Kamis, 27 Juni 2019

35 Puisi (1980-2016) Karya Pulo Lasman Simanjuntak

35 Puisi  (1980-2016)

Karya : Pulo Lasman Simanjuntak

Bersetubuh Dengan Tikus

Kami harus bersetubuh dengan tikus ini
di atas ranjang terowongan dapur
berselimutkan tanah merah
birahiku melepuh
sungguh sudah berminggu-minggu
kukunyah habis spermamu jadi berita utama
di layar televisi, surat kabar, dan media digital
sehingga puisi yang malam ini kutulis
terbuang (percuma)
ditelan dengkur tidurmu

Pamulang, Senin, 18 April 2016, pukul 22.20 WIB

Tanah Lot

Telah kutempuh namamu
lewat cuaca dan mata
hingga suara laut pun
turut mengisi dongeng swastika
alangkah lembut
dunia yang lega.

Katakanlah….
seperti indera kita
menyingkap sejarah iba
kutukan macam apa lagi
membuat bintang-bintang berguguran
di serambi pura
sedang keheningan anak-anak pantai
telah menyatu dengan mesra
menyebar jejakmu kecil
di masa lampau.
Kini tinggal kita yang bertekad
waktu kau hapal keterasinganku
cemas berlumur darah
sebagai layaknya matahari siang
surut di dada
kita pagutkan rindu ini
sebelumnya akhirnya
ia akan membatu.

Denpasar, 1980

Di Kota Bangli (40 kilometer) Suatu Sore

-sajak duka bagi Made Anom-
Jangan kau paksa aku
untuk bertanya
mengapa terjadi cuaca !
Dalam suasana pasrah seperti ini
terminal yang esa
biarkan mengetuk-ngetuk pintu
bagi setiap penjelajah
menanti tergelincuhnya senja
memohon seribu dugaanmu.

Denpasar, 1980

Sungai Musi Suatu Malam Berkabut

Sungai Musi suatu malam
tanpa mata
berkabut putih- seperti lelehan lepra.
Sungai Musi kubawa tidur lelap dalam sajakku
yang selalu berucap ;
selamat datang penderitaan
selamat datang kesengsaraan…

Palembang, 2016

Tubuhku Bersatu Dengan Suara Ombak Laut Selat Sunda

Kami datang
membawa sebungkus dendam
menyusuri pasir dan injakan karang tegar
sunyiku tak mendaki matahari pagi .
Sejak dalam perjalanan tadi
sahabatku bercerita rakyatku menyedot minyak bumi
dua puluh tahun kemudian kita akan krisis pangan
di negeri khatulistiwa (dua sahabat karib tetap menyodorkan wajahnya untuk dilukis di muka wajah laut).
Di atas meja bundar
gelas demi gelas dihidangkan hiruk pikuk suara ombak laut Selat Sunda
dingin.mengerikan.
kami harus hidup dengan roh rendah hati.

Pamulang, 2016

RUMAH DOA (Bag.Pertama)

Di atas bantalan batu-batu dan pasir biru
jadilah sebuah rumah rapuh
ke sana kubangun mimpi-mimpi luruh
alangkah keruh nyanyian penyair pilu
keluh kesah masa laluku.

RUMAH DOA (Bagian Kedua)
Di atas batu dan pasir biru
kubangun mimpi-mimpi kudus.
Enam abad butuh waktu
untuk menjenguk Tuhan
di muka pintu.
Kemana gerangan doa-doa itu
melayang siang dan malam.

DOA PAGI
Seribu hantu menyerbu diriku
saat bertelut
menghadap mezbah Tuhan
dengan kata-kata menghujat berlumur dosa memerah
yang makin melumpuhkan tubuhku
untuk berucap doa-doa sambut matahari pagi.

UPAH DOSA
Airmata mengalir ke sebuah situ
berlabuh dalam rahang otak
musim kemarau
sudah dua abad maut mau meledak
lewat sekilas berita.
O, aku jadi teringat
uang tiga puluh keping perak
untuk si pengkhianat yang menjual kepalsuan
bagi Tuhan.

SAJAK JUMAT SORE
Saat sembahyang menutup matahari terbenam
kubayangkan tubuhku tergantung di tiang bukit tengkorak
sementara di luar jendela hujan deras
makin membuat hatiku gelisah
untuk pulang menuju ke pembaringan malam.

Bekasi, 2015

BANDARA INTERNASIONAL CHANGI
1
Lihatlah toko-toko siang ini sudah berdandan
mau tunggu apa lagi mahluk dungu.
Jasad makin usang sepanjang landasan.Permadani batu
tak beri salam tuli
kumpulan kaki yang payah.
2
Percakapan riuh kulipat rapi dalam kopor
menyedot sepi kian berlemak
sampai dari jarak begitu dekat
supir airbus menggosok-gosok jantung.
Pesawat belum menembus lapisan kaca
oi, ada bau lonte.Kuku-kuku birahi
Di sini tanpa beban
sebuah benua dirobek-robek.

Singapura, Desember 1996

DARI SINI
Ketika tiba kudaku dicambuk bulu-bulu
beranda stasiun yang lugu
makin mengeras bumimu berlapis-lapis.
Pacu! Ayo! Pacukan kudaku sarat racun tumbuhan
menuju gurun perang
sampai terkencing mata uang logam.
Logikaku terus berlari…..,berlari
mendaki matahari di kaki mall yang terbakar
faktur-faktur gemerlap.
Perjalanan kilas balik sudah basi
giliran lewat siapa harus berkemas
dari atas tenda pencuri kembang-kembang gula
ataukah menggilas rakus
roda-roda aspal.
Tercatat biodata dengan air tinta merah
aku melirik
tangannya adalah ratusan mercon
siap meledak
dalam saku celana.

Johor Baharu, Malaysia, Desember 1996

KHOTBAH
Di sebuah Kaabah Tuhan
yang dibangun zaman batu
firman kebenaran dihembuskan
pada musim kering
akupun jadi terinspirasi.

