Senin, 29 Desember 2025

Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh : Baca Puisi, Halimah Munawir Getarkan PKJ TIM

JAKARTA- Tampilan Penyair Halimah Munawir sebagai pembaca puisi dalam acara "Malam Doa dan Kemanusiaan untuk Aceh" di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sangat memukau pengunjung.

Dalam acara yang digelar  Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) yang berkolaborasi dengan Desember Kopi Gayo,  Dewan Kesenian Jakarta (DKJ),  serta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Jumat (26/12/2025), Halimah Munawir  yang membacakan puisi bertajuk "Diam Sangat Menyakitkan" itu, seakan menjadi sosok utama yang menghidupkan suasana acara.

Dari kalimat ke kalimat yang diungkap Halimah  begitu menyentuh perasaan pengunjung, sehingga orang-orang yang hadir dibuat diam dan merasa simpatik.

Di tengah krisis ekologis yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, puisi yang dibacakan penyair Halimah Munawir begitu pas dan  tepat, sehingga momen amal yang digelar benar-benar menyentuh suasana.

Kegiatan itu menjadi ruang refleksi kolektif atas bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh 2025, sehingga menyisakan luka sosial, ekologi, dan kemanusiaan.

Sangat Tepat 

Ketika diwawancarai, sebagai penyair dan kririk sastra Indonesia, Dr Drs Tarech Rasyid MSi,  menyatakan bahwa  puisi merupakan kritik terbuka atas tarjadinya kejahatan ekologis. 

"Sebagai ruang sastra yang tajam dan langsung menyaksikan kejahatan dan kebusukan ekologis, puisi mampu berbicara banyak tentang kebusukan orang-orang yang terlibat dalam kejahatan ekologis tersebut," ujar Tarech.

Karena itu, lanjutTarech, Penyair Perempuan Indonesia Halimah Munawir sangat tepat memprediksi persoalan itu ketika ia membaca puisi dalam kegiatan tersebut.

Saat itu, Halimah Munawir menyampaikan puisinya dengan intonasi tenang, namun menghantam kesadaran.

Tak sekadar meratap, namun penyair mampu menggugat kejahatan ekologis tersebut. 

"Ini yang disebut sebagai kaidah ungkapan esensi sastra secara mendasar, sehingga ketika Halimah Munawir membacakan puisinya ia tak hanya sekedar meratap tapi dalam ratapan itu ia mengungkap kemarahan dan menggugat secara sosial," ungkap mantan rektor Universitas Palembang tersebut.

Dalam bacaannya Halimah mengungkap kegelisahannya tentang pembabatan hutan yang sewenang-wenang. 

Secara estetika, penyair wanita ini mampu mengungkap eksploitasi sumber daya alam dan keserakahan ekonomi yang menjadi penyebab struktural bencana di Aceh. 

"Dengan menggunakan konsep metafora Halimah berani mengeritik tajam terhadap sistem pemerintah yang seolah membiarkan alam dirusak pihak yertentu," tegas Tarech yang kebetulan menyaksikan acara tersebut. 

Sementara itu, penyair Halimah Munawir sendiri menyatakan puisi merupakan media edukatif yang mampu menjangkau kesadaran publik lebih mendalam dibanding laporan teknokratis.

"Jadi, puisi yang saya baca bertajuk 'Diam Sangat Menyakitkan' ini tak hanya sekadar karya sastra, tetapi merupakan bentuk karya sastra yang merupakan dokumen perlawanan moral terhadap kejahatan ekologis," ucapnya usai membacakan puisinya.

Penyair, Sastrawan Halimah Munawir lahir di Cirebon pada 18 Januari 1964. Ia gemar menulis sejak SMA hingga kini.

 "Saya aktif di berbagai komunitas sastra dan budaya nasional," ucapnya.

Halimah juga menulis beberapa novel penting antara lain, The Sinden, Sucinya Cinta Sungai Gangga, Kidung Volendam, PADMI, hingga Bayi Merapi. 

Sebagai Penyair dan Sastrawan, Halimah Munawir sangat dikenal konsisten mengangkat isu kemanusiaan, spiritual, dan keadilan sosial. 

Demikian kutipan yang diperoleh dari laporan liputan oleh Penyair Anto Narasoma (Palembang), dan telah disampaikan di sebuah komunitas WA Group Sastra, Minggu, 28 Desember 2025.(**/Lasman )

Rabu, 24 Desember 2025

Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF) ke-4 akan Diselenggarakan 3-7 Juni 2026 di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat

PADANG- SatuPena Sumatera Barat dan Yayasan Sumbar Talenta Indonesia (YSTI) akan menyelenggarakan Festival Literasi Internasional Minangkabau  ke-4 (IMLF) pada  3-7 Juni 2026, di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat untuk merayakan 1 (satu,)  abad Jam Gadang.

Demikian dikatakan oleh Sastri Bakry, Presiden Komite IMLF di Kota Padang, Kamis (25/12/2025).

Menurutnya, membangun kesuksesan festival sebelumnya yang  diikuti peserta dari 12 negara pada tahun 2023, 17 negara pada tahun 2024, dan 24 negara di tahun 2025.

"Kami senang melanjutkan tradisi mempromosikan literasi dan pertukaran budaya," ucapnya.

Festival ini akan mempertemukan penulis, pemikir, sastrawan, peneliti, seniman, aktivis, artis dan mahasiswa dari seluruh dunia.

" Untuk bisa  berbagi dan membahas tren terbaru dan perkembangan literasi , ekonomi kreatif, sastra dan budaya," katanya lagi.

Tema festival ini adalah 100 tahun Jam Gadang  "Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kekayaan, Perdamaian, dan Pembelajaran Keberlanjutan".

Acara ini akan menampilkan pidato kunci, diskusi panel, dan kesempatan jaringan, serta berbagai kegiatan seperti seminar, pertunjukan seni, pembacaan puisi, diskusi ekonomi budaya, pameran, dan peluncuran buku.

" Kami mengharapkan lebih  200 peserta  dari 30 negara, menjadikannya kesempatan yang sangat baik bagi anda untuk bisa tampil dan terhubung dengan orang hebat dunia lain di bidang anda," pungkasnya 

Untuk mengkonfirmasi kehadiran, silakan RSVP sebelum akhir Januari 2026 melalui formulir Google. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat lampiran atau hubungi Soni Drestiana di +62 857 1783 7310.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 22 Desember 2025

Hari Ibu dan Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen Kepak Sayap "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" : Melalui Karya Sastra, Suara Anak Indonesia Dihadirkan Sebagai Subyek Layak yang Didengar, Dihormati dan Dilindungi

JAKARTA- Melalui karya sastra,  suara anak Indonesia dihadirkan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai subjek yang layak didengar, dihormati, dan dilindungi.

Demikian dikatakan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronika Tan ketika memberikan kata sambutan yang dibacakan oleh Dra.Eko Novi Aryanti Rahayu Damayanti, Msi, Asisten Deputy Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II.

Pada peluncuran dan diskusi antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda " Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) -dengan moderator Rissa Churria - di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Lantai IV, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025) sekaligus memperingati Hari Ibu 2025.

"Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada Selasa 22 Desember 2025 ini, kehadiran buku  
antologi puisi dan cerpen ini akan menjadi pengingat bahwa pengasuhan, kasih sayang, dan perlindungan adalah pondasi utama bagi tumbuh kembang anak," katanya.

Menurutnya, karya dalam buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah " setebal 542 halaman ini adalah sebuah karya yang lahir dari kepedulian, keberanian, dan cinta terhadap.dunia anak Indonesia. 

"Karya dalam buku ini memotret dunia anak dengan bahasa yang jujur, dan menyentuh tentang harapan, luka,  keberanian, dan tentang mimpi yang terus tumbuh meskipun dalam keterbatasan," ucapnya.

Dikatakannya lagi, keluarga tidak dapat menjalankan peran pengasuhan sendiri.Pengasuhan yang kuat di rumah perlu ditopang oleh komunitas yang peduli.Kerika anak melangkah keluar dari rumah, ia berhadapan dengan sekolah, teman sebaya, ruang publik dan dunia digital.

"Disinilah peran komunitas menjadi sangat penting sebagai perpanjangan tangan pengasuhan keluarga.Taman Insoirasi sastra Indonesia merupakan contoh nyata bagaimana komunitas dapat menjadi ruang aman dan ruang tumbuh bagi anak, cerita-cerita yang diangkat dapat menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia," kilahnya.

Wakil Menteri Veronica Tan di ujung kata sambutannya sekali lagi mengatakan melalui sastra dan ruang ekspresi, anak-anak diberikan kesempatan untuk menyuarakan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup secara aman dan bermartabat.

"Sastra menjadi jembatan empati, memperkuat koneksi antar manusia, sekaligus menumbuhkan keberanian anak untuk mengenal dan menyampaikan dirinya," pungkasnya.

Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) Octavianus Masheka-yang membuka acara sastra tersebut- menyatakan rasa terima kasihnya kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku ini.

