun terakhir Depok Jaya selalu merebut juara dalam pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Depok Jaya yang luasnya 113 Ha, berpenduduk 23.767 jiwa dari 5.034 KK menempati 4027 rumah hunian, terbagi menjadi 14 RW dan 108 Rukun Tetangga (RT). Di wilayah ini terdapat 23 Sekolah Dasar dan Madrasah (16 negeri, 7 swasta), SMP 3 (satu negeri, 2 swasta), dan 2 SMA (1 negeri dan 1 swasta). Sementara untuk perguruan tinggi, cukup menjanjikan karena lokasi Depok Jaya berdekatan dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gunadharma dan lain-lain. Tentunya, prestasi dan keberuntungan, taruhannya.

Perumnas Depok I, Depok Jaya yang dibangun pada Pelita II adalah “cikal bakal” tumbuh pesatnya Kota Depok. Hunian yang sebagian besar penduduk berprofesi wartawan ini, pada awal Pelita III disusul dibangunnya Perumnas Depok II, Depok Tengah, Depok Timur dan Depok Utara. Di era itu Kampus Universitas Indonesiaa dan Universitas Gunadharma dibangun di Depok. Giliran peran serta pengembang swasta tidak mau ketinggalan dan lahirlah Depok Mulya, Pesona Depok, Pesona Kayangan, Vila Novo, Perum Maharaja dan masih banyak lagi. Karuan saja pusat-pusat perdagangan juga berkembang pesat a.l. Depok Mall, Borobudur, Carefour, DT, ITC. Rumah Toko (Ruko), Super Market, dan lain-lain.

Meningkatnya perdagangan dan jasa, yang semakin pesat, diperlukan kecepatan pelayanan. Untuk itu pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1981 yang peresmiannya di selenggarakan pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (H. Amir Machmud) yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa.

Tujuh belas tahun kemudian tepatnya tanggal 20 April 1999 Berdasarkan Undang-undang Nomor 15 Tahun 1999 Kota Administratif Depok ditingkatkan menjadi Kotamadya.Daerah Tingkat II Depok, yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999, dan diresmikan pada tanggal 27 April 1999 berbarengan dengan pelantikan Pejabat Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Depok yang dipercayakan kepada Drs. H. Badrul Kamal. Kini berdasarkan Pilkada, terpilih DR.Nur Mahmudi Ismail sebagai Walikota berpasangan dengan Drs.Yuyun Wirasaputra sebagai wakilnya. Dan pada periode berikutnya walikota terpilih DR.Nur Mahmudi Ismail sebagai Walikota berpasangan dengan KH. Idris Abdul Somad,Lc. sebagai wakilnya. Pada pilkada tahun 2015 walikota terpilih KH. Dr.Idris Abdul Somad, MA sebagai walikota berpasangan dengan Pradi Supriyatna untuk Masa Bakti 2016-2021.

Wilayahnya meliputi Kecamatan Cimanggis (1 kelurahan 12 desa), Kecamatan Sawangan (14 desa), Kecamatan LIMO ( 8 desa), Kecamatan Pancoran Mas 8 kelurahan yaitu Kelurahan Rangkapan Jaya, Kelurahan Mampang, Kelurahan Pacoran Mas, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Depok, Kelurahan Bojong Pondok Terong, Kelurahan Ratujaya, Kelurahan Cipayung, Kelurahan Pondok Jaya dan Kelurahan Cipayung Jaya), Kecamatan Beji (6 kelurahan) dan Kecamatan Sukmajaya sebelas kelurahan

Sejarah Perum Perumnas

PERUMNAS adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perusahaan Umum (Perum) dimana keseluruhan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah. Perumnas didirikan sebagai solusi pemerintah dalam menyediakan perumahan yang layak bagi masyarakat menengah ke bawah.Perusahan didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1974, diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1988, dan disempurnakan melalui Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2004 tanggal 10 Mei 2004.

Sejak didirikan tahun 1974, Perumnas selalu tampil dan berperan sebagai pioneer dalam penyediaan perumahan dan permukiman bagai masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.Sebagai BUMN pengembang dengan jangkauan usaha nasional, Perumnas mempunyai 7 (tujuh) Wilayah usaha Regional I sampai dengan VII dan Regional Rusunawa.