Bekasi, 1997

SAJAK PERJALANAN EPISODE PERTAMA
Badai mengamuk
dari mulut sungai tak tercatat dalam kitab.
Wajahmu membatu batasi bibir laut
aku sendiri bahasa bisu,suara protes
seperti angin berlalu.
Membujuk ke kancah perang
tak bermimpi permukiman-permukiman kumuh
serangga liar yang lapar
dan orang-orang sudah ditidurkan
di sebuah negeri gaib.
Pada zaman abad terbalik
masihkah penyair berpolitik,tanya Mr.Asart.
Sesal dibanting di trotoar jalan
perkawinan retak
terbentur dinding kapal.

Singapura, Desember 1996

SUNGAI BATANGHARI DALAM PUISI
Mendayuh sampan ke muara
matahari tercemar
sepanjang sejarah pantai timur sumatera
nelayan telah kehilangan pelabuhan.
Dalam kenangan digelar jembatan terpanjang
tempat menjerat mimpi-mimpi teduh
di dasar sungai dari hulu hingga ke laut
ikan-ikan tak pandai berenang.
Situs-situs
tercecer.Menunggu janji sakti.

Jambi, 1980

TRAUMATIK
Stasiun radio kuusung dari belakang punggung
unjuk gigi hewan-hewan melata
matahari mengepulkan asap hitam
bencana berantai
tidurku meninju bulan yang berdarah.
Membuntingi pohon tunggal
perawan bertekuk lutut
perut ditikam belati
kehilangan air mani
kabar celaka
membuatku makin menarik minat
membenturkan geger otak ke dalam kulkas.
Kebaktian sudah genap
bapak menggali kuburan riuh
saudaraku menjala pertempuran
badai gurun
jasad beradat penuh
terbaring angkuh
di atas papan catur.
Berkembangbiaklah bumi yang labil
turut berenang di dalam lautan tak bertepi
ataukah menelan bunga-bunga karang
tanyaku waktu itu
mengapa dewan-dewa rajin mabuk
menjaga pintu kematian
sekian waktu dikhianati
jadi suatu dongeng
huruf-huruf lumpuh di lembaran koran
aku kecurian tanah-tanah pijak
sepuluh tahun kubangun jadi tugu hijau dihatimu
mencair.untuk penyair atau penginjil.

Bekasi, Juli 1997

PERTEMUAN II
Siapa mau bersajak.tiang-tiang beton salah dihapalkan
penyanyi beriman, itu pikiran pertama
menyergap percakapan di pintu rumah
satu abad kemudian
sepotong ginjal tak bernilai jual
potret semua perkawinan retak
setia bersetubuh dengan birahi angin.

Bekasi, 1997
.
PERTEMUAN IV
Mari kita membangun kapal besar di atas gunung batu
suatu pertemuan ribuan jam terbang
sibuk mencuri buah jarum
dari dalam perut laut
kemarin disodorkan
daging adat
sekarang kesetiaan darah anggur
harus dipikul rata.

Hujan, Hatiku Gelisah Ingin Turun ke Sawah
Sejak kemarin sudah kulakoni
rumah tangga yang hancur
menyebar firman-Mu melalui media digital
menjadi teladan bersolek di kaca di gereja.
Lalu berbicara dengan suara lantang;
anak-anak di Damaskus Suriah yang kelaparan
anggaran negara defisit Rp 290 triliun
hingga PHK massal bertabrakan dengan kendaraan di jalan.
Pagihari ini
semua jadi berubah total
kulihat air rawa
di tubuhnya ada sawah.
Perahu berlayar
dengan pose seperti seekor macan
menyesal dan harus berdiam
seperti keterasingan diri.
Pamulang, Februari 2016

HARI-HARI BURUK

Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala secara membabibuta ekor lusifer melibas mulutnya yang liar sehingga jantungku kian kusut meledakkan suatu amarah jadi berkesinambungan di belakang rumah Tuhan
.O, sungguh puisi ini mau bercerita ketiga kali umat Tuhan disakiti seperti bongkahan batu mau menimpa kepalaku tak sanggup lagi berbicara tentang nasehat Firman Tuhan.
Hari-hari buruk ialah hari-hari takkala seorang rahib berkhotbah dua atau tiga puisi berbalut darah hitam.Menyerang kembali wajahku jadi rusak.Jari-jari tanganku jadi tegang kembali.
O, mengapa rumah Tuhan berubah jadi rumah jagal hewan amat menakutkan.Otakku dikuasai roh setan, malaikat-malaikat Tuhan melembutkan hatiku, pecah lagi mengeluarkan nanah yang membusuk.
Pamulang, 2015

Taman Getsemani

Usai upacara komuni
menuju seberang tembok Kota Yerusalem
garang dan liar
ke sana kubawa rerumputan hijau
bunga-bunga surga.
Tanah malam jadi basah
airmata mencekam
bulan meleleh
ke pelupuk mata para rasul.
Angan-angan kudus Sungai Kidron
membentur pada doa-doa syafaat
keterasingan diri
jadi sebuah penderitaan yang dalam.
Ditariknya tangan Petrus, Yakobus, dan Yohanes
menuju tangga batu
langit yang baru ; membiru !
Angin jahat telah meniup dosa
meninabobokan dua belas tubuh letih
di atas batu nisan
direbahkan diri ke tanah.
“Ya, Abba, ya Bapa……
ambilah cawan dosa ini daripadaku,” seru Yesus
membuka jendela langit
terbuka bintang-bintang berkejaran
peluh-Nya menjadi titik-titik darah
mencair ke tanah.
Ini doa krisis terakhir untuk murid-murid
ini doa krisis terakhir untuk kita semua.
Cawan Kristus begitu berat
bukan kesakitan
dicambuk dan disalibkan
bukan penderitaan
mental dihina dan ditolak
ini adalah penderitaan rohani
memikul dosa dunia.
Nasib dunia ditentukan
nasib manusia diitimbang.