"Ini adalah suatu bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra.Sesungguhnya saya juga ikut prihatin kondisi anak-anak di Indonesia yang masih mengalami kekerasan pada anak.Semoga buku antologi puisi dan cerpen ini dapat bermanfaat," katanya.

Denyut Nadi Kemanusiaan 

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Kadispusip) Provinsi DKI Jakarra Nasruddin Djoko Surjono mengatakan sastra adalah denyut nadi kemanusiaan.

Di dalamnya tersimpan suara-suara yang tak selalu terdengar di ruang fornal, kegelisahan, luka  harapan, dan cinta.Melalui sastra, kisah-kisah ibu termasuk mereka yang menghadapi bencana tidak tenggelam menjadi angka statistik  tetapi hidup sebagai cerita, ingatan dan pelajaran kemanusiaan.

"Untuk itu saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) yang secara konsisten merawat sastra sebagai ruang keberpihakan, ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan terus dijaga dan disuarakan," katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir , lanjutnya, ruang sastra telah menjadi mitra dialog kebijakan, tempat nilai perlindungan, kasih, dan keberpihakan disuarakan secara manusiawi.

Dari satu antologi ke antologi berikutnya hingga "Kepak Sayap Bunda" hari ini kehadiran pemerintah tidak tampil sebagai pengarah, melainkan sebagai pendengar dan penguat yang membuka ruang agar sastra turut menjadi bagian dari upaya menjaga masa depan anak-anak indonesia. 

"Kekuatan buku antoligi puisi dan cerpen ini juga terletak pada kebersamaan suara.Sekitar 190 penyair dan 90 cerpenis dari berbagai penjuru nusantara telah menyatukan rasa dan kepedulian.Ini menunjukkan bahwa sastra indonesia hidup dan peka hadir untuk menyentuh persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia ," ucapnya.

Buku antologi puisi dan cerpen Kepak Sayap Bunda "Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah" mengajarkan kita bahwa perlindungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekuasaan atau suara keras  melainkan melalui ketenangan, kehadiran, dan keteladanan.

"Dari ketenangan seorang ibu, lahir keberanian seorang anak.Dari pelukan yang tulus,tumbuh daya tahan menghadapi masalah," pungkasnya.

Parade Baca Puisi 

Dalam diskusi sastra -yang diselingi baca puisi dalam rangka Hari Ibu 2025- nara sumber (Pembicara) Reza Indragiri, Master Psikolog Forensik menyinggung soal data dari SIMFONI-PPA (Juli 2025) yang menyebutkan  tercatat ada 15.615 kasus kekerasan kepada anak yang mayoritas berusia 13-17 tahun. Ironisnya terjadi di.lingkungan rumah tangga yang harusnya menjadi ruang aman dan nyaman.

" Sebagian besar anak yang jadi korban kekerasan tidak akan menjadi pelaku.Namun bisa dipastikan sebagian besar anak yang men jadi pelaku sesungguhnya akan menjadi korban.Anak merah putih tidak takut masalah , posisi mereka menjadi tidak takut lada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kanan.Dengan harapan takut pada masalah karena kita sorot dari pintu sebelah kiri,"pungkasnya.

Parade baca puisi-didahului dengan musikalisasi puisi.oleh gitaris Rinidiyanti Ayahbi- berturut-turut tampil Fanny Jonathans Poyk, Kurnia Effendi, Halimah Munawir, Nurhayati, Indar, Jamal Rahman Iroth berpasangan dengan puteranya Arung Larik Pramudya Rahman (7tahun) dari Bolangmongondow, Sulut ,  Farinnisa, dan Ferlynda Natasya Andreana.

Ikut hadir sebagai tamu acara sastra tersebut antara lain  Penyair dan Sastrawan seperti Imam Ma'arif, Remmy Novaris DM, Pulo Lasman Simanjuntak, Giyanto Subagio, Erwan Juhara, Shobir Poer,Nuyang J, Arieg Joko Wicaksono, dan masih banyak lagi.(Lasman Simanjuntak)

Senin, 15 Desember 2025

Pdt.Tonggo Tua Hutagaol : Saatnya Sekarang Sebarkan Kasih Allah kepada Semua Manusia

JAKARTA- "Saatnya sekarang, terutama menjelang tutup tahun 2025 untuk sebarkan Kasih Allah kepada semua manusia  tanpa melihat apa agamanya," ujar Pendeta Tonggo Tua Hutagaol dari Gereja Pentakosta Indonesia (GPI) Sidang Setu.

Dalam wawancara khusus disela-sela acara 'Pelayanan Kasih' jelang hari Natal (25 Desember 2025)  -bersama warga masyarakat pinggiran -di sekitar kawasan Kampung Melayu-Jatinegara, Jakarta Timur, .Minggu siang (14/12/2025), Pdt.Tonggo Tua Hutagaol mengatakan siapa lagi yang dapat sebarkan Kasih Allah kepada mereka, warga masyarakat pinggiran (marjinal).

"Mereka datang kemari untuk mendapatkan Pelayanan Kasih dengan berbyanyi, berdoa, serta mendengarkan Firman Tuhan yang tadi telah disampaikan Pdt.Debora Manurung.
Warga yang datang sekitar 60 sampai 70 orang ini ada yang berprofesi sebagai pemulung, pengamen, pengepul, tukang pemungut sampah, juru parkir, bahkan pengangguran sekalipun," ucapnya.

Dalam wawancara yang didampingi Liva Situmorang dari Yayasan Hope Center Jakarta, pendeta yang 'ramah' ini menghimbau harus ada gerakan hati nurani dari kita semua untuk lebih peduli lagi membantu masyarakat prasejahtera yang tinggal di sekitar kita.

"Harus ada hati nurani untuk perhatian kepada orang-orang di sekitar kita.Sebab siapa lagi yang akan memperhatikan mereka, kalau bukan kita-kita ini debagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.Sebab bukan ha nya kita yang menperoleh keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus , tetapi juga semua manusia," pungkasnya. 

Acara Pelayanan Kasih yang sangat sederhana - dipimpin Pdt.Debora Manurung -berlangsung di Aula Camp 160 Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Diselenggarakan secara "lesehan" hanya gelar tikar plastik tanpa duduk di atas bangku.Firman Tuhan yang disampaikan juga sangat sederhana dan bersahaja, sambil menyanyikan beberapa lagu tema Natal dan ditutup dengan doa.(Lasman)

Minggu, 14 Desember 2025

Wakil Menteri Veronica Tan akan Hadir Sebagai Pembicara Dalam Peluncuran Buku Antologi Puisi dan Cerpen ' Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah'

JAKARTA- Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( PPPA) Veronica Tan akan hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara sastra peluncuran buku antologi puisi dan cerpen bertema "Kepak Sayap Bunda Anak Merah Putih  Tidak Takut Masalah ".

 Bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI)  di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Gedung Panjang Ali Sadikin Lantai 4 di Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Senin siang (22/12/2025).

Demikian dikatakan oleh Octavianus Masheka , Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) kepada wartawan di Jakarta, Senin pagi (15/12/2025).

Menurutnya, pada  2021,Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati (Bintang Puspayoga) memberikan kata sambutan dalam buku antologi puisi bersama "93 Penyair Membaca Ibu".

Sedangkan pada 2024,Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan memberikan kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama 96 Penyair membaca ibu "Ibu Aku Anakmu".

"Dan kembali di tahun 2025 ini Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Veronica Tan memberikan Kata sambutan untuk buku antologi puisi bersama " Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah".

"Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak,Veronica Tan, atas peran sertanya yang sangat besar terhadap penerbitan buku.Ini adalah sebuah bukti bahwa Kementerian PPPA mempunyai perhatian yang besar terhadap permasalahan ibu dan anak yang diekspresikan dalam karya sastra," ujar Bung Octa-panggilan akrabnya-melalui saluran telepon seluler.

Kepada  sekitar 190 penyair -dari berbagai daerah di Indonesia - yang ikut berkontribusi mengirim naskah puisi serta sekitar 90 cerpenis mengirim karyanya di dalam buku antologi  puisi dan cerpen ini menandakan bahwa bpenyair dan cerpenis,mempunyai perhatian kepada permasalahan ibu dan anak.

"Kami juga ucapkan banyak terima kasih
 kepada,Dyah N Kusuma,Erndra Acha,sebagai panitia penerima naskah. Kemudian kepada kurator Andi Mahrus,Fanny Jonathan Poyk,Kurnia Effendi,dan Sofyan RH Zaid.Sekali lagi kami ucapkan terima kasih," pungkasnya. 

Para Pembaca Puisi 

Dalam acara sastra bersama TISI -di ujung akhir tahun 2025 ini- akan tampil pula pembicara Reza Indragiri, dan sambutan Nasruddin Djoko Surjono (Kadispusip DKI) dengan moderator acara Swary Utami Dewi.