Helvetia Medan, Ilir Barat Palembang, Banyumanik Semarang, Tamalanrea Makasar, Dukuh Menanggal Surabaya, Antapani Bandung adalah contoh permukiman skala besar yang pembangunannya dirintis Perumnas.

Kawasan Permukiman tersebut kini telah berkembang menjadi “Kota Baru” yang prospektif. Selain itu, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi juga merupakan “Kota Baru” yang dirintis Perumnas dan kini berkembang pesat menjadi kawasan strategis yang berfungsi sebagai penyangga ibukota.

1974 – 1982

Perumnas memulai misinya dalam membangun perumahan rakyat menengah kebawah beserta sarana dan prasarananya.  Ribuan rumah di bangun di daerah Depok, Jakarta, Bekasi dan meluas hingga Cirebon, Semarang, Surabaya, Medan, Padang dan Makassar.

1983 -1991

Perumnas selain membangun rumah sederhana juga mulai merintis pembangunan rumah susun sederhana dengan tujuan mendukung program peremajaan perkotaan.

1992 – 1998

Pada periode ini, Perumnas membangun hampir 50% dari total pembangunan rumah nasional.  Melonjaknya produksi perumahan ini didorong oleh program pemerintah untuk membangun 500.000 rumah sederhana (RS) dan rumah sangat sederhana (RSS).

1999 – 2007

Periode pasca krisis dimana Perumnas mengalami restrukturisasi pinjaman perusahaan dan penurunan dalam capacity building akibat lemahnya daya beli masyarakat khususnya masyarakat menengah ke bawah.

2008 – 2009

Kinerja Perumnas naik hingga mencapai target RKAP 300% lebih tinggi daripada tahun sebelumnya.  Perumnas menjadi pelopor dan pemimpin pembangunan Rusuna 1.000 Tower.

2010 – 2015

Perumnas menuju National Housing & Urban Corporation dengan menjadi pelaku utama penyedia perumahan dan permukiman di Indonesia.  Mencanangkan target pembangunan 100.000 rumah/tahun. (Lasman Simanjuntak)

 

Sabtu, 16 September 2017

Sertifikasi Guru SS/Guru Injil GMAHK Jatinegara

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Syalom..selamat pagi..Lasman Simanjuntak ,Pemimpin Penginjilan Perorangan ( PP) Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara menerima secara simbolis sertifikat dari Ketua Konference DKI Jakarta Pdt.AH.Marbun usai penutupan acara sehari penuh (sejak pagi hingga malamhari) 'Sertifikasi Guru Sekolah Sabat/Guru Injil se-Konferens DKI Jakarta dan sekitarnya' berlangsung di ruang Tjut Nyak Dien, Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, Sabat (Sabtu, 16 September 2017).

Sertifikat tanda 'kelulusan' dari GMAHK Jatinegara juga diberikan kepada Sdr.Jefta Manoppo, Sdr.Hendriks Padmasana, Sdr.Ludwich  Hasibuan, dan Sdr.Juarto.

Dengan demikian diharapkan setelah para Guru-Guru Sekolah Sabat ini 'bersertifikat' ada 'perubahan nyata' dalam mengajar di kelas-kelas UKSS (Unit Kerja Sekolah Sabat) gereja masing-masing.

Keseimpulan dari acara pelatihan sertifikasi Guru SS ini antara lain 1) Guru Sekolah Sabat (SS) merupakan suatu 'panggilan dalam pertobatan' dan terus melakukan (secara simultan) hubungan dengan 'Guru Besar' kita Tuhan Yesus Kristus, 2) Setelah Guru SS bersertifikat diharapkan cara mengajar Guru SS 'berubah', harus mengajar 'penuh Kuasa' seperti Yesus Kristus yang dalam hidupnya lebih banyak mengajar penuh 'Kuasa' seperti tertulis dalam Matius 4:23, Matius 9:35, Matius 7:27, Matius 9:35, Matius 21:23, dan Efesus 4:15.3) Guru SS itu merupakan pekerjaan pelayanan seumur hidup.4) Guru SS harus lebih 'rohani' dari orang lain sehingga bisa mengajak anggota UKSS untuk bertumbuh dalam kerohanian.5) Guru SS merupakan 'Gembala' di kelas-kelas UKSS, sedangkan 'Gembala' di jemaat yaitu Pendeta.