Bekasi, Juni 2015

Perjamuan Kudus

Hari raya roti tak beragi sudah tiba
domba paskah siap disembelih
di sebuah ruang atas
besar, tegang, dan berbatu-batu.
Matahari tertidur pulas
cuaca amat pekat
namun, hati manusia
dibakar api yang berdarah-darah.
Mata rohaniku melihat
mata rohaniku tertuju
mata rohaniku terbawa
terbuka lebar-lebar
salib….salib…..
di bukit Kalvari.
Yesus Kristus bersiap untuk membasuh
kaki-kaki bergetar
kaki-kaki gelisah
kaki-kaki lumpuh : tak bergerak !
sangat kotor oleh lumpur khianat
dari rawa-rawa dosa.
“basuh…..basuh… kakiku, kepalaku, mukaku, tanganku, rambutku,
dan telingaku,” seru para rasul dengan suara gempita.
Mereka harus rendah hati
mereka harus saling kasih mengasihi
kita semua yang ada di sini
hari ini diajarkan: kasih Tuhan Yesus Kristus !
Setelah itu kudengar
ada ucap dan berkat
ini roti tubuh Kristus
ini anggur darah Kristus
darah perjanjian
darah yang menderita
darah yang tiba-tiba mengingatkan akal dan budiku
melayang-layang menuju bukit Golgota.
aku terjatuh. bangkit. lalu bersujud
satu permintaan;
pengampunan dosa.
(tiba-tiba aku teringat kembali ada suara menjerit
Eli…..Eli….. Lama…Sabatani…
Tuhanku…Tuhanku ….mengapa Engkau meninggalkan aku).
Yesus tahu
saat-Nya sudah tiba
dari dunia kembali ke surga.
Setan tak dapat mengalahkan maut
kita semua dibangkitkan
dalam kemenangan abadi.

Jakarta-Bekasi, 2015/2016

Sajakku Berdamai Dengan Tikus

Ketegangan ini dimulai dari sini ;
kematian dini
semalam suntuk bercakap-cakap
tanpa bunyi petasan
dua puluh lima abad
birahiku meledak
tawa dan ibadah
kusalin untuk terakhir kali
dalam sebuah pesta
berakhir dengan pernikahan yang kudus.

Pamulang, Februari 2016

Sajakku Bersukacita Dalam Nyanyian Lagu Sion

Sungguh, Petra….
kusimak doamu yang mengerikan
dengan kornea mata lumpuh
kau sebut satu per satu kerinduan
masa kanak-kanak hingga pensiun dini
tak alpa sebut nama Tuhan
cerita bagaimana Injil dipeluk erat-erat.
Mulai tembok yang sempit, lingkungan kumuh
bau minuman keras, percabulan
sampai kau miliki sebuah rumah hijau
yang tak pernah kau lihat lagi
di sana telah tumbuh pohon yang telah mati haid.
Kutatap mimbar kudus rabu sembahyang
” Lihatlah, hidup makin sulit, teknologi digital
telah bersatu dengan
utangku dua ratus sembilan puluh triliun rupiah,” kataku.
Petra lalu menjawab
-bukan dalam puisi –
hanya berbisik dengan mulut yang bau sunyi membusuk.
“Tuhan mau datang…. Tuhan mau datang,”katanya sambil terus
memukul tongkatnya keras-keras
sekeras kepalanya yang ditutupi kacamata hitam.

Pamulang, Februari 2016

Masa Perjalanan

Telah jamnya tiba
pejalan kaki tak pernah merayu
kudanya mati di rawa
betapapun gunung-gunung buta
jadi sepond cinta
kehilangan makna.
Matahari berpacu dalam pot
memburu anak-anak kampung
hijrah dari tanah-tanah keramat
menggigit bukit
hingga sepi sejenak.
Selanjutnya dari sini
hanya terlihat selintas
di jantungnya yang sebelah kiri
sebuah perahu pucat berlayar di tengah lautan
tak tertulis lagi
dalam peta.

Bandung, 1981

Hatiku Berlayar Menuju Rumah Tuhan

Menembus subuh berkemeja hitam
tergesa-gesa doa ini alpa direnungkan
ingat pelabuhan laut tanpa kapal
kulahap perjalanan Nabi Musa
kutelusuri jemaat mula-mula
roh-roh yang berhembus
lewat kaca digital dan buku kehidupan.
Selesai sudah imanku dibangun
suara ombak dan angin samudera
jadilah kehendakMu Tuhan.

Pelabuhan Tanjung Priok
Februari 2016

Tanah Papua , Ketakutanku Terbungkus Lima Abad

Perjalanan ini dimulai dari sebuah bandara yang hiruk pikuk
lalu kami ‘terbang’ bak rajawali
menembus malamhari dengan perempuan-perempuan cantik tak pernah ngantuk.
Setelah bersatu dengan terbitnya matahari pagi di wilayah paling timur nusantara
mulailah cerita bertemu dengan keasingan di negeri sendiri.
Oi, selamat datang di hutanTanah Papua.
Tanahku yang menghijau dengan siraman air dingin Danau Sentani.
Pucatlah mukaku dihiasi rambut ikal sepanjang belum menyentuh Kota Jayapura.
Tiba di Lembah Baliem Wamena tanpa penghuni.; sunyi!
mari kita beribadah sehari saja
berdoa di gereja kota
tak terdengar nyanyian pujian
atau rebana ditabuh .
Maka kami pun masuk sebuah hotel
tanpa air jernih
lampu-lampu
dapat menyala di hati kami
hanya tergenang bau rawa.
Perjalanan dilanjutkan menerobos gunung dan bukit meliuk-liuk
mayat-mayat yang diawetkan.

Jayapura-Wamena
Minggu Desember 2015

Anakku ‘Hilang’ Ditelan Ombak , Kesepian Jadi Batu

Anakku yang gagah sedang menghitung pecahan matahari
terbenam di tubuh laut
Selat Sunda-tanah Banten- situs berdarah.
Seperti burung rajawali, ia sering terbang kian-kemari
sangat liar ,dan bikin kesal hati.
Lihatlah, gigi-giginya yang tumbuh membusuk
seperti karang-karang terjal di atas pasir putih Pantai Florida
yang pagi itu hatiku semakin berwarna warni.
Lalu terjadilah pendarahan dalam kesunyian sendirian di sawung kelam.
Mengapa aku tak bisa berenang? tanya kawan seiman.
Padahal anakku telah gunakan kacamata hitam
untuk memotret ikan-ikan yang bisa terbang
sampai menembus cakrawala kekelaman.
Duh, tubuh dan kulitnya berubah warna;
seperti tak kukenal lagi
dari rahim bumi mana ia menetas.
Ayo…lari….larilah…. kucing anggora anakku …..menuju karang-karang terjal
menuju ombak yang menggulung angin malam
cuaca kian membeku .
Resiko ke depan bukan milikku lagi.
Sebab hanya ada satu pilihan : ikut Tuhan, atau ikut Baal !