Sementara para pembaca puisi antara lain Nunung Noor El Niel (Bali), Rissa Churria (Bekasi), Fanny Jonathans Poyk (Depok), Jamal  Rahman Iroth (Bolaang Mongondow Sulut), Farin Nisa (Yogjakarta), Indar (Jakarta), Nurhayati (Bekasi), Ferlynda Natasya Andreana (Jakarta), Kurnia Effendi (Jakarta) serta Rinidi Yanti Ayahbi (Depok).

Sebagai kata penutup ,dikutip puisi berjudul:

SEPI 22

Karya Octavianus Masheka

ibu,
membaca dirimu
adalah membaca bentangan sejarah cinta kasih sayang tak bertepi
bagai gelora laut biru dalam tak terukur
bagai sepoi angin menyapa tiada henti

kesetiaan
merawat dan membesarkan
hingga tumbuh berkembang
adalah wujud janjimu
walau sakit duri kehidupan
menghadirkan nanah dan luka darah
menyakiti jiwa raga
kau tetap tegar melangkah 

tak lekang karena panas
tak lapuk karena hujan
abadi sepanjang masa

sepi
beri aku air
pembasuh kaki ibu
aku minum
sebagai anggur kesejukan jiwa

Tangerang,16.11.21.
(Lasman Simanjuntak)

Sabtu, 06 Desember 2025

Seasons of Grace, Pameran Seni oleh Oliver Wihardja di Mezanin Katedral Jakarta29 November 2025 — 4 Januari 2026

JAKARTA- Seasons of Grace, pameran terbaru karya seniman Indonesia Oliver Wihardja, dibuka di Mezanin Katedral Jakarta mulai 29 November 2025 hingga 4 Januari 2026. 

Pameran ini menampilkan 17 lukisan yang merefleksikan tema iman, ciptaan, dan kehadiran rahmat Ilahi sepanjang perjalanan tahun liturgi.

Kalender Renungan Rohani

Mengisi sayap kiri mezanin, pameran ini mempersembahkan 14 lukisan yang dipilih sebagai karya resmi untuk Kalender Katedral Jakarta 2026. 

Setiap lukisan dipilih karena pesan khusus yang selaras dengan bulan yang diwakilinya,mengajak umat memasuki musim doa, perenungan, dan pertumbuhan rohani.

Salah satu karya yang ditampilkan secara khusus menggambarkan ajaran sosial gereja ke- 5, Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta th 2026: Keutuhan Alam Ciptaan — sebuah ajakan menuju pertobatan ekologis, pelestarian lingkungan, dan komitmen untuk menyembuhkan kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia.

Koleksi Kelahiran Yesus di Pusat Mezanin

Di area mezanin tengah, pengunjung dapat melihat tiga lukisan yang menggambarkan Kelahiran Yesus Kristus. 

Karya-karya ini dipamerkan berdampingan dengan figur-figur Kelahiran (Nativity) milik Katedral, yang merupakan koleksi bersejarah setua usia katedral itu sendiri (dibangun pada tahun 1901). 

Lukisan dan patung tersebut bersama-sama menciptakan ruang kontemplatif yang merayakan misteri Inkarnasi.

Tentang Seniman

Oliver Wihardja adalah seniman asal Jakarta yang dikenal melalui penggunaan warna yang ekspresif, kedalaman spiritual, serta kemampuan menerjemahkan tema-tema Kitab Suci ke dalam karya yang hangat dan mudah dihayati. 

Karyanya telah dikoleksi oleh gereja, institusi, serta kolektor pribadi di berbagai kota di Indonesia. 

Seasons of Grace menjadi kolaborasi terbarunya dengan Katedral Jakarta, melanjutkan dedikasinya menghadirkan seni yang menguatkan dan mengundang perenungan.


Informasi untuk pengunjung adalah sebagai berikut ;
Lokasi di Mezanin, Katedral Jakarta, mulai tanggal 29 November 2025  sampai dengan 4 Januari 2026.Tiket masuk gratis untuk umum.

Sedangkan jam kunjungan yaitu  Senin–Jumat mulai pukil 10.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB serta pukul  14.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB .Sabtu mulai pukul  10.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB, sedangkan hari Minggu
tutup.(Lasman)


Rabu, 03 Desember 2025

Buku Berjudul " Serat Panji Pudhak Lelana " Karya Naufal Anggito Yudhistira dan Proses Kreatifnya

JAKARTA- Buku berjudul “Serat Panji Pudhak Lelana” adalah salah satu karya Naufal Anggito Yudhistira yang berupa roman Panji dengan bahasa Jawa dan ditulis dalam tembang macapat. 

Karya ini menceritakan kisah perjalanan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Karya ini mengangkat cerita tentang Panji yang berkelana hingga negeri Tumasik dan Dewi Sekaartaji yang menyamar sebagai laki-laki bernama Pudhaklelana. 

"Keduanya adalah kekasih yang sudah dijodohkan sejak masih belia, namun terpisah mengikuti perjalanan takdir. Mereka saling menemukan, lalu kembali terpisah," cerita Naufal Anggito Yudhistira dalam keterangan tertulis disampaikan Rabu (3/12/2025).

Bahkan, lanjutnya, Panji Asmarabangun sempat tertimpa petaka menjadi ikan gabus putih. Akhir petualangan cinta mereka adalah bersatunya kembali Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. 

Perkenalan dengan Cerita Panji

Perkenalan Naufal Anggito Yudhistira dengan cerita Panji tidak lain bermula dari dongeng dan cerita rakyat yang biasa dibacakan oleh neneknya, seperti cerita Keong Mas dan Cindhe Laras. 

Kisah Panji juga dikenalnya dari VCD pertunjukan Kethoprak dengan judul Kirun Edan Bagyo dadi Ratu, yang bersumber dari cerita Panji Angreni. Walaupun pada masa lalu cerita Panji sangat populer dalam budaya Jawa, namun di abad ke-21 sudah tidak loagi populer. 

Hal ini yang membuat cerita Panji tidak cukup berbekas dalam benak Naufal Anggito Yudhistira. Hal ini cukup berbeda dengan epos besar Ramayana, Mahabarata, dan Damarwulan yang masih dikenalnya dengan cukup akrab karena terkait dengan lakon pertunjukan. 

Di dalam seni pertunjukan, tari-tari bercerita Panji sebetulnya tidak merupakan hal yang asing bagi Naufal Anggito Yudhistira. Tari seperti Bugis Kembar, Handaga Bugis, Topeng Gunungsari, Klana Topeng, Karonsih, dan lain sebagainya sudah sering disaksikannya sejak kecil. Bahkan, tari Klana Topeng menjadi salah satu tari putra gagah gaya Surakarta kesukaannya ketika masa SD-SMP. 

Walaupun sudah terpapar dengan tari-tari bernuansa Panji di masa kecilnya, kesadaran dan kecintaannya tentang cerita Panji belum tumbuh hingga berkuliah. 

Ketertarikan Naufal Anggito Yudhistira pada cerita Panji muncul setelah mengikuti Seminar Internasional Panji-Inao di Perpustakaan Nasional saat masih menjadi mahasiswa tingkat 1 di Prodi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa Universitas Indonesia.

 Dari sana, muncul suatu keinginan untuk mempelajari sastra dan pertunjukan berbasis cerita Panji. Salah satu bacaan penting yang membawanya masuk lebih dalam ke dalam dunia Panji adalah tesis dari dosennya, yaitu Bapak Karsono H Saputra. 

Selain itu buku berjudul “Tjeritera Pandji dalam Perbandingan” karya Poerbatjaraka menjadi pintu masuknya ke dalam kajian Panji. 

Dari proses pengenalan itu, Naufal Anggito Yudhistira makin menyelami kekayaan sastra dan pernaskahan Panji. Hal ini pula yang membawanya mengenal berbagai teks sastra Panji yang muncul dari tradisi Pesisiran dan Keraton-keraton Jawa. Selain itu, ketertarikannya kian berkembang setelah mengenal pertunjukan wayang gedhog. 

Proses Anulad Kawi Radya

Salah satu cara belajar yang dilakukan Naufal Anggito Yudhistira untuk menambah wawasannya adalah dengan membaca dan menyalin karya-karya sastra Jawa klasik dengan aksara Jawa.

 Selain itu, Naufal Anggito Yudhistira juga perlahan-lahan mulai mencoba menggubah karyaa sastra berbentuk tembang macapat sejak S1. Karya-karya itu kebanyakan belum terbit. 

Salah satu karya tulisannya yang sudah diterbitkan adalah “Serat Panji Pudhak Lelana”. Proses belajar semacam itu memang termasuk aneh. 

" Walau begitu, saya terus cara belajar dengan menyalin dan menggubah karya sastra berbentuk tembang macapat itu merupakan cara yang sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman sastra dan bahasa Jawa," katanya lagi.

Mengapa muncul keinginan bagi Naufal Anggito Yudhistiraa untuk menyalin berbagai serat dan menggubah berbagai serat baru? Hal ini tidak lain adalah keinginan untuk menguasai kesusastraan Jawa sebagaimana mestinya. 