"Setelah pulang dari sini para Guru SS harus ada 'perubahan' dalam mengajar di kelas UKSS, tak lagi melakukan kesalahan," pesan Pdt.Binner Silalahi, Pemimpin SS/PP Konference DKI Jakarta.

Tampil sebagai pembicara yaitu Pdt.Sutrisno Tjakrapawira memberikan pelajaran pertama (modul kesatu) berjudul "Know the Role of Sabbath School Teachers", kemudian Pdt.Binner Silalahi "Know The Teachers Qualifications" (modul kedua), Pdt.Wendell.Mandolang berjudul "Know the Preparation for Teaching' (modul ketiga), serta Pdt.Praban Saputro berjudul "Know the Power of Teaching" dan "Know the Methode of Teaching" (modul keempat dan kelima), serta terakhir modul keenam berjudul"Growing Continuosly" dibawakan oleh Pdt.Sutrisno Tjakrapawira.
Tk..Tuhan Yesus memberkati.🙏🙏🙏

Selasa, 22 Agustus 2017

Bagaimana Melihat Kode Ban Mobil

*KODE BAN MOBIL*

*☞ Contoh yang tertulis di ban*  :

*205/65/R15 94 H*

↳ 205 ⇨ Lebar BAN.
↳ 65   ⇨ Tinggi BAN.
↳ R     ⇨ Ring/Diameter.
↳ 15   ⇨ Ukuran Ring.
↳ 94   ⇨ Max Beban.
↳ H     ⇨ Max 210km/h.
↳ S     ⇨ Max 180km/h.
↳ T     ⇨ Max 190 km/h.
↳ U     ⇨ Max 200km/h.
↳ V     ⇨ Max 240km/h.
↳ Z     ⇨ >240km/h
↳ W    ⇨ 270km/h
↳ Y     ⇨ 300km/h

*Setiap BAN ada 4 angka terlihat di sisi BAN*
↣ Contoh : *2214*

Menunjukkan keluaran BAN baru dari pabrik pada minggu ke *22* tahun *2014*

*Setiap BAN, mempunyai tempo / masa  penggunaan ideal 5 tahun*
Sejak *tanggal dikeluarkan dari PABRIK.*

Jika...
*Membeli B̲A̲N̲ ̲B̲A̲R̲U̲ pastikan tahun terkini*...
Jika...
Membeli BAN dengan kode tahun yang sudah lewat, maka kita berhak untuk minta Diskon dari harga List sesuai dengan ketentuan.

*Contoh ban dijual pd akhir tahun 2014:*
Produk tertulis tahun:
2013 Potongan Disc 20%.
2012 Potongan Disc 40%.
2011 Potongan Disc 60%.
2010 ... jangan dibeli meskipun ditawari diskon 80%.

*Usia BAN (BARU) bila sudah lebih dari 5 tahun,* maka kondisi karet ban sudah keras karena sudah masuk kategori *expired* meskipun belum digunakan.

Sangat *disarankan jangan dipakai lgi,* jelas bisa *membahayakan jiwa anda.*

Info Penting *Semoga Bermanfaat*.

Marilah Kita Lebih Teliti Terhadap Masalah Keselamatan Jiwa Kita Dan Keluarga.(**)

Selasa, 01 Agustus 2017

Bertumbuh Menjadi Seperti Yesus, Mengikuti Teladan Yesus"

Renungan Hari Ini :

"Bertumbuh Menjadi Seperti Yesus, Mengikuti Teladan Yesus "