Pamulang, Juli 2015

Sajakku Dikepung Asap Pekat 1.060 Titik

Menghitung sembilan puluh hari
tanpa matahari pagi
lalu ditambah tiga kali dua puluh empat jam
jadilah bola mataku (memerah)
berwarna mata srigala hutan
paru-paruku kembali dibakar
di tubuh Sungai Musi
yang telah menghilang dari garis peta buta.
Lalu dari badan Jembatan Ampera
tanpa kapal kayu-tanpa nelayan -kembali kubangun mimpi-mimpi luruh ini.
Mengapa zaman pra sejarah nenek moyang Pulau Sumatera
belum ciptakan api
asap yang berangkat dari sebuah titik panas.
Lihatlah hutanku yang kembali dibakar sangat mencengangkan.
Benar kata Pujangga melayu: bangsa ini harus bertobat sungguh-sungguh!
Bukan andalkan teknologi bom air
yang sewaktu-waktu dapat meledakkan kota ini
jadi sebuah daratan gambut
tak berpenghuni.
Palembang,,Rabu 21 Oktober 2015

Kuterbangkan Sajakku Lima Puluh Meter

Dengan hati cemas
penghuni kota mulai berlari-lari
mengejar api dan bau asap menyengat
timbul dari masing-masing ketiak
– angin jahat berhembus- menembus kaca jendela rumah .
Semua mulut butuh masker
menghindari binatang liar
membawa racun tumbuhan ke atas ranjang.

Kota Palembang Rabu 21 Oktober 2015

Mendaki Bukit Tuban

diselimuti hujan
tubuhnya yang letih
berkejaran waktu
dengan derasnya
aliran sungai dari bukit sebrang.
Lalu kami bersekutu
ladang-ladang batu
bersolek sejak dinihari
tanpa menghadap matahari.
Desaku tak lagi muntahkan
doa pagi
bagi hari perhentian yang dilipat-lipat.
Di hamparan panen raya jagung ini
petani tak pandai bernyanyi lagi
karena harga kiloan dibanting
para importir berwajah bening.
Diceritakan kesulitan;
pupuk kandang tujuh bulan
dan anak-anak yang rindu berenang
supaya bapaknya tak hanya dikenang.
Lalu dilukiskan sebuah tanah embung
musim kemarau sampai musim hujan.
Segera disebar
semangat menanam
dalam puisiku
ada areal persawahan
ada pula ruang batin,
namun,aku tak mau mati miskin.
Tuban, Jawa Timur,Maret 2016
Kota Surabaya di Sini Puisiku Bernyanyi
Kota Surabaya di sini puisiku bernyanyi
tentang masa kanak-kanak
tak sempat bernafas panjang
memotret akte kelahiran
seperti mengunyah permen kehidupan
sunyiku lalu lalang
lalu terbentur di padang ilalang.
Sebuah rumah sakit
tanpa ada penyakit.
Di kota pahlawan ini
perangku berkecamuk
karena mereka telah mengamuk
berulang-ulang birahi makin gemuk.
Mereka saling bertengkar di atas papan catur
disembunyikan di kuburan.

Surabaya 4 Maret 2016

Puisiku Berenang Dalam Lumpur Sawah

Inilah peta perjalanan
bersetubuh dengan hijauan sawah
mencangkul di atas sepi yang basah
petani ternyata masih merintih
berhari-hari harga gabah
terluka parah
celanaku berdarah
disuntik mata uang rupiah.
Kemiskinan ini jadi sebuah sungai
yang mengalir deras
diantara mesin panen raya
terselip senyum Mbok Minah
perlahan hilang
diterjang hujan .

Mojokerto Kamis 3 Maret 2016

Mandi di Ketiak Sawah

Mandi di ketiak sawah
seperti kita memburu waktu
seekor ikan gabus tak lincah
berenang dalam lumpur rahimmu.
Lama engkau tanam benih padi
dalam perutku yang kian tua
namun tetap berbuah.
Seperti karungan beras dan gabah itu
bukan lagi milik petani miskin
atau penyanyi dangdut yang bergoyang
tiap pagi di pintu masuk desa.

Lamongan,Jawa Timur,13 Maret 2016

Hujan, Hatiku Gelisah Ingin Terjun ke Sawah
Sejak kemarin sudah kulakoni
-rumah tangga yang hancur-
menyebar firman-Mu melalui media digital
menjadi teladan bersolek di kaca di gereja
dan berbicara dengan suara lantang;
anak-anak di Damaskus Suriah yang kelaparan
anggaran negara defisit Rp 290 triliun
hingga PHK massal bertabrakan dengan kendaraan di jalan.
pagihari ini
semua jadi berubah total
kulihat air rawa
di tubuhnya ada sawah.
perahu berlayar
dengan pose seperti seekor macan
menyesal dan harus berdiam
seperti keterasingan diri.