Menguasai kesusastraan Jawa tidak bisa dilaakukan dengan cara modern. Penguasaan kesusastraan Jawa juga berarti menguasai baca-tulis aksara Jawa, menguasai tembang, menguasai keragaman gaya bahasa, dan kebudayaannya. 

Kesadaran perlunya melestarikan kemampuan “kapujanggan” tidak hadir begitu saja. Orang Jawa selalu bangga dan lantang menyebut Ranggawarsita sebagai pujangga wekasa/pujangga pamungkas ‘pujangga penutup’. 

Mengapa orang Jawa justru bangga? Bukankah dengan demikian maka orang Jawa mengamini “kematian” dari keilmuannya? Pujangga bukan sekedar sastrawan, namun juga cendekiawan. 

Bahkan, dahulu pujangga acap kali masuk dalam jajaran paranpara nata ‘penasehat-lembaga pertimbangan raja’ di keraton-keraton Jawa. 

Dalam tradisi kepujanggaan Jawa, seorang pujangga tidak serta-merta dipandang seperti “pujangga” atau “sastrawan” dalam sudut pandang sastra Indonesia moder. Pujangga harus memiliki kemampuan dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa Kuna, kemahiran-penguasaan berbagai tembang, menguasai seni musik, berprilaku baik, berwawasan luas, mahir berbagai keterampilaan, menguasai berbagai pengetahuan, bahkan mampu menguasai berbagai aspek kasat mata dan tidak kasat mata. 

Hal itu menjadi kehebatan para pujangga terdahulu, seperti yang dimiliki Yasadipura I, Yasadipura II, Ranggawarsita, Sindusastra, Pangeran Karang Gayam, Mangkunegara IV, Pakubuwana IV, Nyi Sastrawanudya, dan lain sebagainya. 

Walaupun hampir mustahil menguasai kesusastraan Jawa sebagaimana para pujangga terdahulu, namun upaya belajar dengan menyalin dan menggubah serat adalah upaya mendekat dan menapaki pengetahuan dari para pujangga yang berhasil sampai pada generasi ini. 

"Proses ini boleh dikatakan sebagai upaya aniru-niru kawi radya ‘meniru para pujangga keraton’. Dengan begitu, pengetahuan sastra Jawa tidak akan ditafsirkan, diwariskan, dan dikembangkan dengan serampangan. Namun demikian, pengetahuan itu dapat dipahami dengan mendekati kedalaman rasa di dalamnya," ujar Naufal Anggito Yudhistira, Kandidat Doktor Ilmu Susastra pada Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini.

Keinginaan untuk menulis karya-karya sastra baru dilakukan cukup tertatih-tatih. Kesulitan dalam merangkai kata-kata menjadi selaras dengan keindahan bahasa sekaligus patokan tembang menjadi suatu tantangan tersendiri. 

Hal ini tentu menjadi upaya menghasilkan karya yang halus dan mendalam. Walaupun “Serat Panji Pudhak Lelana” bukan merupakan karya roman berbahasa Jawa terbaik yang dibuat Naufal Anggito Yudhistira, namun karya ini adalah titik tolak bagi Naufal Anggito Yudhistira untuk mencoba menulis karya panjang dengan langsung menembangkannya tanpa membuka rumus patokan tembang. 

Ancangaan untuk Masa Depan

Serat Panji Pudhak Lelana itu menjadi salah satu titik tolak bagi Naufal Anggito Yudhistira dalam menulis karya berbahasa Jawa dan bertembang macapat dalam bentuk roman. 

Dari segi bahasa, tampak adanya kesederhanaan pilihan kata. Baginya, karya ini menjadi titik tolak untuk mengenal cerita Panji lebih dalam lagi. Karya-karyanya terkait Panji tidak hanya dalam bentuk penelitian dan penggubahan karya, namun juga penggarapan seni pertunjukan.

 Di bidang penelitian ilmiah, ketertarikannya pada cerita Panji berkembang hingga membawanya lulus S2 dengan kajian filologi pada teks Panji Jayalengkara Angreni yang digubah dalam tradisi Keraton Surakarta. 
Dalam penelitian ilmiah, Panji telah diteliti olehnya  dalam ranah filologi, sstra, dan kesenian. 

Selain Panji Jayalengkara Angreni,  ia juga sudah pernah menerbitkan suntingan teks Panji Kuda Narawangsa versi panjaang di dalam penerbitan naskah Perpustakaan Nasional RI. Ketertarikannya pada cerita Panji itu pula yang membawanya melanjutkan studi S3 di prodi Ilmu Susastra Universitas Indonesia.

 Penelitian yang diangkat terkait dengan tari Bedhaya Gandrungmanis, salah satu karya tari gubahan Pakubuwana VIII yang mengambil cerita Panji Jayakusuma. 

Panji yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya itu tentu sangat berkesan bagi Naufal Anggito Yudhistira. Ada satu kalimat penting dari Bapak Karsono H Saputra yang amat membekas bagi Naufal Anggito Yudhistira.

 Beliau berkata, kalau Panji jadi warisan budaya dunia, lalu apa yang diwarisi Indonesia?” Kalimat ini sungguh berkesan, sebab pengakuan Panji sebagai warisan budaya  dunia tentu perlu ditanggapi dengan amat bijak. 

"Panji sebagai warisan budaya Indonesia, harusnya tidak hanya selesai dalam gelaran-gelaran seremoni saja, namun perlu untuk dikembangkan. Tentu pengembangan itu mengikuti cara yang berbeda-beda bagi tiap pegiatnya," pungkasnya.( Lasman Simanjuntak)

Minggu, 23 November 2025

OPINI : Proses Kreatif Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Dalam Menulis Karya Puisi di 23 Media Cetak dan di 282 Media Online

Proses kreatif menulis karya puisi Penyair 'lansia'  Pulo Lasman Simanjuntak (64 tahun) memang cukup panjang.

Dimulai pada tahun 1980-an ketika masih duduk di bangku SMA dan sangat produktif menulis puisi ketika menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta) sampai hari ini.

"Menulis puisi memang tak pernah mati.Inspirasi dalam menulis puisi bisa datang dimana saja. Termasuk ketika saya berada di tepi lahan atau liang  kuburan saat melakukan pelayanan sebagai rohaniawan ," ujarnya ketika dihubungi di Jakarta, Senin pagi (24/11/2025).

"Setiap pagi saya selalu berdoa memohon agar Tuhan senantiasa memberikan akal budi, hikmat, roh rendah hati dan roh kecerdasan dalam menulis puisi. Selain itu agar Tuhan juga  memberkati karya sastra atau puisi saya supaya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat sastra di Indonesia dan masyarakat sastra di seluruh dunia kalau perlu bisa dibaca sampai benua antartika," pungkasnya.

Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya, 20 Juni 1961.Menempuh pendidikan di
Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta).

Belajar sastra secara otodidak.Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977. 

Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 (untuk media cetak)  sajak-sajaknya mulai dimuat  di Majalah Keluarga, Dewi, Hai, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), SKM.Simponi, SKM.Inti Jaya, SKM.Dialog, HU.Bhirawa (Surabaya), Koran Media Cakra Bangsa, dan masih banyak lagi, nyaris tembus dimuat pada 23 media cetak.

Selanjutnya karya puisinya dimuat (dipublish/tayang pada media online/website)  seperti di Majalah Habatak Online, negerikertas.com, Harian Umum Utusan Borneo, Sabah (Malaysia) , Portal Sastra Litera.co.id, ayosekolah.com, KABNews.id, bicaranetwork.com, brainly.co.id, wallpaperspeed.id, majalahsuluh.com, sudutkerlip.com,myberitaraya.blogspot.com, beritarayaonline.co.id,kompasiana.com, antaranews.com, kliktimes.com, suarakrajan.com, widku.com,  literanesia.com ,  hariandialog.com,  bisnistoday.co.id, sepenuhnya.com,  ruangpekerjaseni.com,  majalah digital Apajake, matamata.co, borobudurwriters.id,  majalah digital Elipsis,  cakradunia.co,  narasipos.com,  potretonline.com,  indonesiana.id, spektrum-ntt.com,  spektrumnasional.com, majalah bulanan Jurnal Pemuisi (Malaysia),  haluankita.com,   agapetanpabatas.com,  lopocogito.blogspot.com,  kibrispdr.org, Jurdik.id,  yz.dhafi.link, s
 pronusantara.com,  penakota.id.