Dalam diskusi 'belajar Alkitab' dari buku 'Modul Kelompok Peduli' (Bab 4/halaman 41-42)  berjudul " Bertumbuh Menjadi Seperti Yesus, Mengikuti Teladan Yesus" ada beberapa point penting yang sangat menarik untuk diaplikasikan dalam kehidupan kita sebagai umat Tuhan.
1) Definisi 'Teladan' artinya sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh.Yesus memberi teladan supaya kita ; berbuat sama seperti yang telah  Kuperbuat kepadamu, dan mengikuti jejakNya (Yohanes 13:15, 1Petrus 2:21, dan 1 Kor 4:16).
2) Mengapa Yesus harus menjadi teladan kita?Karena Yesus sempurna tanpa salah dan dosa, dan Yesus memberikan teladan dalam semua aspek kehidupan kita.
3) Teladan Yesus bersumber pada otoritas ilahi, dan kita bisa meniru Yesus ;dalam melakukan kehendak bapaNya, dalam kemurnian tabiatNya, dalam kerendahan hati dan direndahkan, serta dalam kebajikan dan penurutan).Namun, perhatian yang lebih besar pada kehidupan dan teladan Tuhan Yesus Kristus , khususnya adalah KASIH (1 Kor 13:4-5 dan Gal 5:22-23), dan PENURUTAN. Jika kita ingin mengikuti teladan Kristus dan berjalan di jejakNYa, kita harus berupaya untuk melakukan  hal-hal yang sama mengikuti POLA yang telah Dia berikan.
4) Para murid dan Rasul mengikuti teladan Yesus dan menjadikan diri mereka teladan, diantaranya: Rasul Paulus. (1 Kor 4:16, 1 Tes 1:7, 1 Tim 4: 12, 1Pet 2:21).Itu artinya Yesus Kristus telah memberikan teladan kepada murid-muridNya untuk berbuat sama seperti  yang Yesus buat dan mengikuti jejakNya.Murid-muridNya memberikan teladan kepada semua orang.
5) Aplikasinya pada kehidupan kita sekarang untuk mengikuti 'Teladan Yesus' tertulis dalam 1 Korintus 11:1 "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus".
Kristus menjadi teladan yang sempurna dalan TINDAKAN, dan PERILAKU untuk semua yang dituntut dalam Alkitab. (baca kembali 1 Timotius 4:12).Menjadi seperti Kristua adalah tujuan utama kita.Dari hari ke hari saat kita menempatkan Kristus sebagai MODEL, maka kita akan BERTUMBUH dan semakin TERLIHAT BERBEDA.
Tk.Tuhan Yesus memberkati.

Pamulang, Selasa (1/8/2017) pukul 14.45 wib
# Pulo Lasman Simanjuntak

Minggu, 23 Juli 2017

Penemuan Muktahir di USA yang Menggemparkan Tentang Manusia

Jakarta,BeritaRayaOnline,-Menyatakan bahwa sel-sel kanker paling takut dengan KASIH.

Penelitian menemukan banyak orang sakit karena tidak punya cinta kasih!

Profesor Amerika  Hawkins yg adalah seorang dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. Begitu melihat seseorang, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena dari tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun kasih dalam dirinya, yg ada hanya  penderitaan, keluhan dan deraian air mata yang membungkus seluruh tubuhnya.

Profesor Hawkins mengatakan:
Kebanyakan orang sakit karena tidak ada hati yg mangasihi dalam dirinya. Yang ada hanya kesedihan dan deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 menyebabkan mudah terserang sakit.

David Hawkins mendapati bahwa sebagian orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang *di atas 200* maka dia tidak akan sakit.

Pikiran atau niat negatif mana yang ada di bawah getaran 200? Yaitu:
• suka mengeluh
• suka mnyalahkn orang lain
• dendam pada orang
Kalau pikiran2 itu yang menguasai pikiran se"org berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 saja. 
Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar tenaga sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200.
Orang- orang seperti itu SANGAT MUDAH mengidap berbagai jenis penyakit.

Frekuensi paling tinggi berada di angka 1000 dan yang paling rendah berada di angka 1.

Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat yang mempunyai frekuensi positif di atas 700 maka kekebalannya/ kemampuannya sangat cukup.
Jika orang-orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu. Seorang yang berkebajikan tinggi yg mendapatkan penghargaan novel perdamaian seperti Bunda Teresa jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif dan sangat tinggi. Semua orang yang hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran kasihnya yang sangat tinggi, semua orang merasa nyaman dan sangat tergugah di dalamnya.

Pada saat orang yang memiliki getaran HAWA positif tampil di suatu tempat maka dia akan menggerakkan semua orang dan makhluk yang ada di tempat itu menjadi nyaman dan merasa damai.

Namun pada saat orang  memiliki pikiran negatif muncul di suatu tempat bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan ATMOSFIR/ HAWA POSITIF ditempat tersebut memburuk.

Profesor Hawkin telah melakukan puluh kali riset contoh kasus dan penelitian pada orang-orang yang berbeda namun jawabannya serupa yaitu: asal getaran frekuensinya berada *di bawah  200* maka orang itu *pasti sakit*. Tapi jika berada *di atas 200* maka orang itu *tidak sakit.* 

*Yang di atas 200:* apa saja yg didasari dengan hati Welas Asih, cinta kasih, suka beramal, gampang memaafkan, lemah lembut, dan lain-lain. Ini semua berada di frekuensi sekitar 400-500.