Pamulang, Minggu, 28 Februari 2016


Biodata :

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di
Sekolah Tinggi Publisistik (STP-Jakarta).Belajar sastra secara otodidak.Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas.
Kemudian sajak-sajaknya disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, SKM.Simponi, SKM.Dialog, Majalah Mahkota, dan Seputar Indonesia (Sindo).
Buku kumpulan sajaknya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), dan Taman Getsemani (2016/segera terbit).  Namanya juga telah masuk dalam Buku Leksikon Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste/Kompas/Gramedia).Pernah bekerja sebagai wartawan Sinar Pagi, Mandala (Bandung), Redaktur Pelaksana wartawan SK.Dialog (1998-2013), dan saat ini sebagai Pemimpin Redaksi beritarayaonline.co.id/beritarayaonline.com(23 Maret 2013-sampai sekarang),Pemimpin Redaksi eMaririm.com (2013-2015) dan Pemimpin Redaksi BeritaRaya TV (2019-sampai sekarang)

Minggu, 09 Juni 2019

Indikator Ekonomi Catat Keberhasilan Pembangunan Pertanian Indonesia

Jakarta,BeritaRayaOnline,- Pembangunan infrastruktur, utamanya jalan yang telah menurunkan angka kecelakaan di musim mudik lebaran 2019, bukan satu-satunya prestasi pemerintah. Pemerintahan Jokowi-JK juga terus memberikan catatan positif dalam memperbaiki taraf ekonomi penduduk tanah air melalui program dan kebijakan pembangunan pertanian.

Dalam empat tahun terakhir (2014-2018) kesejahteraan penduduk perdesaan yang mayoritas adalah petani, terlihat semakin membaik kondisinya. Demikian disampaikan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ketut Kariyasa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/6).

Kariyasa menyertakan beberapa indikator yang representatif untuk menunjukkan kondisi tersebut. Seperti meningkatnya daya beli atau kesejahteraan masyarakat, menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat, stabilnya atau inflasi bahan makanan/pangan, dan menurunnya jumlah penduduk miskin.


“Membaiknya daya beli atau kesejahteraan petani terlihat dari membaiknya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dalam empat tahun terakhir,” ujar Kariyasa.

Ia melanjutkan, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun dasar 2012 sebesar 100, selama periode 2014-2018, NTP terus meningkat dari 102,03 (2014) meningkat menjadi 102,46 (2018). Demikian halnya dengan NTUP, juga terus meningkat dan bahkan menunjukkan peningkatan yang lebih baik dari NTP. Pada 2014 besarnya NTUP adalah 106,05 dan tahun 2018 meningkat menjadi 111,83.

“Membaiknya daya beli masyarakat, ternyata juga diikuti oleh semakin meratanya atau menurunnya ketimpangan pendapatan masyarakat. Hal ini ditandai oleh menurunnya Gini Ratio. Pada Maret 2013, secara nasional Gini ratio masih 0,424 dan pada Maret 2018 turun menjadi 0,389,” urainya.

Kemudian pada September 2018 pemerataan pendapatan kembali membaik yang ditandai oleh menurunnya Gini Ratio menjadi 0,384. Sejalan pada tingkat nasional, ketimpangan pendapatan masyarakat di perkotaan dan perdesaan juga menurun.

“Yang cukup membanggakan bahwa pemerataan pendapatan masyarakat perdesaan lebih baik dibandingkan di perkotaan, yang ditandai Gini Ratio di perdesaaan selalu lebih rendah dari perkotaan,” terang Kariyasa.

Pada Maret 2013, Gini Ratio di perkotaan 0,431 dan di perdesaan 0,320 dan pada Maret 2018 turun masing-masing menjadi 0,401 di perkotaan dan 0,324 di perdesaan. Pada September 2018, kembali turun masing-masing menjadi 0,391 di perkotaan dan 0,319 di perdesaan.

Pertanian Menjaga Angka Inflasi

Kariya menjelaskan selain memperbaiki daya beli dan ketimpangan pendapatan masyarakat, menurut Kariyasa keberhasilan pemerintah dalam memacu produksi dalam negeri juga berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat. Hal ini tercermin dalam empat tahun terakhir inflasi bahan makanan/pangan menurun secara konsisten. Pada tahun 2013, inflasi bahan makanan/pangan masih sangat tinggi, 11,35% dan pada tahun 2014 turun menjadi 10,57% Pada tahun 2015 dan 2016 , inflasi bahan makanan/pangan mulai mengalami penurunan yang sangat drastis, yaitu masing-masing menjadi 4,93% dan 5,69%.

“Bahkan pada tahun 2017 inflasi bahan makanan/pangan turun sampai tingkat 1,26% dan merupakan inflasi bahan makanan/pangan yang terendah yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia,” jelasnya.

Menurutnya, dampak dari membaiknya ketiga indikator di atas (membaiknya daya beli, menurunnya ketimpangan pendapatan, dan stabilnya harga pangan) menyebabkan jumlah penduduk miskin di Indonesia terus menurun.

Pada Maret 2018, tercatat secara nasional jumlah penduduk miskin turun dan menembus angka satu digit (9,82%), dan pada September 2018 kembali turun menjadi 9,66%. Demikian halnya dengan jumlah penduduk miskin di perdesaan, pada Maret 2013 masih tercatat 14,32%, dan Maret 2018 turun menjadi 13,20% dan pada September 2018 kembali turun menjadi 13,10%.

Jumlah penduduk miskin di perkotaan juga terus menurun, dari 8,39% pada Maret 2013, menjadi 7,02% Maret 2018 dan tinggal 6,89% pada September 2018.

“Membaiknya indikator-indikator ekonomi utama di atas menunjukkan bahwa program dan kebijakan terobosan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian selama ini sudah tepat karena terbukti mampu memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat perdesaan secara nyata, tidak hanya sebatas peningkatan produksi,” tandas Kariyasa.(***)

Editor : Lasman Simanjuntak

Atasi Hama Uret pada Budidaya Nanas Secara Alami

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Nanas merupakan banyak dibudidayakan di Indonesia dan kaya nutrisi seperti Vitamin C, Asam Folat, Manganese dan senyawa Bromelain. Buah ini disukai oleh masyarakat karena rasanya asam manis. Terkadang nanas dikonsumsi segar sebagai hidangan pembuka baik di restoran maupun hotel.

Dalam upaya peningkatan produktivitas baik  kuantitas maupun kualitas, perlu diperhatikan faktor-faktor penentu budidaya tanaman seperti, benih, pengolahan tanah, pemupukan dan perawatan terutama pengelolaan terhadap hama dan penyakit tanaman.

Uret atau Lepidiota stigma merupakan salah satu hama yang sering menimbulkan kerugian  bagi petani nanas di Kediri.  Hama ini menyebabkan tanaman nanas yang sehat tiba-tiba layu dan mati karena akar utamanya dirusak.