Karya puisinya juga telah dimuat (dipublish) di media online  harianhaluan.id,  id.beritayahoo.com,  koranpelita.com,  poskota.co,  sabahtaim.com (kinabalu, sabah, malaysia),  rumahliterasisumenep.org,  gunem.id,  koran Suara Sarawak, Kuching, Malaysia,  website ubahlaku.id,  riausastra.com,  lamanriau.com,  menara62.com,  blog.akunda.net,  bambangkariyawan.blogspot.com,  greatfon.com, tirastimes.com, kebumenupdate.com,  jakarta.suaramerdeka.com, omong-omong.com,  mbludus.com, 
Majalah Digital Semesta Seni,  kapitanews.id,  Majalah Digital Mutiara Banten,  rembukan.com,  idestra.site,  ompiompi.com,   pustakaekspresi.com,  humaniora.id,  sinartabagsel.web.id,  Harian Umum Nusa Bali, portalnusa.id,  indopos.co.id,  madrimpos.com,  harianterbit.co, pcnupati.or.id, website mutiara-banten.com,  nolesa.com,  obamaklik.id,  tanpabatas.art, captwapri.id, maca.web.id,  genmilenial.id,  jemparing.info,  jlcadventist.org,  awinswriting.com,  bengkelnarasi.com, banuaminang.co.id, pipietsenja.com  pustakakabanti.wordpress.com,  lintasnewsmedia.id, kasatmata.co.id,  lampungmediaonline.com,  parahyangan-post.com,  fokuspantura.com,  trasberita.com, mediaintijaya.com,  timesasianews.com, orbitindonesia.com, beritabali.com, jurnalis.co.id, poskota.co,  timor-media.com, pab-indonesia.co.id,  triknews.co, beritabuana.co,  indonesiamaritimenews.com, koranbernas.id, lintasgayo.co, mpginews.id, beritasenator.com,  pelita.co.id , kosadata.com , metrum.co.id, mimbarumum.co.id, suarapembaharuan.com , jumpaonline.com ,  mediabanten.com,  anjangsana.id  , mutiara-banten.my.id, detik24jam.com ,  investigasi86.com,  jurnalposmedia.com,  persadapost.com, ipmalmizan.com , berita-cendana.com di Kupang NTT dan berandanegeri.com, radarbojonegoro.jawapos.com, porosindonesia.com, id.pinterest.com, jatimsatunews.com , balipolitika.com,  koranterbit.id , republika.co.id , dan milenianews.com , edukasi-ri.com , dan imbcnews.com, berita5.co.id , pajajarannews.com ,  medianetral.com, buktipetunjuk.id,  jedadulu.com,  newsnesia.id, islamdigest.co.id,  larissa.co.id ,  suarabanyuurip.com, amanmakmur.com ,  linkpapua.com,  kupasmerdeka.com,  kerincitime.co.id,  radarhukum.id (Batam)  era-pos.com di Pemalang ,  mjnews.id di Kota Padang, beritajabar.news ,  radigfaculture.online,  lensamagetan.com, radarjatim.co ,  beritanusra.com di Kupang NTT,  vakansiinfo.com, metroposkota.com, indonesia.shafaqna.com,  smpislamalishlahbukittinggi.sch.id,  suarabaru.id ,  jendelapuspita.com,  greenberita.com di Kab.Samosir ,  madurapers.com,  suryapapua.com di Merauke Papua Selatan ,  linkedin.com,  betawipos.com, pojoktim.com,  jambidaily.com,  citraindonesiaonline.id  shalokalindonesia.com,  handalonline.com, rubrik sastra lembata.pikiran-rakyat.com Larantuka Flores Timur ,  portalsatu.com,  thepapuajournal.com di Nabire Papua, soearamoeria.com, serta buol.pikiran-rakyat.com atau butolpos Toli-Toli Sulteng, porosindonesia.id,  fokusborneo.com,  awnews.id , rakyatjelata.com, radarmaluku.com ,  halimunsalaka.com, nusantarainsight.com,  memoonline.co.id , satuju.com, zonanusantara.com ,  limadetik.com, digtara.com,  okenusra.com,  suarapinggiran.com, mandarnesia.com,  faktakhatulistiwa.id ,  beritamerdekaonline.com serta beritabaru.co , matalensa.news, zulfikritvtvvchannel.com, wideazone.com, the8news.com, kabarhiburan.id , ragamsumbar.com, tangerangterbit.com, pojokliterasi.online, indonesiaterbit.asia, medium.com, arabaru.com , 7detik.com, suarapecari.com, allqausha.com, suaraperubahan.id , imperium.id, sambar.id , infoliputan.com,  infojejama.news,  inspirasinusantara.id, hadanihad.blogspot.com , juangnews.com, 
 ririsatria.id, posberitakota.com, alonesia.com ,  wartatransparansi.com, cintapustaka.com, wartajabar.net,  beritajateng.net, sorotmerahputih.com, ayonusa.com ,  koranlombok.id, gobekasi.id,  beritakeadilan.com, buserbhayangkara-74.com, jelajahnusantara.co.id, voicejava.com, sigi24.com, hatipena.com, media-tujuh-empat.com , sinarpagi.news,  updateterkini.id, infocyber.id, mediabudayaindonesia.com, serta rodajurnalis.com, cahayamanado.com, kambanews.id , elegannews.com , globalaktual.com , harianumum.com,  megapolitannews.com ,  serga.id, pisausastra.com, kbanews.com, pratamamedia.com , timeslines.id , 
 fin.co.id dan indotipikor.com, pinterest.com, portalkawasan.com,  insertrakyat.com,  banggaikece.id,  ritarita.cinta.blogspot.com ,  golagongkreatif.com, derapkalimantan.com ,  sorotmakasar.com, pedomanrakyat.co, tintariau.com , porosnusantara.com  satupenasumbar.id, bangunpiaman.com, silungga.web.id,  kapatanews.com, ambonpekanews.com , dan tabloidseleberita.com , jaya-news.com, sumatrazone.co.id , lintasjatimnews.com, bungasetara.com , beritadisdik.com  klikrealita.com , sitinjausumbarnews.com, dan terakhir pada Senin 24 November 2025 karya puisinya dipublish pada website  mudamudi.com , sehingga total berjumlah 282 media online/website serta majalah digital di Indonesia dan Malaysia.

Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit “Traumatik”(1997), “Kalah atau Menang” (1997), “Taman Getsemani”(2016), "Bercumbu Dengan Hujan ” (2021), "Tidur Di Ranjang Petir" (2021),  " Mata Elang Menabrak Karang" (2021), "Rumah Terbelah Dua " (2021).Pada saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul MEDITASI BATU.
Sajaknya juga termuat dalam 50  Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia. 

Beberapa karya puisinya juga telah diterjemahkan (dialihaksarakan) kepada penulisan aksara Arab Melayu,  bahasa Inggris dan Tagalog (Filipina).Selain itu karya puisinya juga telah disebar sampai Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam,  Bangladesh, India, dan negara  Republik Demokratik Timor Leste.

Pada Minggu 18 September 2022 puisinya berjudul POHON ITU KESUNYIAN atau THE TREE WAS SILENT mendapat sertifikat keunggulan dari GLOBAL POETRY FORUM karena dinilai puisi tersebut luar biasa.

Namanya juga telah masuk dalam Buku Pintar Sastra Indonesia Halaman 185-186 diterbitkan oleh Kompas (PT.Kompas Media Nusantara) cetakan ketiga tahun 2001 dengan Editor Pamusuk Eneste, serta Buku Apa & Siapa Penyair Indonesia halaman 451 diterbitkan oleh Yayasan Puisi Indonesia dengan Editor Maman S Mahayana dan Kurator Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, dan Hasan Aspahani. Dan, di ujung akhir tahun 2023 namanya juga masuk dalam buku Direktori Penulis Indonesia 2023 pada halaman 271.

Pada tahun 2021 mendapat piagam dan medali  penghargaan SETYA SASTRA  NAGARI (30 tahun Kesetiaan Sastra Indonesia) oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dengan kurator Rg.Bagus Warsono.

Dan, pada bln Juni dan Juli 2022 berturut-turut karya puisinya memperoleh juara III dan juara II Puisi Pilihan Terbaik oleh Komunitas Sastra SNW ( Sastra Nusa Widhita).Pada Kamis 10 November 2022 karya puisinya berjudul RITUAL AIR TANAH memperoleh penghargaan sebagai PUISI TERBAIK 1 (juara pertama) pilihan admin Komunitas Sastra SNW (Sastra Nusa Widhita). Puisinya berjudul DARI BENUA LAIN terpilih sebagai 200 Puisi Pilihan  Lomba Cipta Puisi Group Facebook Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2022, dan diterbitkan dalam buku antologi puisi berjudul PUISI DI TANAH CAHAYA (Maret 2023).

Diundang secara khusus melalui Penyair Nanang R Supriyatin untuk membacakan puisi karya sendiri berjudul KAPAL INDUK OLENG  dalam acara Sastra & Budaya SENJA BERPUISI  ke-13 di Selasar Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) pada bln November 2022, serta membaca puisi berjudul DRAMA SEHARI dalam acara sastra "Ngopi Sore Tempo, Sastra, Kata, dan Media" di Cafetaria Planetarium PKJ TIM pada bln Oktober 2022.