Sebaliknya suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, iri hati, menuntut orang lain, egois dalam semua hal, hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, orang-orang seperti itu mempunyai frekuensi magnet yang *paling rendah*.
Hal itu yg menyebabkan menjadi penyakit kanker, sakit jantung dan penyebab penyakit lainnya.

Dia memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan dan penyakit seseorang.

Kekuatan Kasih:
Seorang seniman biola setelah mengidap penyakit kanker dia berjuang melawan penyakitnya namun dia merasakan semakin hari semakin memburuk lalu dia memperbaiki konsep pikirannya dengan mencintai semua sel kanker yang ada dalam dirinya sendiri, dia melihat sel kanker yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelayanan pada dirinya dan ia berterima kasih padanya dan dia merasakan perasaannya lebih nyaman.
Selanjutnya dia memutuskan menjalani dengan Kasih untuk menghadapi dan semua masalah yang dihadapinya dia memutuskan untuk melayani setiap orang dan dirinya sendiri dengan Kasih

Setelah beberapa waktu berlalu di luar dugaan, semua sel-sel kanker dalam dirinya menjadi hilang. Terakhir dia menjadi seorang ahli therapy  di Jepang. Dia mendapati dasar dari semua kehidupan adalah Kasih

Pada saat seseorang telah bisa hidup dengan cinta, maka dia bisa mendapatkan kedamaian dan kesehatan secara fisik dan batin.

*"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."*

Artikel ini telah banyak merubah _mindset_ pikiran orang-orang yang selama ini hanya mengharap, bukan memberi.
Semoga kita makin bahagia jiwa dan raga...(**)
Editor : Lasman Simanjuntak