"Kerusakan terberat dapat disebabkan oleh larva instar ke 3. Hama uret ini juga mempunyai kisaran inang yang sangat luas yaitu salak, pisang, labu, semangka, cabai, kacang, jagung, karet, kelapa, kopi, tebu dan tanaman lainnya," ujar Fungsional POPT Hortikultura, Arif Akbar.

Arif menjabarkan, serangga dewasa dalam bentuk kumbang, meletakkan telurnya di tanah yang ditutupi serasah-serasah dan  atau diletakkan di dalam tanah.  Stadium pertumbuhan uret terdiri dari tiga, yaitu stadia telur, larva dan dewasa (imago).

Stadia yang berperan menjadi hama yaitu stadia larva (instar 3 paling merusak), stadia larva umumnya berada di tanah atau sekitar tanah, sedangkan pada stadia dewasa (imago) kumbang yang dapat terbang jauh serta tertarik dengan cahaya.

Uret menyerang tanaman dengan cara memotong dan memakan perakaran sehingga tanaman menjadi merana, mudah dicabut dan dalam serangan berat bahkan menyebabkan tanaman mati.

"Dalam pengelolaan hama tersebut, maka harus dilakukan secara terpadu mengikuti konsep pengendalian hama terpadu (PHT). Pengendalian ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa cara pengendalian diantaranya  pengendalian mekanis, kultur teknis, biologis atau dengan kimia," jelas Arif.

Pengendalian uret dapat dilakukan dengan cara: a) Pengendalian mekanis dengan menggumpulkan dan memusnahkan telur dan larva uret. Pemusnahan dilakukan dengan mengumpulkan/membuntit uret menggunakan kantong plastik atau di berikan kepada hewan peliharaan seperti burung dan ikan; b) Pengendalian biologis dengan menggunakan jamur entomopatogen Metarhizium sp.  Jamur ini dapat diaplikasikan langsung di lahan dan akan menginfeksi uret. c) Penggunaan perangkap lampu dilakukan untuk memerangkap  serangga dewasa (kumbang). Cara ini dapat di kombinasikan dengan memasang baskom berisi air atau jaring di bawah lampu sehingga kumbang terperangkap.

Cara pengendalian paling ideal adalah mengkombinasikan cara-cara pengendalian tersebut. Semoga dengan semakin baiknya harga jual nanas yang diperoleh petani akan memotivasi petani untuk lebih memperhatikan dan merawat tanamannya secara intensif.

"Guna mendatangkan keuntungan optimal serta menghindarkan kerugian akibat serangan hama dan penyakit petani perlu mengetahui cara-cara pengendalian hama terutama Uret. Untuk mendapatkan produk yang aman konsumsi maka pengendalian OPT dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan," ujar Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf.

Yanti menambahkan bahwa walaupun nanas bukan komoditas utama nasional akan tetapi pemerintah  tetap memperhatikan. Buah ini berpotensi ekspor serta mampu menggerakkan perekonomian petani, khususnya di kabupaten-kabupaten sentra pengembangan nanas.(***)

Editor : Lasman Simanjuntak

Senin, 27 Mei 2019

PBHMI Dukung Program Revolusioner Mentan Amran Ciptakan Petani Milenial


Jakarta,BeritaRayaOnline,-Gebrakan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran dalam mempercepat pencapaian swasembada pangan dan menjadikan sektor pertanian sebagai garda terdepan pertumbuhan ekonomi nasional melalui keterlibatan petani milenial mendapat dukungan dari Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI). Pasalnya, memajukan sektor pertanian Indonesia yang berdaulat dan menjadikan Indonesia sebaga lumbung pangan dunia sesuatu yang mustahil jika tidak membangkitkan minat atau pasion generasi muda untuk menjadi petani.

“Pada tahun ini Menteri Pertanian bertekad menciptakan 1 juta petani milenial. Para petani tersebut diharapkan mampu produksi komoditas pertanian yang berorientasi tidak hanya mencukupi kebutuhan dalam negeri tapi harus kuasai pasar ekspor. Ini bagi kami jalan baru kebangkitan sektor pertanian, karena petani milenial tidak hanya bertani tapi juga sekaligus menjadi pelaku usaha muda,” demikian dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kemaritiman dan Agraria, Pri Menix Dey pada acara buka puasa bersama Mentan Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (27/5/2019).

Pria jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menilai program menciptakan petani milenial dapat secepatnya terwujud. sebab, Kementan sendiri selama pemerintahan Jokowi-JK telah membangun modernisasi pertanian dan menerapkan pertanian yang berbasis teknologi yang sangat maju. Misalnya, baru di pemerintahan sekarang, petani di pedesaan hingga perbatasan sudah menggunakan alat mesin pertanian mulai dari pra tanam, panen, hingga penanganan pasca panen yang sama dengan negara maju.

“Kita bisa lihat, Menteri Pertanian telah mulai membangun digitalisasi pertanian, traktor saja tidak hanya empat roda, tetapi juga sudah ada traktor yang cukup dikendalikan dengan remot kontrol. Begitu mesin panen jagung dan jagung sudah sangat maju sehingga inilah yang menjadi turbo penggerak generasi muda dengan mudahnya memilih jalan menjadi petani sukses,” terang Pri Menix.

Oleh karena itu, Pri Menix berharap agar program petani milenial secepatnya terwujud, maka perlu mendorong masing-masing daerah memiliki gerakan pengusaha muda pertanian berbasis teknologi pertanian 4.0. Hal ini sejalan dengan gagasan ekonomi ummat sebagai poros baru kebangkitan ekonomi Indonesia guna mengurai secara nyata kemiskinan yang didominasi masyarakat di level pedesaan.

“Nah untuk memulai mewujudkan gerakan ini, perlu sinergitas PBHMI dengan Kementan untuk membuat preneur camp pengusaha muda pertanian. Dengan kegiatan ini, tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tapi juga mendorong petani muda bisa menciptakan nilai tambah dari suatu komoditas pertanian,” tuturnya.