Kemudian pada Rabu, 12 Juli 2023 diundang khusus  untuk membaca puisi karya sendiri berjudul KALAH ATAU MENANG serta DRAMA SEHARI  dalam acara SASTRA REBOAN episode ke-16 di PDS.HB.Jassin, TIM, Jakarta.
Pada Minggu sore (15 Oktober 2023)  diundang oleh Rissa Churria untuk baca satu puisi karya sendiri pada Parade Baca Puisi  ulangtahun (ultah) ketiga Jagat Sastra Milenia (JSM) bertempat di Cafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta Timur.Selanjutnya pada Rabu (25/10/2023)  kembali diundang membaca puisi karya sendiri berjudul TRAUMATIK pada acara SASTRA REBOAN di PDS HB.Jassin, TIM, Jakarta.Diundang parade baca puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA karya Nuyang Jaimee di Rooftop Pasar Gembrong Baru, Jakarta Timur, Selasa, 19 Desember 2023.

Juga pernah diwawancara khusus (live)  sekaligus baca satu puisi karya sendiri berjudul KALAH ATAU MENANG di Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Jakarta. 

Selain itu sering diundang Komunitas Sastra (acara sastra) untuk melakukan liputan seni & budaya di Teater Kecil , Teater Besar,  khususnya di Pusat Dokumentasi Sastra HB.Jassin (PDS) di TIM Jakarta sepanjang tahun 2022 sampai Oktober  tahun 2025.
Pada Jumat, 23 Juni 2023 diundang sebagai peserta (penyair) pada  diskusi sastra MEJA PANJANG oleh Dapur Sastra Jakarta (DSJ) di lantai 5 Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, TIM, Jakarta.

Pada Kamis (6 April 2023) memenangkan Lomba Menulis Dadakan (posisi nomer 4) yang bertemakan " Pengakuan Mengapa Menjadi Penyair " diselenggarakan oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia dengan juri tunggal Penyair Wawan Hamzah Arfan.

Saat ini tercatat sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ) , Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Senja Berpuisi, Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Sastra Nusa Widhita (SNW),  anggota Sastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) , Bengkel Deklamasi Jakarta, Forum Sastra ASEAN, Sastra Indonesia-ASEAN, Berita Sastra Asean, Kampung Seni Jakarta, Penikmat Seni Budaya, Sastra Indonesia Baik Saja,  anggota Sastra Reboan , Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

Pernah bekerja sebagai wartawan Skm.Angkatan Baru,  Majalah Varia Nada, Aneka Ria,  Info, Spionita, Caraka, majalah Monalisa, Harian Umum Sinar Pagi, Harian Umum Mandala (Bandung pada perwakilan di Jakarta),  Redaktur Pelaksana Suratkabar Dialog (Jakarta), dan Pemimpin Redaksi eMaritim.com.Pada saat ini sebagai Pemimpin Redaksi beritarayaonline.co.id, myberitaraya.blogspot.com, serta berita raya tv pada channel youtube, Pemimpin Redaksi harianterbit.news, dan Redaktur Pelaksana sinarpagi.news 

Karya  jurnalistik-nya banyak tersebar di HU.Suara Karya, HU.Berita Yudha, HU.Pelita, HU.Ekonomi Neraca, Jawa Pos Group, HU.Media Indonesia, HU.Berita Kota, HU.Warta Kota, Majalah Tempo, Koran Tempo, HU.Pikiran Rakyat, HU.Banten Raya, HU.Radar Tangerang, dan masih banyak lagi.
Anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, DKI Jakarta,  No.Anggota 09.00.0782.12 dan pemegang Sertifikasi Kompetensi Wartawan  (No.ID 4358) Dewan Pers jenjang Wartawan Madya.

Dikenal juga sebagai rohaniawan atau pelayan gereja dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Jatinegara Jaktim dengan jabatan terakhir sebagai Ketua Jemaat. 

Sebelumnya pernah menjabat sebagai Diakon, Guru Sekolah Sabat (SS), Pemimpin Departemen Pelmas, Departemen Sekolah Sabat, Humas dan Kebebasan Beragama, Roh Nubuat, Pelayanan Perorangan (PP), Departemen atau Sekretaris  Komunikasi, Sekretaris PP, dan Ketua Deparmen Diakon.

Selain di GMAHK Jatinegara, juga melakukan pelayanan di Jakarta Local Conference (JLC- Konference DKI Jakarta & sekitarnya) sebagai pembicara dalam acara Communication Festival (Seminar Departemen Komunikasi) dengan judul MENULIS BERITA MENGGUNAKAN TEORI 5 W+ 1 H DAN PIRAMIDA TERBALIK" pada Minggu 7 Agustus 2022.

Serta sebagai pembawa Firman Tuhan (Khotbah) pada Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)  Hybrid GMAHK Wilayah VII (terdiri dari 9 gereja advent dan 3 cabang sekolah sabat) berjudul HIDUP BERSAMA YESUS DI SURGA bertempat di GMAHK Rawamangun, Jaktim, pada Kamis 13 Oktober 2022.
Sebelumnya selama bertahun-tahun menulis berita (liputan) kegiatan gereja advent untuk Majalah MAHKOTA di bawah pengelolaan Komunikasi Konference DKI Jakarta & sekitarnya.

Email      : pulo_lasman@yahoo.com
Medsos  :  Lasman Simanjuntak (FB & IG) 
                    Bro (FB).Lasman TV dan Berita
                    Raya TV (Youtube).
HP       : 0823-1571-9299 (WA) 

Penulis  : Stanley Arsenova Lubis ,  adalah mahasiswa semester terakhir jurusan pendidikan bahasa Inggris  Universitas Indraprasta (Unindra-Jakarta)

Sosok Inspiratif : Giyanto Subagio, Penyair 'Bersepeda' Dari Kemayoran

JAKARTA-Setiap individu, memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda, unik, dan menarik. Bahkan Inspiratif. 

Demikian halnya, dengan seorang putra Jakarta, dari Kemayoran, Jakarta pusat, Giyanto Subagio, atau lebih dikenal dengan nama ‘Edo’.

Di Kalangan seniman, ia dijuluki sebagai penyair bersepeda, lantaran untuk menyanggah volume aktivitasnya di dalam berkarya di ruang sastra, ia menggunakan alat transportasi roda dua, sepeda. 

Tidak mengenal pagi, siang, dan sore, bahkan di malam hari pun, ia menggunakan sepeda. 

Sepeda yang digunakannya adalah bukan sepeda yang wah, dan mewah, melainkan sepedanya biasa, sudah lama dan kusam. 

Pada roda bannya pun sudah mengelupas, seperti seorang yang sudah memasuki usia senja, rambutnya berubah menjadi putih, lemah (tidak kokoh), dan rontok.

Pemenang lomba Puisi di Kementerian Lingkungan Hidup- sekitar tahun 1990 an dengan hadiah uangnya yang relatif besar ini- tidak dinikmatinya sendiri, dan digunakan untuk berfoya foya (konsumeris dan hedonis).

 Uang hadiah itu, digunakan untuk seperlunya, selebihnya dibagikan untuk rekan- rekan seniman dekatnya, termasuk membantu kawannya, untuk mengurangi biaya persalinan istrinya, di rumah sakit. 

Tingkat solidaritas, pertemanan, dan kepercayaannya, begitu sangat tinggi, dan dipegang teguh dalam bersikap di ruang apapun, termasuk di dalam ruang kesenian, khususnya ruang sastra.

SEPEDA SIMBOLIK

Sepeda tidak dimaknainya hanya sebagai alat transportasi. Tetapi juga ia, sudah dimaknainya sebagai kekuatan simbolis.

 Yakni, mitra perjalanan spiritualnya dalam membangun kekaryaan.

 Rinai hujan dan sengatan terik matahari, serta polusi kendaraan adalah suatu hal yang mengakrabi kehidupannya dalam beraktivitas.

 Bagi dirinya, dunia luar bukanlah suatu halangan untuk merefleksikan kekuatan makna jiwa dan spiritualnya. 

Bukankah Marcus Aurelius, raja Romawi, pernah membuat sabda kekuasaannya, bahwa kecerdasan, kesehatan, dan seterusnya, adalah suatu hal yang bersifat insidentil, dan bukan substantial.

Selain kedua kakinya, alat transformasi manusia yang alami, sepeda sebagai produk teknologi modern itu, lumayan sangat membantu dirinya untuk meringankan beban aktivitasnya dalam ruang kreatif, berkesenian, terutama sastra. 

Dengan menggunakan sepeda ia mampu membawa beras dari rumah ke tempat ruang kreatif, di Senen, Jakarta pusat.

 Setidaknya, setiap bulan ia membawa beras untuk dikonsumsi para kawan kawannya untuk dikonsumsi secara bersama. 

Sementara lauknya, disediakan oleh seorang kawan lainnya. 

Pola swadaya dalam berkesenian dan persaudaraan itu, terlihat jelas dalam kehidupan seniman di Senen, di era tahun 1990 an itu. 

Rasa persaudaraan, rasa memiliki, dan rasa tanggung jawab berusaha dihadirkan di dalam setiap ruangnya.