Kamis, 13 Juli 2017

Selayang Pandang Tentang Diskusi Sastra Kita Jakarta

selayang pandang tentang SASTRA KITA


Sekilas tentang Kelompok diskusi  “SASTRA KITA”
            Mulai dibentuk pada tanggal      : 2 September 1984
                                                              Di Jakarta
            Para pendiri                              : Humam S. Chudori (cerpenis)
                                                              Ayid Suyitno PS (penyair)
                                                              Nanang R. Supriyatin (penyair)
                                                              Harianto Gede Panembahan (cerpenis)
            Kelompok diskusi “Sastra Kita” awalnya merupakan forum silaturahmi antar penulis karya sastra yang sering bertemu, secara bergantian di rumah (humam, ayid, dan Nanang). Akhirnya para penggagas tersebut sepakat untuk mengadakan suatu pertemuan dengan mengundang beberapa orang yang punya minat yang sama dalam bidang susastra.
            Maka pada pertemuan yang diadakan pada tanggal  2 September 1984 di rumah Pulo Lasman Simanjuntak (penyair yang juga wartawan sebuah media cetak) yang berada di Jalan  Rengas I No. 23-A (kebayoran baru, Jakarta) dengan dihadiri oleh: Humam S. Chudori, Ayid Suyitno PS, Nanang R. Supriyatin, Harianto Gede Panembahan, Yon AG. Bambang Prakoso, Doddy Permadi Indrajaya, Pulo Lasman Simanjuntak, Rudy Valentino Efendi, dan Victor Manohara Tampubolon. Telah disepakati untuk menjadikan sebuah (Komunitas meskipun tidak disebut sebagai komunitas melainkan dengan sebutan Kelompok Diskusi) Kelompok Diskusi “Sastra Kita”. Tujuan dibentuknya Kelompok Diskusi “Sastra Kita” ini adalah untuk mendiskusikan masalah-masalah sastra yang berkembang di tanah air pada saat itu. Memperbincangkan para sastrawan ‘besar’ yang saat itu mengklaim dirinya sebagai “Sastrawan Naga” yang memandang sebelah mata terhadap “Sastrawan Cacing”   
            Sejak itu, paling tidak sebulan sekali, anggota Kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi tentang masalah sastra yang berkembang pada saat itu. Namun, kegiatan yang diadakan dari rumah ke rumah (anggota komunitas) ini dirasakan kurang memberikan sumbangan bagi sastra secara lebih luas.
Karena itu kelompok “SASTRA KITA” mengadakan diskusi (untuk membahas karya sastra dan memotivasi anak-anak pelajar slta untuk mencintai karya sastra) dari sekolah ke sekolah. Dari kegiatan ini, lalu bergabunglah beberapa orang penulis (penulis cerpen, cerita anak, penyair, mahasiswa, dan pelajar slta) di antaranya: Murni Setiawati, Mariam Bahmid, Wahyuni Puji Saraswati, Nani Mutiara, Toto Sugiarto, Gunawan Maulana, Apin, Amazone Dalimunthe, Lucy, Ida Simatupang, dan Haris Barata. Namun, kegiatan ini tidak tiap bulan dilaksanakan dan hanya terbatas pada beberapa sma di Jakarta. Lantaran para ‘aktivis’ SASTRA KITA tidak hanya sebagai seorang sastrawan. Melainkan ada yang juga bekerja sebagai karyawan, wartawan, guru, dan mahasiswa. Hingga mereka seringkali tidak bisa mensinkronkan waktu antara satu orang dengan lainnya untuk membahas kegiatan tersebut.
            Meskipun telah melakukan kegiatan dari satu SMA ke SMA (sekarang SMU) lain, para pendiri Kelompok Diskusi SASTRA KITA, merasa belum puas dengan kegiatan ini.
Karena itu Kelompok diskusi “SASTRA KITA” menerbitkan sebuah buletin yang diberi nama “SIKAP”. Buletin ini didanai oleh pribadi dari beberapa pendiri “SASTRA KITA”. Buletin (berisi cerpen, puisi, ulasan karya sastra, dan tanya jawab tentang susastra) berupa fotocopy-an ini menjadi semacam media ‘diskusi’ antar anggotanya. Karena anggota kelompok SASTRA KITA mulai tersebar di beberapa kota di Jawa. Sayangnya buletin “SIKAP” hanya sempat bertahan hingga tujuh edisi. Setelah itu tidak terbit lagi.
            Kegiatan lain yang dilakukan anggota kelompok “SASTRA KITA” adalah saling melempar isu tentang susastra yang berkembang pada saat itu di media cetak. Berpolemik di media cetak, di samping itu – tentu saja – tetap menulis karya sastra (baik cerpen maupun puisi) untuk didiskusikan dalam pertemuan rutin (intern) anggota kelompok “SASTRA KITA” yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya.
            Selain kegiatan-kegiatan tersebut di atas, kelompok “SASTRA KITA” juga menerbitkan buku karya sastra (kumpulan puisi, antologi cerpen dan puisi) dengan didanai oleh penulisnya sendiri. Penerbitan buku secara swadaya ini mengingat bahwa pada saat itu karya sastra (terutama puisi) tidak laku untuk dijual. Sementara itu, diakui atau tidak, yang akan dipertimbangkan oleh sebuah perusahaan penerbitan buku bukan semata-mata naskah tersebut laik terbit atau tidak. Melainkan juga akan laku di pasaran atau tidak. Berpijak dari arah inilah, hanya dengan ‘modal’ idealisme (dan modal nekad) anggota kelompok “SASTRA KITA” (dan simpatisannya) menerbitkan karyanya sendiri.