“Inilah jawaban dari apa yang disampakan Pak Presiden Jokowi bahwa untuk meningkatkan nilai devisa, harus dipacu kegiatan ekspor. Komoditas pertanian memiliki banyak komoditas bernilai ekonomis tinggi untuk diekspor,” pinta Pri Menix.

Sementara itu, Mentan Amran dalam sambutannya menyebutkan capaian pembangunan pembangunan selama 4,5 tahun pemerintahan Jokowi-JK, di antaranya berhasil menekan inflasi bahan pangan dari 10,57 persen di pada 2014 menjadi 1,26 persen di 2017. Dari capaian ini, ada banyak negara yang dilampaui Indonesia, yaitu Jepang, Belanda, Kanada, Jerman, dan total ada 12 negara yang kita lampaui, sebentar lagi Amerika Serikat kita lampaui.

“Capaian berikutnya di bawah pemerintahan Jokowi-JK, sambung Amran, ekspor komoditas pertanian hingga saat ini melonjak 26 persen, nilainya Rp1.700 triliun. Begitu PDB sektor pertanian naik 47 persen, total akumulasi nilainya Rp1.375 triliun atau separuh dari APBN,” sebutnya.

"Itu baru kenaikan saja, tapi Indonesia juga meraih peringkat ke-5 dunia PDB sektor pertanian. Ini hasil kerja penyuluh penyuluh di seluruh Indonesia," pintanya.

Oleh karena itu, Amran bertekad agar yang bergerak di sektor pertanian saat ini hingga ke depannya agar tidak lagi diisi hanya dari kalangan petani yang tua, tetapi harus digerakkan petani milenial.

“Inilah yang disebut regenerasi petani yang sekaligus menjadi pelaku usaha di sektor pertanian. Generasi muda tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga memiliki terobosan yang kekinian menciptakan inovasi dari hulu hingga hilir, intinya komoditas pertanian selalu memiliki nilai tambah. Alhasil, komoditas pangan bernilai ekspor,” tandasnya.(*/Rilis Kementan)

Editor : Lasman Simanjuntak

Senin, 20 Mei 2019

Revitalisasi Sekolah, Pasar, dan Sarana Olahraga Butuh Dana Rp 7 Triliun

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Untuk merevitalisasi pembangunan sekolah, pasar, dan sarana olah raga sepanjang tahun 2019, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Perumahan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membutuhkan alokasi anggaran kurang lebih sebesar Rp 7 triliun yang nantinya akan diperoleh dari sumber Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
" Revitalisasi pembangunan ketiga sarana tersebut  nantinya akan difasilitasi melalui Pusat Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga, dan Pasar, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR," jelas Kepala Pusat Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga, dan Pasar, Kementerian PUPR, Iwan Suprijanto, dalam acara Orientasi Jurnalis Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang berlangsung di Hotel Park Regis Arion, Kemang, Jakarta Selatan, Senin sore (20/5/2019).
Dijelaskannya, untuk sektor pendidikan, pihaknya akan membangun 2.000 sekolah, sedangkan sebanyak 200 lebih akan difokuskan untuk penanganan madrasah, 41 PTN, 9 PTKIN, serta 9 pasar.Sekolah dan madrasah ditargetkan Desember 2019, sementara tahun berikutnya secara single year, tetapi bertahap penangannya sesuai dengan alokasi anggaran dan pelaksanaannya.
"Di samping itu, ada pula penanganan fasilitas pasca bencana gempa di Sulawesi Selatan yakni sebanyak 473 sekolah atau madrasah dan 4 pasar. Untuk fasilitas penanganan pembangunan di sektor olahraga yakni akan dilakukan untuk vanue Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 di Papua, yang akan difoksukan pada fasilitas Istora, Aquatic, Hockey, dan Cricket.
 
"Sementara lahraga tahun 2020 kita selesaikan dukungan vanue untuk penyelenggaraan PON Papua, bulan Juli insya Allah karena akan digunakan bulan September, jadi akan kita selesaikan pada bulan Juli 2020 paling lambat," pungkas Iwan Suprijanto. (**/Bro-3)

Rabu, 01 Mei 2019

32 Jenis Sayuran Organik Semarang Diekspor ke Singapura

Semarang, BeritaRayaOnline,-Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Getasan memiliki sumberdaya pertanian yang luar biasa dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani bahkan pendapatan untuk negara. Pasalnya, petani daerah ini dengan lahan seadanya mampu membudidayakan 32 jenis sayuran organik yang dipasarkan ke supermarket dan pasar ekspor.

"Getasan merupakan daerah sayuran dan sudah diolah menjadi sayuran organik, kelasnya supermarket dan ekspor. Harganya bisa lebih tinggi masuk pasar modern dan ekspor, kuncinya ada pada pengemasan dan prinsip-prinsip yang diterapkan kepada petani," demikian dikatakan Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi saat meninjau usaha budidaya sayuran organik di Getasan, Semarang, Rabu (1/5/2019).

Budidaya sayuran organik di Getasan ini merupakan binaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam pengembangan budidaya sayuran agar diterima pasar modern hingga ekspor, yakni menerapkan 9 prinsip petani yang baik, di antaranya jujur, disiplin dan sebagainya,

"Pendapatan per kepala keluarga petani sebesar Rp 2 juta per bulan dengan luas lahan 1.000 meter. Intinya, semua petani sayuran organik di daerah Getasan ini sejahtera," beber Suwandi.

Ketua Koordinator Nasional Program Pertanian PBNU, Witjaksono, sekaligus selaku pembinaa sayuran organik di Getasan menerangkan pengembangan budidaya sayuran organik di Getasan hingga saat ini masih dengan bentuk kelompok-kelompok. Namun demikian, ke depan akan membentuk koperasi tani.

"Pola pengembangan yang kami lakukan ini tentunya mengacu pada model kelembagaan tani berbasis ekonomi ummat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pedesaan. Masyarakat dengan lahan seadanya, bisa berpenghasilan besar. Ya di atas gaji UMR," terangnya.