MENTAYA DAN KOPS.

Komunitas Mentaya Estetika dan Komunitas Planet Senen, adalah dua komunitas yang berbeda, tetapi memiliki nuansa yang sama.

 Sama- sama memiliki kepentingan untuk memberdayakan ruang publik menjadi ruang budaya. 

Para personil Komunitas Mentaya dan Komunitas Planet Senen, adalah hampir identik. 

Antara lain, terdiri dari : Aspur Azhar (almarhum), Giyanto, Imam, Aswin, Ipoer, Ujang GB (almarhum), Antonius, Aghan, Yoko, Tio, dan Zaelani (personil Komunitas Sastra Mentaya Estetika).

 Sementara untuk Komunitas Planet Senen. Antara lain: Irmansyah, Imam, Giyanto, Aswin, Ipoer, Sinung, Ipoer, Dion, dan lainnya.

Kegiatan seni dan budaya di Senen itu, berhasil menghadirkan suatu kekuatan gravitasi tersendiri di Jakarta, bahkan mungkin nasional, setelah tenggelam hanya sebagai situs seni dan budaya di masa Chairil Anwar, Bing Slamet, Misbach, dan seterusnya.

 Kop’S, kembali berusaha menghidupkannya, dengan menghadirkan kembali tokoh -tokohnya, seperti Misbach, Harmoko, Deddy Mizwar. 

Dan mereka menyatakan secara terbuka dan ekspilisi, turut mendukung kegiatan Komunitas Planet Senen, dalam bentuk orasi politik, seni dan budaya. Bahkan membantu secara material.

Lagi lagi Giyanto Subagio, atau Edo, tingkat ketulusan dan keinginan kuatnya untuk menghidupi ruang kesenian, tidak perlu di pertanyakan. 

Jika terkait dengan kepentingan publik, Giyanto, berusaha selalu terdepan.

 Beliau tidak hanya dikenal sebagai seorang seniman, melainkan ia juga aktif di ruang pemberdayaan sosial (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri/PNPM), dan menjadi Ketua RW.

Tak memilih posisi dan jabatan. Apalagi kekayaan. Kini, Giyanto Subagio, aktif di ruang kesenian, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta pusat, dan anggota FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat), di wilayah Kecamatan Kemayoran, Jakarta pusat. 

Jika kapitalis berbicara, tiada hari tanpa Teh Sosro, maka hal itu pun bisa disematkan pada seorang Giyanto Subagio: Tiada ruang publik tanpa Giyanto Subagio.(Lasman Simanjuntak)


Minggu, 02 November 2025

KESRA : Ibadah Sederhana Warga Pinggiran Kota Megapolitan di Kawasan Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur

JAKARTA- Kebaktian berupa ibadah 'sederhana'  berlangsung di sebuah ruang (aula) Camp 160 di Jalan Raya Jatinegara Barat ,Jakarta Timur, pada Minggu siang (2/11/2025) bersama sejumlah warga masyarakat pinggiran kota megapolitan.

Dengan duduk (lesehan)- hanya beralaskan tikar plastik- sejumlah warga masyarakat pria, wanita, bahkan anak-anak  sangat antusias dan bersahaja mengikuti ibadah yang didahului dengan sejumlah lagu-lagu pujian.

Tiga orang pelayan Tuhan -dari beberapa denominasi gereja- langsung memimpin pelayanan ibadah yang sangat 'sederhana' ini .
Mereka duduk dengan tertib-dan serius mendengar renungan Firman Tuhan yang disampaikan dengan narasi dan bahasa yang mudah ditangkap warga masyarakat pinggiran kota megapolitan.

Teristimewa bagi masyarakat pinggiran yang datang- bahkan dengan sandal jepit dan pakaian lusuh- namun sangat bersahaja.

"Tubuh boleh binasa  tetapi roh dan jiwa tak akan mati.Roh kita diberi makanan rohani yanh akan membawa kita kepada keselamatan," ujar seorang pelayan Tuhan bernama Sarah yang juga membawakan renungan singkat.

"Tubuh akan ditanam dan dikubur ketika kita mati.Bahkan jasad ini akan hancur.Namun, walaupun tubuh dan  jasad hancur, roh akan tetap hidup.Kita mau hidup bersama Tuhan, bukan hanya menerima makanan jasmani  tetapi juga makanan rohani," katanya lagi
sambil menutup dengan kutipan Alkitab dalam Matius 11 : 28 "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu."

Pada kesempatan tersebut pembicara lainnya yang juga seorang wanita- dengan media tulisan spidol hitam di atas lembaran kertas- berbicara mengenai Tuhan adalah Pencipta yang sangat kita muliakan. 

Bahkan seperti mengutip Firman Tuhan dalam Yeremia 29 : 11 "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera , dan bukan rancangan kecelakaan , untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." 

Ibadah diakhiri dengan nyanyian pujian penutup, dan doa syafaat, serta diberikan bingkisan (konsumsi) untuk makan siang bagi warga yang hadir siang itu.(Lasman)


Rabu, 29 Oktober 2025

Peringatan Sumpah Pemuda 2025, YAPENA Gaungkan Kembali Semangat Persatuan dan Integritas Kalangan Generasi Muda

Jakarta, myberitaraya.blogspot.com-  Seluruh komponen bangsa Indonesia baru saja  memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97. Peringatan bersejarah yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober ini.

Menjadi momentum bagi YAPENA (YAYASAN PENGAWAL ETIKA NUSANTARA)
menggaungkan kembali semangat persatuan dan integritas di kalangan generasi muda.
Mengusung tema "Membangun Generasi Muda yang Tangguh dan Berintegritas dengan 

Semangat Sumpah Pemuda untuk Indonesia Emas 2045", YAPENA menyerukan 
kepada seluruh pemuda-pemudi di Tanah Air untuk menjadi agen perubahan yang kokoh 
karakternya dan luhur budinya.

Semangat Sumpah Pemuda Abadi Menuju Indonesia Emas

Founder YAPENA Sri rastiti Merdeka Wati (mantan wartawati senior Tempo)
menyatakan bahwa tantangan ke depan, terutama dalam menyongsong visi Indonesia Emas  2045, membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan.

"Sumpah Pemuda 1928 adalah monumen sejarah yang mengajarkan kita tentang arti 
persatuan di atas segala perbedaan. Kini, di tengah disrupsi teknologi dan kompleksitas 
global, semangat tersebut harus kita lengkapi dengan ketangguhan mental dan integritas  moral. Generasi muda adalah pewaris cita-cita bangsa, dan hanya dengan integritas yang kuat kita dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang adil, makmur, dan berdaulat," ujar Bu Titik
Fokus pada Ketangguhan dan Integritas
YAPENA menyoroti dua pilar utama yang harus dimiliki oleh pemuda Indonesia:
• Ketangguhan (Resiliensi): Kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, beradaptasi 
dengan perubahan, dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan, termasuk isu 
lingkungan, ekonomi, dan sosial.
• Integritas (Moralitas): Konsistensi antara perkataan dan perbuatan, menjunjung 
tinggi kejujuran, anti-korupsi, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan.
YAPENA menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan telah dan akan diselenggarakan untuk 
memperingati Hari Sumpah Pemuda, termasuk [Sebutkan 1-2 kegiatan utama, contoh: 
webinar kepemimpinan, bakti sosial, atau deklarasi anti-narkoba] yang berfokus pada 
penguatan karakter pemuda.

 Ajakan Kolaborasi dan Aksi Nyata
Peringatan ini bukan hanya seremonial, melainkan panggilan untuk aksi nyata. YAPEANA]
mengajak:

1. Pemerintah dan Swasta: Untuk menciptakan ekosistem yang mendukung 
pengembangan kompetensi, integritas, dan lapangan kerja bagi pemuda.
2. Organisasi Kepemudaan: Untuk merangkul keberagaman dan memperkuat 
kolaborasi lintas daerah dan sektor.
3. Setiap Individu Pemuda: Untuk memulai perubahan dari diri sendiri, dengan 
disiplin, berani menyuarakan kebenaran, dan bertanggung jawab terhadap masa depan 
bangsa.

Peran Pemerintah dan Instansi Swasta sebagai lembaga Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas sangat krusial dalam mempersiapkan generasi muda disabilitas agar dapat berkontribusi penuh dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Rehabilitasi sosial bertujuan mengembalikan dan memulihkan fungsi sosial penyandang 
disabilitas sehingga mereka mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dan mandiri dalam masyarakat.

Berikut adalah peranan utama dari Pemerintah dan Instansi Swasta:
 Peran Pemerintah (Regulator, Fasilitator, dan Pelaksana.

Pemerintah, sesuai Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, 
memiliki peran sebagai penanggung jawab utama. Peran ini diwujudkan melalui:
1. Regulator dan Pembuat Kebijakan Inklusif:
Menetapkan Standar dan Aturan: Membuat dan menegakkan peraturan (seperti 
Peraturan Menteri Sosial) mengenai standar pelayanan minimum (SPM) dan mutu 
rehabilitasi sosial yang harus dipatuhi oleh semua lembaga, baik publik maupun 
swasta.