            Dalam rentang waktu kurang lebih duabelas tahun, sejak terbentuknya Kelompok “SASTRA KITA” setidaknya sudah lima belas buku yang telah diterbitkan oleh “Kelompok Sastra” antara lain:
  1. Empat Melongok Dunia (thn penerbitan 1984 - antologi puisi dan cerpen) oleh Humam, ayid, Nanang, dan Harianto.
  2. Suara-suara (1985 - kumpulan puisi) Karya Nanang R. Supriyatin.
  3. Balada Sarinah (1985 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  4. Sketsa Sastra Indonesia (1986 - antologi 27 penyair nusantara)
  5. Sang Matahari (1986 - kumpulan puisi) karya Diah Hadaning
  6. Tling tlung (1986 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto.
  7. Penyair Luka (1987 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS. 
  8. Nyanyian Bukit karang (1987 - kumpulan puisi) karya Ang Tek Khun.
  9. Memelihara cinta (1995 - kumpulan Puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  10. Kabar Keluh (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS
  11. Prosa Pagi Hari (1995 - kumpulan puisi bekerja sama dengan Penerbit Agiamedia) karya Nanang R. Supriyatin. 
  12. Lagu Kesunyian (1995 - kumpulan puisi) karya Ayid Suyitno PS.
  13. Surat Bugil (1996 - kumpulan puisi) karya Pudwianto Arisanto. 
  14. Di Sekitar Puisi (1997 - kumpulan esei sastra) karya Ayid Suyitno
  15. Kalah atau Menang (1997 - kumpulan puisi) karya: Pulo Lasman Simanjuntak.
            Buku-buku tersebut di atas hanya dua judul yang sempat beredar di toko buku (di Jakarta) yaitu: buku Empat Melongok Dunia dan Sketsa Sastra Indonesia. Buku yang lainnya hanya beredar di kalangan terbatas – tidak dijual di toko buku. Dan kepada para peminat buku hanya dimintai prangko pengganti ongkos kirim.
            Selain menerbitkan buku (tersebut di atas) dan melakukan diskusi sastra di sma, kegiatan lain yang pernah dilakukan oleh Kelompok “SASTRA KITA” adalah mementaskan musikalisasi puisi dan cerpen yang bertemakan “PERANG” (yang diambil dari antologi cerpen dan puisi “empat melongok Dunia”). Yang merupakan ekspresi keprihatinan anggota kelompok SASTRA KITA setelah ditemukannya senjata-senjata mutakhir untuk berperang (baca: untuk menghabisi nyawa manusia). Namun, pementasan yang dipergelarkan di Pasar Seni jaya Ancol pada tanggal 20 September 1985, dan hanya mendapatkan ‘honor’ makan malam dengan nasi bungkus ini dinilai kurang memuaskan oleh kelompok SASTRA KITA sendiri.
            Sejak tahun 1990, karena berbagai kesibukan anggotanya, SASTRA KITA tidak lagi aktif – melakukan kegiatan diskusi atau mengunjungi sma seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Meski masih menerbitkan buku, kegiatan yang dilakukan “SASTRA KITA” tak lagi aktif seperti tahun-tahun sebelumnya. (sudah tidak pernah lagi kumpul-kumpul untuk berdiskusi, kecuali hanya saling kunjung mengunjungi di antara anggotanya). Hal ini disebabkan para personilnya pindah alamat, dan ada pula yang karena kesibukan keluarga (ketika kelompok diskusi “SASTRA KITA” dibentuk belum ada satu pun anggotanya yang sudah berkeluarga), ada pula yang sibuk dengan pekerjaan yang ditekuninya hingga tidak lagi berkiprah dalam dunia susastra.
            Karena komunitas sastra ini merupakan organisasi tanpa bentuk (hanya semacam kelompok diskusi), maka tidak ada yang menduduki jabatan ketua, sekretaris, bendahara dan jabatan struktural lainnya. Yang ada hanya pendiri dan anggota. Sedangkan cara kerja yang dilakukan oleh kelompok “SASTRA KITA” dengan cara dikerjakan bersama-sama (tidak ada pembagian tugas secara khusus) melainkan hanya berdasarkan siapa yang sempat. Semacam paguyuban atau sambatan (seperti tradisi membangun rumah di daerah Jawa beberapa tahun yang lalu). Semua anggota berusaha saling membantu satu sama lain.
Kelompok diskusi “SASTRA KITA” tidak menganut ideologi tertentu. Melainkan hanya karena perasaan yang sama sebagai penulis muda kurang mendapatkan (baca: hanya dipandang sebelah mata) perhatian oleh sastrawan senior dan penerbit buku.
            Pada tahun 1996, kelompok “SASTRA KITA” bergabung dengan KSI (Komunitas Sastra Indonesia) yang dimotori oleh Wowok Hesti Prabowo. Nah, sejak bergabung dengan KSI dengan sendirinya “SASTRA KITA” menjadi bagian dari KSI. Meskipun sampai saat ini “SASTRA KITA” tak pernah secara resmi bubar. Dan sebagian pendiri dan aggota “Sastra Kita” (yang masih berkiprah di dunia karya sastra) sebagian menjadi aktivis KSI. Karena sebagian anggota kelompok diskusi SASTRA KITA sudah tidak lagi berkiprah dalam dunia sastra. (Humam S. Chudori)
            
Juni 2012