Zaenal, salah seorang petani sekaligus pengekspor sayuran organik Getasan mengatakan sebanyak 32 jenis sayuran organik yang dihasilkan petani dikemas dan dipasarkan langsung dari Getasan. Margin yang diperoleh petani cukup tinggi sehingga pendapatannya yang diperoleh jauh lebih tinggi.

"Seperti harga wortel dalam kemasan bungkusan Rp 7.500 per bungkus. Biaya produksinya hanya Rp 2.500, sehingga keuntungan mencapai Rp 5.000. Wortel rasanya manis," sebutnya.

Kemudian ada juga pitrut yang harganya Rp 10.000 per bungkus. Timun harganya Rp 7.500 per bungkus, biaya produksinya Rp 3.000. Sayuran organik lainya yang diproduksi seperti piter seley harganya Rp 17.500 per bungkus, sweet potato, daun labu, agas, rusmeri, daun ubi, dan berbagai jenis sayuran lainnya.

"Semuanya masuk supermarket dan sore hari ini diekspor ke Singapura," pungkas Zaenal.(*/Rilis Kementan)

Editor : Lasman Simanjuntak

Pasokan Mencukupi, Harga Komoditas Hortikultura Terpantau Stabil Hingga Lebaran

Jakarta, BeritaRayaOnline,-Menjelang Ramadhan, harga-harga sejumlah komoditas bahan pokok terpantau normal, tak terkecuali untuk komoditas hortikultura. Hal itu sebagaimana hasil pemantauan yang dilakukan tim Direktorat Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (1/5/2019).

Dari hasil penelusuran kepada sejumlah pedagang, harga cabai, bawang merah dan bawang putih terpantau stabil alias tak mengalami penurunan maupun kenaikan signifikan. Pasokan yang masuk ke pasar Induk Kramat Jati sebanyak 48 ton untuk cabai merah keriting dengan harga Rp 17.000 per kg, 12 ton untuk cabai merah besar (TW) dengan harga Rp 28.000 per kg, 63 ton untuk cabai rawit merah dengan harga Rp 20.000 per kg, 23 ton untuk cabai rawit hijau dengan harga Rp 13.000 per kg, dan 94 ton bawang merah dengan harga Rp 20.000 per kg.

“Kalau untuk cabai rawit kita dapat dari daerah Rembang dan Muntilan, karena daerah tersebut sedang panen serentak sehingga dapat dikatakan pasokan untuk menghadapi puasa dan lebaran aman,” ujar Jiman salah satu pedagang besar cabai rawit.

Secara umum, harga aneka cabai stabil dan cenderung rendah dikarenakan panen yang serentak didaerah Jawa Tengah. Harga cabai rawit merah berkisar Rp18.000 hingga Rp 20.000 per kg, cabai rawit hijau Rp 13.000 hingga Rp15.000 per kg, cabai merah keriting Rp. 15.000 hingga Rp 17.000 per kg, dan cabai merah besar Rp28.000 per kg.

Pun dengan bawang merah, harga cenderung stabil. Faktanya, salah seorang pedagang besar di sana, Aldo Simbolon mengatakan bahwa untuk kualitas super harganya sekitar Rp 22.000 per kilogram. Sementara kualitas sedang Rp15.000 per kg dan bawang giling Rp5.000 per kg.

Aldo menambahkan bahwa saat ini sedang terjadi panen bawang merah di daerah seperti Brebes, Demak, Purwodadi, dan Nganjuk. Maka dari kebutuhan untuk Ramadan hingga Lebaran nanti dipastikan aman.

“Hari ini bawang merah masuk 94 ton, naik 21 ton dari hari kemarin dan akan naik terus hingga bulan Agustus karena pada bulan Juni–Agustus bawang merah sedang bagus-bagusnya,” tuturnya.

Instruksi Mentan

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi menegaskan sesuai arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk menjaga pasokan dan stabilisasi harga. Terutama dua komoditas hortikultura yakni cabai dan bawang merah.

Suwandi menjelaskan hal ini bertepatan dengan panen raya bawang merah dan cabai yang terjadi di sentra-sentra besar bertepatan pada bulan Mei-Juni 2019. Dengan demikian, inilah yang menjadi faktor utama penyebab kepastian pasokan dan harga kedua komoditas tersebut.

"Buktinya, saat ini petani di Semarang lagi panen cabai besar 500 hektar dan cabai rawit 375 hektar pada bulan Mei ini. Demikian juga Juni masih panen yang sama sehingga siap dan cukup untuk memasok Jakarta," kata Suwandi yang sedang berada di Desa Samirono Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang guna memantau panen dan pasokan cabai, Rabu (1/5).

Suwandi menyebutkan dari hasil pantauan langsung di lapangan, harga cabai rawit di petani Rp15.000 per kg dan cabai keriting Rp 10.500 per kg. Artinya ada disparitas harga di petani dengan di pasar induk jakarta sekitar 30 persen.

"Terkait bawang putih, Kementan bersama dengan Kemendag kompak memastikan pasokan akan segera normal seiring dengan mulai diterbitkannya Surat Persetujuan Impor kepada beberapa importir," jelas dia.

Lebih lanjut Suwandi menuturkan pasokan bawang merah saat ini sudah kembali normal. Lihat saja, harga di pasar induk sudah dibawah Rp 20 ribu per kilo dan sentra-sentra besar seperti Brebes, Nganjuk, Demak, Grobogan hingga Bima saat ini sudah memasuki panen.

"Pasokan dan harga di Pasar Induk juga terpantau normal. Trend pasokan dan harga stabil ini akan terus berlanjut sampai lebaran nanti," tuturnya.

Hal senada disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Kementan, Yasid Taufik. Yasid memaparkan bahwa untuk suplai bawang merah, cabai serta bawang putih dipastikan aman. Pasalnya produksi bawang merah dan cabai sangat memadai.

"Bulan Mei mulai panen raya, sementara bawang putih yang 97% impor mulai minggu pertama Bulan Mei ini bawang putih impor sudah mulai masuk," kata dia.

"Untuk mengamankan suplai 3 bulan kedepan akan masuk bawang putih sebanyak 115 ribu ton,” pungkasnya.(***)

Editor : Lasman Simanjuntak