Mandat Kuota Kerja: Mewajibkan instansi pemerintah dan BUMN 
menyediakan kuota minimal 2% bagi penyandang disabilitas, serta perusahaan 
swasta minimal 1% dari jumlah pekerja.
2. Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial (ATENSI):
Penyediaan Sentra/Balai: Mengoperasikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di 
bawah Kementerian Sosial (seperti Balai Rehabilitasi Sosial) untuk 
menyelenggarakan program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang 
terpadu.

Layanan Komprehensif: Menyediakan layanan rehabilitasi yang meliputi:
Terapi: Fisik, mental, sosial, dan psikososial. Bimbingan Vokasional: Pelatihan keterampilan kerja yang relevan 
dengan kebutuhan pasar (contoh: digital, menjahit, kuliner).
Dukungan Hidup Layak: Pemberian bantuan alat bantu, kebutuhan 
dasar, dan dukungan keluarga.

3. Anggaran dan Bantuan Sosial:
Alokasi Anggaran: Menyediakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara/Daerah (APBN/APBD) untuk program rehabilitasi, pemberdayaan, dan 
jaminan sosial bagi penyandang disabilitas.
Bantuan Langsung: Memberikan bantuan sosial reguler (seperti Program 
Keluarga Harapan/PKH bagi komponen disabilitas) dan bantuan alat bantu.

4. Penguatan Kelembagaan:
Memberikan dukungan, pelatihan, dan pendampingan kepada Lembaga 
Kesejahteraan Sosial Penyandang Disabilitas (LKSPD) yang dikelola masyarakat.
Peran Instansi Swasta (Aktor Pemberdayaan dan Inklusi)
Instansi swasta (perusahaan, yayasan, dan organisasi nirlaba) adalah mitra strategis yang 
berperan dalam integrasi penyandang disabilitas ke dalam dunia kerja dan masyarakat luas:

1. Penyediaan Lapangan Kerja Inklusif:
Pemenuhan Kuota: Mematuhi UU dengan menyediakan kuota 1% tenaga kerja 
disabilitas.
Penciptaan Lingkungan Kerja Ramah Disabilitas: Melakukan penyesuaian 
yang wajar (reasonable accommodation) pada fasilitas, teknologi, dan kebijakan 
perusahaan agar dapat diakses dan digunakan oleh pekerja disabilitas.

2. Pelatihan Vokasional dan Kewirausahaan:
Program CSR/Kemitraan: Mengembangkan program Corporate Social 
Responsibility (CSR) yang berfokus pada pelatihan vokasional khusus, magang, 
dan pendampingan kewirausahaan bagi pemuda disabilitas.
Transfer Ilmu: Berbagi keahlian dan teknologi industri kepada lembaga 
rehabilitasi sosial untuk memastikan pelatihan yang diberikan sesuai dengan 
permintaan pasar kerja.

3. Peningkatan Aksesibilitas Publik:Infrastruktur: Membangun fasilitas umum (gedung, transportasi, layanan digital) 
yang aksesibel bagi semua jenis disabilitas, jauh melampaui standar minimum 
yang ditetapkan pemerintah.

Produk dan Layanan: Menciptakan produk dan layanan yang inklusif, misalnya 
aplikasi dengan fitur aksesibilitas yang baik.
4. Penghilangan Stigma dan Promosi Inklusi:
Menggunakan media dan platform perusahaan untuk mengampanyekan 
kesetaraan dan penghargaan terhadap potensi penyandang disabilitas, 
membantu proses resosialisasi dan menghilangkan stigma di masyarakat.

 Kontribusi untuk Generasi Emas 2045
Melalui peran bersama ini, rehabilitasi sosial menjadi investasi jangka panjang untuk 
Indonesia Emas 2045 dengan dampak sebagai berikut:
1. Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Memastikan bahwa seluruh 
potensi sumber daya manusia, termasuk penyandang disabilitas, tidak tertinggal dan 
dapat berpartisipasi penuh dalam pembangunan ekonomi dan sosial.
2. Menciptakan Kemandirian Ekonomi: Penyandang disabilitas yang menerima 
rehabilitasi vokasional dan diserap pasar kerja akan berubah status dari penerima 
bantuan menjadi kontributor pajak dan ekonomi produktif.
3. Memperkuat Inklusi Sosial: Membentuk masyarakat yang lebih peduli, empatik, 
dan inklusif, yang merupakan fondasi penting bagi stabilitas sosial dan persatuan 
bangsa dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Dengan bersatu dalam tekad dan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda—
satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa—generasi muda Indonesia optimis dapat 
menuntun bangsa menuju gerbang kejayaan.(Lasman)

Selasa, 28 Oktober 2025

Pertunjukan Langen Mataya Bedhayan Gandrungmanis di Perpustakaan Nasional Berjalan Sukses, Reaktualisasi Tari Berdasarkan Naskah Kuno

JAKARTA- Pertunjukan bertajuk “Langen Mataya Bedhayan Gandrungmanis” adalah suatu pentas yang mengusung semangat revitalisasi dan penggalian tari Jawa klasik gaya Surakarta. 

Pada pementasan yang telah berlangsung di ruang serbaguna lantai 4 Gedung Baru Perpustakaan Nasional di Jln.Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu siang (26/10/2025) disajikan tari Bedhaya Gandrungmanis yang didasari pada proses penelitian disertasi Naufal Anggito Yudhistira di Universitas Indonesia terkait Bedhaya Gandrungmanis yang telah punah. 

Pementasan ini melibatkan berbagai penari dan pengrawit muda yang berdomisili di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Pementasan ini menjadi bagian dari upaya penelitian lapangan sekaligus mewujudkan salah satu kekayaan tari klasik gaya Surakarta yang telah hilang," ujar kandidat Doktor Naufal Anggito Yudhistira  di Jakarta, Selasa pagi (28/10/2025).

Tari Bedhaya Gandrungmanis -yang telah dipentaskan pada tanggal 26 Oktober 2025 ini- digali berdasarkan keterangan berbagai naskah kuno. 

"Teks sindhenan yang dinyanyikan diambil dari 6 naskah kuno berbeda koleksi Keraton Surakarta, Perpustakaan Pusat UI, dan Pura Mangkunegaran," kata Naufal Anggito Yudhistira, yang sedang mengambil program doktoral ilmu susastera Fakultas Ilmu Budaya universitas Indonesia (UI) ini.

Adapun gerakan tari Bedhaya Gandrungmanis dirangkai kembali berdasarkan Serat Ater-ater Beksa Badhaya tuwin Sarimpi dan keterangan lisan dari GKR Wandansari Koes Moertiyah. 

Pertunjukan yang Utuh

Berbagai sumber yang telah dikumpulkan turut diramu dan disesuaikan agar menjadi suatu pertunjukan yang utuh. Bedhaya Gandrungmanis dalam pementasan ini disajikan dengan durasi sekitar 40 menit menggunakan properti pistol.

Bedhaya Gandrungmanis dibusanai dengan dodot klembrehan bermotif Semen Latar Ukel dengan warna coklat kayu. 

Kain samparan yang digunakan penari memakai motif Parang Parikesit yang cenderung berwarna putih gading. 

Penari memakai sampur atau selendang berwarna kuning keemasan. Busana yang digunakan berpadu dengan perhiasan bernuansa keemasan yang anggun dan sederhana.
 Busana yang digunakan ini dipadukan dengan maksud menghasilkan suasana agung, anggun, kalem, sekaligus serba manis. 

Koreografi dari Bedhaya Gandrungmanis cenderung menghadirkan gerakan stilistik-abstrak yang selaras dengan suasana musiknya.

Sepanjang tarian, tampak suasana musik dan gerak didominasi nuansa syahdu, anggun, romantis, sekaligus agung. 

Tari yang dibagi dalam dua babak ini diawali dengan prosesi masuknya penari atau yang disebut dengan kapang-kapang.

 Bagian ini diiringi dengan Pathetan Wantah Pelog Barang. Babak pertama memuat berbagai gerakan pakem Bedhaya sebagaimana tari Bedhaya lain, seperti gerak sembahan, nikel warti, laras, pendhapan asta, manglung, jeplak-jeplak, dan lain sebagainya. 

Babak pertama ini diiringi dengan komposisi Gendhing Gandrungmanis dan Ladrang Kuwung.

 Babak kedua tari Bedhaya Gandrungmanis memuat berbagai adegan penting seperti perang dengan senjata pistol dan koreografi batak moncol.

 Koreografi batak moncol ini memuat gerakan khas yang disebut laras nangis. Bagian ini diiringi dengan komposisi Ketawang Playon yang bernuansa agung, haru, sekaligus romantis. 

Penutup dari Bedhaya Gandrungmanis dibesut ulang dengan gerakan kapang-kapang memakai kipas dengan iringan Ladrang Bima Kurdha. (Lasman)